<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352</id><updated>2012-02-10T21:31:44.058-08:00</updated><title type='text'>MAKTABAH ISLAMIYAH</title><subtitle type='html'>BERIKANLAH KAMI PETUNJUK YANG LURUS

اهدنا الصرا ط المستقيم</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>329</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-6242779232506783796</id><published>2010-07-25T15:49:00.001-07:00</published><updated>2010-07-25T15:49:58.371-07:00</updated><title type='text'>Siapakah Ahlul-Kitaab ?</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abu Al-Jauzaa' :, 05 Juli 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan mengenai Ahlul-Kitab sangatlah penting karena terdapat beberapa hukum Islam yang terkait dengan mereka. Allah ta’ala telah memberikan satu kekhususan bagi mereka yang tidak didapatkan oleh kaum yang lain, seperti : kebolehan menikahi wanita mereka, kebolehan memakan sembelihan mereka, dan yang lainnya. Oleh karena itu, di sini akan saya tuliskan beberapa point penting yang terkait dengan mereka.&lt;br /&gt;Ahlul-Kitab Termasuk Orang-Orang Kafir&lt;br /&gt;Meskipun Islam memberikan beberapa kekhususan bagi mereka, namun hal itu tidak menjadikan mereka masuk dalam lingkaran iman dan Islam. Bara’ah kita kepada mereka tetap berlaku sebagaimana bara’ah itu juga berlaku kepada orang-orang kafir secara umum. Itu harus menjadi keyakinan segenap orang yang mengaku Rabb-nya adalah Allah dan Nabinya adalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata” [QS. Al-Bayyinah : 1].&lt;br /&gt;مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ&lt;br /&gt;“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar” [QS. Al-Baqarah : 105].&lt;br /&gt;Yahudi dan Nashrani Termasuk Ahlul-Kitaab&lt;br /&gt;Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Yahudi dan Nashrani termasuk Ahlul-Kitaab. &lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 146].&lt;br /&gt;Mengomentari ayat di atas, Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;يقول جل ثناؤه: وإنّ طائفةً من الذين أوتوا الكتاب -وهُمُ اليهود والنصارى. وكان مجاهد يقول: هم أهل الكتاب.&lt;br /&gt;“Allah yang Maha Agung dan Terpuji berfirman : ‘Dan sesungguhnya golongan yang telah diberikan Al-Kitaab’ – mereka adalah Yahudi dan Nashrani. Mujaahid berkata : ‘Mereka (Yahudi dan Nashrani) adalah Ahlul-Kitaab” [Tafsir Ath-Thabariy, 3/188, tahqiq : Ahmad Syaakir; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1420].&lt;br /&gt;Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;وأهل الكتاب الذين هذا حكمهم، هم أهل التوراة والإنجيل. قال الله تعالى : (أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا). فأهل التوراة اليهود والسامرة، وأهل الإنجيل النصارى، ومن وافقهم في أصل دينهم من الإِفْرِنْج والأَرْمَن وغيرهم&lt;br /&gt;“Dan yang dimaksud dengan Ahlul-Kitab adalah ahlut-taurah dan ahlul-injiil. Allah ta’ala berfirman : ‘(Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami’ (QS. Al-An’aam : 156). Maka, ahlut-taurah adalah Yahudi dan Saamirah, sedangkan ahlul-injiil adalah Nashaara dan yang berkesesuaian dengan pokok agama mereka, seperti kelompok Ifrij, Arman, dan yang lainnya” [Al-Mugniy, 9/546, tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul-Muhsin At-Turkiy &amp; Dr. ‘Abdul-Fattaah bin Muhammad Al-Huluw; Daar ‘Aalamil-Kutub, 3/1417].&lt;br /&gt;Apakah Majusi Termasuk Ahlul-Kitaab ?&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat mengenai mereka. Jumhur ulama mengatakan mereka bukan termasuk Ahlul-Kitaab. Ibnu Qudaamah rahimahullah kembali berkata :&lt;br /&gt;وليس للمجوس كتاب، ولا تحل ذبائحهم، ولا نكاح نسائهم. نص عليه أحمد. وهو قول عامة العلماء، إلا أبا ثور، فإنه أباح ذلك؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ)). ولأنه يُرْوى أن حذيفة تزوج مجوسية. ولأنهم يقرون بالجزية. فأشبهوا اليهود والنصارى. ولنا، قول الله تعالى : (وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ). وقوله : (وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ). فرخص من ذلك في أهل الكتاب...&lt;br /&gt;“Orang-orang Majusi tidaklah mempunyai Kitaab (sehingga bisa disebut Ahlul-Kitaab). Tidak halal sembelihan dan wanita mereka. Hal itu telah dikatakan oleh Ahmad, dan itulah pendapat jumhur ulama – kecuali Abu Tsaur. Ia (Abu Tsaur) telah membolehkan hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab’. Juga karena telah diriwayatkan bahwasannya Hudzaifah pernah menikahi wanita Majusi. Juga karena telah ditetapkan pungutan jizyah pada mereka dimana hal ini menyerupai Yahudi dan Nashrani. Adapun kami, (berdalil dengan) firman Allah ta’ala : ‘Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik’ dan juga firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir’. Maka Allah memberikan keringanan atas hal itu pada wanita Ahlul-Kitaab ….” [Al-Mughniy, 9/547].&lt;br /&gt;Yang raajih dalam hal ini adalah pendapat jumhur ulama.&lt;br /&gt;Hadits yang dimaksudkan oleh Abu Tsaur adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ذَكَرَ الْمَجُوسَ فَقَالَ مَا أَدْرِي كَيْفَ أَصْنَعُ فِي أَمْرِهِمْ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ&lt;br /&gt;Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab menyebut-nyebut tentang orang Majusi. Ia berkata : "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap mereka". Lantas ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : "Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab".&lt;br /&gt;Hadits ini hasan li-ghairihi.[1] Akan tetapi, yang dimaksudkan di sini adalah khusus perlakuan dalam pemungutan jizyah – bukan selainnya.&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ بَجَالَةَ التَّمِيمِيِّ قَالَ لَمْ يُرِدْ عُمَرُ أَنْ يَأْخُذَ الْجِزْيَةَ مِنْ الْمَجُوسِ حَتَّى شَهِدَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مِنْ مَجُوسِ هَجَرَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Diinaar, dari Bajaalah At-Tamiimiy, ia berkata : “’Umar tidak ingin memungut jizyah dari orang-orang Majusi, hingga ‘Abdurrahman bin 'Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/194; shahih].[2]&lt;br /&gt;Terdapat riwayat mursal shahih bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memungut jizyah dari orang Majusi Hajar, namun melarang untuk menikahi wanita mereka dan memakan sembelihan mereka.[3] Al-Baihaqiy rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;هذا مرسل وإجماع أكثر المسلمين عليه يؤكده ولا يصح ما روى عن حذيفة في نكاح مجوسية.&lt;br /&gt;“Hadits ini mursal, dan ijma’ kebanyakan kaum muslimin terhadapnya (haramnya memakan sembelihan dan menikahi wanita-wanita Majusi) menguatkannya. Tidak shahih riwayat pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusi” [As-Sunan Al-Kubraa, 9/192].&lt;br /&gt;Ini menunjukkan orang-orang Majusi bukan termasuk golongan Ahlul-Kitaab.&lt;br /&gt;Perhatikan pula riwayat berikut :&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عِمْرَانَ الْقَطَّانِ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ أَهْلَ فَارِسَ لَمَّا مَاتَ نَبِيُّهُمْ كَتَبَ لَهُمْ إِبْلِيسُ الْمَجُوسِيَّةَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bilaal, dari ‘Imraan Al-Qaththaan, dari Abu Jamrah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Persia ketika nabi mereka wafat, maka Iblis menuliskan untuk mereka agama Majusi” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3042; dihasankan oleh Al-Albaaniy].[4] &lt;br /&gt;Atsar Ibnu ‘Abbaas di atas menunjukkan bahwa agama Majusiy bukan agama samawiy yang turun melalui perantara seorang Nabi dan Rasul.&lt;br /&gt;Mengenai pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusiy, Ibnu Qudaamah berkata :&lt;br /&gt;ولم يثبت أن حذيفة تزوج مجوسية، وضعف أحمد رواية من روى عن حذيفة أنه تزوج مجوسية. وقال : أبو وائل يقول : تزوج يهودية. وهو أوثق ممن روى عنه أنه تزوج مجوسية. وقال ابن سيرين : كانت امرأة حذيفة نصرانية. ومع تعارض الروايات لا يثبت حكم إحداهن إلا بترجيح، على أنه لو يثبت ذلك عن حذيفة، فلا يجوز الاحتجاج به مع مخالفته الكتاب وقول سائر العلماء.&lt;br /&gt;“Tidak shahih riwayat Hudzaifah menikahi wanita Majusi. Ahmad telah mendla’ifkan riwayat dari Hudzaifah bahwasannya ia menikahi wanita Majusi. Ia (Ahmad) berkata : Abu Waail berkata : ‘(Hudzaifah) menikahi wanita Yahudi’. Riwayat ini lebih shahih dari orang yang meriwayatkan darinya menikahi wanita Majusi’. Ibnu Siiriin berkata : ‘Istri Hudzaifah adalah seorang wanita Nashrani’. Dengan adanya pertentangan beberapa riwayat hal ini, maka tidak sah hukum salah satu di antaranya kecuali dengan jalan tarjih. Seandainya saja pernikahan dengan wanita Majusi itu shahih dari Hudzaifah, tetap tidak boleh berhujjah dengan karena menyelisihi Al-Qur’an dan perkataan seluruh ulama” [Al-Mughniy, 9/548].&lt;br /&gt;Telah lewat perkataan Al-Baihaqiy atas kelemahan riwayat pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusi. Adapun riwayat pernikahannya dengan wanita Yahudi, maka ini shahih.&lt;br /&gt;حدثنا عبد الله بن إدريس عن الصلت بن بهرام عن شقيق قال : تزوج حذيفة يهودية فكتب إليه عمر أن خل سبيلها ، فكتب إليه : إن كانت حراما خليت سبيلها ، فكتب إليه : إني لا أزعم أنها حرام ولكني أخاف أن يعاطوا المومسات منهن .&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idriis, dari Ash-Shalt bin Bahraam, dari Syaqiiq, ia berkata : Hudzaifah pernah menikahi wanita Yahudi. (Mengetahui hal tersebut), ‘Umar menuliskan surat kepadanya agar ia menceraikannya. Hudzaifah membalas suratnya dengan berkata : ‘Apabila hal itu diharamkan, aku pasti akan menceraikannya’. ‘Umar kembali membalasnya : ‘Sesungguhnya aku tidak mengatakan hal itu diharamkan. Akan tetapi aku khawatir engkau akan wanita pelacur di antara mereka’ [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 9/85 no. 16417; sanadnya shahih].[5]&lt;br /&gt;Apakah Shaabi’uun Termasuk Ahlul-Kitaab ?&lt;br /&gt;Para ulama pun berbeda pendapat mengenai mereka. Ibnu Qudaamah rahimahullaah berkata :&lt;br /&gt;وأما الصابئون، فاختلف فيهم السلف كثيرا، فَرُوِيَ عن أحمد أنهم جنس من النصارى، ونص عليه الشافعي، وعلق القول فيهم موضع آخر. وعن أحمد أنه قال : بلغني أنهم يسبتون، فهؤلاء إذا يشبهون اليهود. الصحيح فيهم أنهم إن كانوا يوافقون النصارى أو اليهود في أصل دينهم، ويخالفون في فروعه، فهم ممن وافقوه، وإن خالفوهم في أصل الدين، فليس هم منهم. والله أعلم. &lt;br /&gt;“Adapun golongan Shaabi’uun, salaf banyak berselisih pendapat tentangnya. Diriwayatkan dari Ahmad bahwasannya mereka termasuk golongan Nashara. Hal itu tegaskan oleh Asy-Syaafi’iy, dan ia memberikan komentar tentang mereka di tempat yang lain. Dari Ahmad bahwasannya ia berkata : ‘Telah sampai kepadaku mereka merayakan hari Sabtu. Jika demikian, maka mereka serupa dengan orang-orang Yahudi’. Yang benar, jika mereka berkesesuaian dengan Nashrani atau Yahudi dalam pokok (ushul) agama mereka namun menyelisihi dalam cabang (furu’), maka mereka termasuk golongan yang berkesesuaian dengannya (Yahudi atau Nashrani). Akan tetapi jika mereka menyelisihi Yahudi dan Nashrani dalam pokok agama mereka, maka bukan termasuk mereka, wallaahu a’lam” [Al-Mughniy, 9/547].&lt;br /&gt;As-Suddiy menguatkan mereka termasuk Ahlul-Kitaab [Tafsir Ath-Thabariy, 2/147]. Namun Mujaahid, Al-Hasan, Abu Najiih, dan Ibnu Zaid berpendapat mereka bukan termasuk Yahudi, Nashrani, ataupun Ahlul-Kitaab. [idem, 2/146]. Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat, sebab tidak ada nash yang shahih dan sharih menyatakan mereka termasuk golongan yang diberikan Al-Kitab. Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;Al-Albaaniy berkata :&lt;br /&gt;لا نعلم أهل الكتاب إلا اليهود والنصارى&lt;br /&gt;“Kami tidak mengetahui tentang Ahlul-Kitaab kecuali Yahudi dan Nashrani” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah oleh Husain bin ‘Audah, 5/108; Al-Maktabah Al-Islaamiyyah, Cet. 1/1425].&lt;br /&gt;Pendapat ini sangat kuat karena sejalan dengan firman Allah ta’ala :&lt;br /&gt;وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ * أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ&lt;br /&gt;“Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan : ‘Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca" [QS. Al-An’aam : 155-156].&lt;br /&gt;Hindu, Budha, Konghucu, dan yang Lainnya Termasuk Ahlul-Kitaab ?&lt;br /&gt;Agama-agama tersebut merupakan agama buatan manusia yang Allah ta’ala tidak pernah memberikan keterangan tentangnya. Allah ta’ala tidak pernah memberikan Kitab kepada mereka. Bahkan, mereka menyembah berhala dengan terang-terangan. Seandainya mereka termasuk Ahlul-Kitaab, niscaya Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menurunkan keterangan tentangnya.&lt;br /&gt;Pendapat yang menyatakan mereka termasuk Ahlul-Kitaab adalah pendapat yang baathil.&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam bish-shawwaab.&lt;br /&gt;[abu al-jauzaa’ al-bogoriy – rajab 1431 – perumahan ciomas permai].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]      Diriwayatkan oleh Maalik 2/669-670 no. 669, Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad no. 1773, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 11/169 no. 2751, ‘Abdurazzaaq no. 10025, Abu Ya’laa no. 862, Al-Baihaqiy 9/189-190, dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 54/269; dari jalan Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab. Sanad hadits ini munqathi’ karena Muhammad bin ‘Aliy tidak pernah bertemu ‘Umar dan juga ‘Abdurrahman bin ‘Auf [lihat : At-Tamhiid, 2/114].&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga oleh Al-Bazzaar dalam Al-Musnad 3/264-265 no. 1056 dari jalan ‘Amru bin ‘Aliy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hanafiy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik bin Anas, dari Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Umar. Abu ‘Aliy Al-Hanafiy ini adalah : ‘Ubaidullah bin ‘Abdil-Majiid Al-Hanafiy, seorang yang tsiqah. Sanad hadits ini ma’lul. Ad-Daaruquthniy berkata : “Diriwayatkan oleh Maalik; dari riwayat Abu ‘Aliy ‘Ubaidullah bin ‘Abdil-Majiid Al-Hanafiy darinya (Maalik bin Anas), dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya ‘Aliy bin Al-Husain. Ia telah diselisihi jama’ah ashhaabu Maalik dimana mereka tidak menyebutkan (dalam rantai sanadnya) : ‘dari kakeknya’. Begitu juga yang diriwayatkan oleh Ats-Tsauriy, Sulaimaan bin Bilaal, ‘Abdullah bin Idriis, Hafsh bin Ghiyaats, Anas bin ‘Iyaadl, dan Abu ‘Aashim An-Nabiil; dari Ja’far bin Muhammad - Abu ‘Aashim tidak mendengar dari Ja’far bin Muhammad selain hadits tersebut. Diriwayatkan juga oleh ‘Abdul-Wahhaab Ats-Tsaqafiy, Al-Qaasim bin Ma’n, Ibnu Juraij, ‘Aliy Ghiraab, dan yang lainnya; dari Ja’far, dari ayahnya secara mursal dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf tanpa menyebutkan dalam sanadnya ‘Aliy bin Al-Husain. Inilah yang benar” [Al-‘Ilal, 4/299, tahqiq : Dr. Mahfudhur-Rahmaan As-Salafiy; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1406]. Selain itu, ‘Aliy bin Al-Husain juga tidak pernah mendengar dari ‘Umar dan ‘Abdurahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhumaa sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abdil-Barr dan Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;Hadits ini mempunyai syaahid. Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (3/375 no. 3442), ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sahl : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim Al-Hajjaaj : Telah menceritakan kepada kami Abu Rajaa’, dari Al-A’masy, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya ‘Umar pernah bertanya tentang status orang-orang Majusi. Lalu ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : Aku bersaksi bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;المجوس طائفة من أهل الكتاب، فاحملواهم على ما تحملون عليه أهل الكتاب&lt;br /&gt;“Majusi adalah golongan dari Ahlul-Kitaab. Maka perlakukanlah/bebanilah mereka apa yang kalian perlakukan dengannya pada Ahlul-Kitaab (yaitu dalam penarikan jizyah – Abul-Jauzaa’)”.&lt;br /&gt;Al-Hasan bin Sahl mempunyai mutaba’ah dari Ibnu Abi ‘Aashim dan Al-Hasan bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Mujawwin : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Hajjaaj; selanjutnya seperti sanad di atas [lihat : Lisaanul-Miizaan, 3/487 dan Ma’rifatush-Shahaabah oleh Abu Nu’aim hal. 128 no. 497].&lt;br /&gt;Sanad hadits ini dla’iif. &lt;br /&gt;Abu Rajaa’ adalah Rauh bin Al-Musayyib At-Tamiimiy. Ibnu Ma’iin berkata : “Shuwailih”. Abu Haatim berkata : “Shaalih, tidak kuat” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/496 no. 2247]. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Bashrah yang tsiqah”. Abu Daawud berkata : “Tidak mengapa dengannya” [Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil, 1/251 no. 1282]. Ibnu Syaahiin memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat (hal. 129 no. 350). Ibnu Hibbaan berkata : “Meriwayatkan dari orang-orang tsiqah hadits palsu, membolak-balikkan sanad, memarfu’kan sanad mauquf,… tidak halal riwayat yang berasal darinya” [Al-Majruuhiin, 1/370 no. 342]. Ibnu ‘Adiy berkata : “Meriwayatkan dari Tsaabit dan Yaziid Ar-Raqqaasiy hadits-hadits yang tidak mahfuudh” [Al-Kaamil, 4/58 no. 664]. Al-Bazzaar berkata : “Tsiqah” [Lisaanul-Miizaan, 3/486-487 no. 3175]. Ibnul-Jauziy memasukkannya dalam jajaran perawi dla’iif [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun, 1/289 no. 1251]. Begitu juga dengan Adz-Dzahabiy [Al-Mughniy 1/358 no. 2149 dan Ad-Diiwaan hal. 140 no. 1436]. Kesimpulannya : Ia seorang yang tidak kuat haditsnya, terutama jika bersendirian dalam periwayatan. Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;Selain itu, Al-A’masy telah membawakan dengan ‘an’anah sedangkan ia seorang mudallis.&lt;br /&gt;Catatan : Lafadh : ‘Majusi adalah golongan dari Ahlul-Kitaab’ bukan termasuk lafadh yang dikuatkan oleh hadits sebelumnya, sehingga hukumnya tetap dla’iif.&lt;br /&gt;[2]      Riwayat Bajaalah At-Tamiimiy dari ‘Umar bin Al-Khaththaab melalui perantaraan surat ‘Umar yang datang kepadanya saat ia (Bajaalah) menjabat sekretaris Jaza’ bin Mu’aawiyyah.&lt;br /&gt;[3]      Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, ia berkata :&lt;br /&gt;حدثنا وكيع عن سفيان عن قيس بن مسلم عن الحسن بن محمد أن النبي صلى الله عليه وسلم كتب إلى مجوس أهل هجر يعرض عليهم الاسلام فمن أسلم قبل منه ومن لم يسلم ضرب عليه الجزية غير ناكحي نسائهم ولا آكلي ذبائحهم&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Qais bin Muslim, dari Al-Hasan bin Muhammad : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis kepada orang-orang Majusi Hajar menawarkan pada mereka Islam. Barangsiapa yang masuk Islam, maka diterima. Dan barangsiapa yang tidak mau, maka dikenakan kewajiban membayar jizyah, kecuali jangan menikahi wanita-wanita mereka dan memakan sembelihan-sembelihan mereka” [Al-Mushannaf, 9/118-119 no. 16581 – tahqiq : Muhammad ‘Awwaamah].&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 10028, Abu ‘Ubaid dalam Al-Amwaal no. 76, Al-Haarits bin Abi Usaamah dalam Zawaaid-nya no. 675, dan Al-Baihaqiy 9/284-285; semuanya dari jalan Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Qais bin Muslim, selanjutnya seperti hadits di atas.&lt;br /&gt;Para perawinya adalah tsiqaat, akan tetapi Al-Hasan bin Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thaalib tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mursal.&lt;br /&gt;[4]      Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy adalah seorang yang tsiqah lagi haafidh.&lt;br /&gt;Muhammad bin Bilaal Al-Kindiy, ia diperselisihkan para ulama. Abu Daawud berkata : “Tidaklah aku mendengar (tentangnya) kecuali kebaikan”. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Ibnu ‘Adiy berkata : “Haditsnya tidak banyak, aku mengharap tidak mengapa dengannya”. Al-‘Uqailiy berkata : “Orang Bashrah, banyak keliru dalam haditsnya”. Adz-Dzahabiy mengomentarinya : “Shaduuq, keliru dalam hadits sebagaimana lumrahnya orang-orang berbuat keliru”. Kesimpulan yang benar atas dirinya adalah shaduuq hasanul-hadiits.&lt;br /&gt;‘Imraan bin Daawar Al-‘Ammiy, ia diperselisihkan para ulama. ‘Abdurrahman bin Mahdiy meriwayatkan darinya dimana ini sama dengan pentautsiqan darinya. Yahyaa Al-Qaththaan memujinya. Ahmad berkata : “Aku berharap ia seorang yang shaalihul-hadiits”. Di riwayat lain : “Laisa bi-dzaaka”. Di riwayat lain : “Syaikh”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Banyak kekeliruan dan penyelisihan”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak kuat”. Al-Aajurriy berkata : “Yahyaa bin Sa’iid tidak meriwayatkan darinya, ia tidak ada apa-apanya”. Abu Daawud berkata : “Aku tidak mendengar (tentangnya) kecuali kebaikan”. Di riwayat lain ia berkata : “Lemah. Ia telah berfatwa di jaman Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Hasan dengan satu fatwa yang keras yang padanya terdapat penumpahan darah”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Di riwayat lain : “Tidak kuat”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”. Al-Bukhaariy berkata : “Shaduuq yahimu”. Ia (Al-Bukhaariy) meriwayatkan haditsnya secara mu’allaq dalam Shahih-nya. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Bashrah, tsiqah”. As-Saajiy berkata : “Shaduuq”. ‘Affaan telah mentsiqahkannya. Al-Haakim berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq yahimu”. Al-Haitsamiy berkata : “Telah ditsiqahkan”. Al-Albaaniy berkata : “Terdapat sedikit perbincangan padanya, dan haditsnya tidak turun dari tingkatan hasan”. Sebagian ulama menuduh ‘Imraan mempunyai pemikiran yang condong pada Khawarij, namun sebagian yang lain menolaknya (seperti Ibnu Hajar). &lt;br /&gt;Abu Jamrah adalah Nashr bin ‘Imraan bin ‘Ishaam; seorang yang tsiqah lagi tsabt.&lt;br /&gt;[5]      ‘Abdullah bin Idriis bin Yaziid bin ‘Abdirrahman Al-Aswad, seorang yang tsiqah, faqiih, lagi ahli ibadah.&lt;br /&gt;Shalt bin Bahraam Al-Kuufiy At-Taimiy, seorang yang tsiqah. Al-Bukhaariy berkata : “Ia mendengar riwayat dari Abu Waail (Syaqiiq), shaduuq fil-hadiits”. Abu Zur’ah menyebutkannya dalam Asaamiyyudl-Dlu’afaa’. Abu Daawud berkata : “Tsiqah”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Ibnu Hibbaan berkata : “Orang Kufah, kuat haditsnya (‘aziizul-hadiits)”. Ibnu ‘Uyainah berkata : “Orang yang paling jujur dari penduduk Kuffah”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Orang Kuffah, tsiqah”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Abu Haatim berkata : “Shaduuq, ia tidak mempunyai ‘aib, kecuali pemahaman irjaa’” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 4/438-439 no. 1920, Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 1/400 no. 1904, dan Ats-Tsiqaat 6/no. 8637].&lt;br /&gt;Syaqiiq bin Salamah Al-Asadiy, Abu Waail; seorang yang tsiqah&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-6242779232506783796?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/6242779232506783796/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=6242779232506783796' title='2 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/6242779232506783796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/6242779232506783796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/07/siapakah-ahlul-kitaab.html' title='Siapakah Ahlul-Kitaab ?'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-6487604935632314555</id><published>2010-07-20T14:46:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T14:48:05.579-07:00</updated><title type='text'>Mengolok-Olok Syari'at</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Al-Jauzaa' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya : Seringkali didapatkan sebagian muslim mengatakan pada sebagian yang lain yang menjalankan sunnah memelihara jenggot dengan ”jenggot kambing”, atau orang yang menaikkan batas celananya di atas mata kaki dengan ”kebanjiran”. Apa hukum Islam dalam hal ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab : Di antara tanda orang yang beriman adalah menetapi syari’atnya dan mengagungkannya dalam setiap sendi kehidupan. Allah ta’ala telah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [QS. Al-Hajj : 22].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sikap yang bertentangan dengan keimanan jika ada orang yang mengejek, mencemooh, dan memperolok syari’at atau orang yang melaksanakan syari’at. Para ulama menyebut sikap-sikap seperti itu dengan istilah : istihzaa’.  Sikap istihzaa’ ini merupakan sikap asli yang berasal dari orang-orang kafir. Salah satu kaum yang selalu ber-istihzaa’ terhadap Islam dan kaum muslimin adalah Yahudi. Allah telah mengabadikan sikap orang Yahudi dalam Al-Qur’an ketika mereka membuat plesetan-plesetan untuk menghina Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa`ina", tetapi katakanlah: "Undhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih [QS. Al-Baqarah : 104]. [1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istihzaa’ adalah sikap/perbuatan yang sangat berbahaya bagi seorang muslim jika melakukannya. Para ulama telah sepakat bahwa istihzaa’ merupakan dosa besar yang dapat menyebabkan kekafiran mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sejarah Islam telah mencatat bagaimana sikap kaum munafiqiin yang mengolok-olok Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan kaum muslimin yang dengan itu menyebabkan kekafiran mereka, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagaimana difirmankan Allah ta’ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ * وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)". Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. [QS. At-Taubah : 64-66].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam Tafsir-nya dan Al-Imam Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan asbabun-nuzul (sebab turunnya) ayat di atas dengan sanad tidak mengapa (la ba’sa) dari Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال رجل في غزوة تبوك، في مجلس: ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء؛ أرغب بطونا، ولا أكذب ألسنا، ولا أجبن عند اللقاء. فقال رجل في المجلس: كذبت، ولكنك منافق، لأخبرن رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، فبلغ ذلك النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ونزل القرآن. قال عبد الله بن عمر: فأنا رأيته متعلقا بحقب ناقة رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ، تنكبه الحجارة، وهو يقول: يا رسول الله إنما كنا نخوض ونلعب. ورسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ يقول: ( أ بالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majelis, berkatalah seorang laki-laki pada perang Tabuk : “Kami tidak pernah melihat seperti tamu-tamu kita ini; sangat mementingkan perut (rakus), sangat pendusta dan penakut dalam pertempuran/peperangan”.  Maka berkatalah seseorang kepadanya : “Engkau berdusta, engkau jelas munafik.  Akan aku laporkan apa yang engkau ucapkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”. Maka, sampailah ucapan tersebut kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian turunlah ayat di atas. Ibnu  Umar kemudian melanjutkan : “Maka aku lihat laki-laki tersebut bergantung di belakang unta Nabi, tersandung batu-batu, sambil berkata : ‘Ya Rasulullah, kami hanya main-main saja, tidak sungguh-sungguh”.  Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu mengolok-olok?.  Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir setelah beriman” [selesai].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Abu Bakr Al-Jashshash rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فيه الدلالة على أن اللاعب والجاد سواء في إظهار كلمة الكفر على غير وجه الإكراه. لأن هؤلاء المنافقين ذكروا أنهم قالوا ما قالوه لعبا، فأخبر الله عن كفرهم باللعب بذلك. وروى الحسن وقتادة أنهم قالوا في غزوة تبوك: أيرجو هذا الرجل أن يفتح قصور الشام وحصونها!! هيهات هيهات. فأطلع الله نبيه على ذلك. فأخبر أن هذا القول كفر منهم على أي وجه قالوا من جِد أو هزل، فدل على استواء حكم الجاد والهازل في إظهار كلمة الكفر. ودل ـ أيضا ـ على أن الاستهزاء بآيات الله، أو بشيء من شرائع دينه: كفر من فاعله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pada ayat tersebut terdapat dalil bahwa seseorang yang bermain-main atau sungguh-sungguh adalah sama kedudukannya dalam hal mengeluarkan kalimat kufur yang dilakukan dengan sengaja. Orang-orang munafik tersebut mengatakan bahwa mereka mengatakan perkataan itu hanya main-main saja. Maka Allah mengkhabarkan (kepada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam) akan kekafiran mereka atas sebab hal itu. Al-Hasan dan Qatadah meriwayatkan bahwasannya mereka (kaum munafiq) berkata dalam peperangan Tabuk : ”Apakah laki-laki ini (yaitu Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam) berangan-angan untuk membuka istana-istana Syaam beserta benteng-bentengnya ?! Sungguh sangat jauh khayalan ini”. Maka Allah menampakkan perkataan mereka kepada Nabi-Nya. Allah mengkhabarkan bahwasannya perkataan mereka itu adalah tanda kekufuran mereka, baik itu serius atau main-main saja. Ini menunjukkan bahwa dalam mengeluarkan ucapan-ucapan kufur baik serius atau main-main itu hukumnya sama. Juga menunjukkan bahwa mengolok-olok ayat-ayat Allah atau satu bagian dari syari’at agama-Nya adalah kekufuran bagi si pelaku” [selesai – Ahkaamul-Qur’an ju3 hal 142].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقوله: {قَدْ كَفَرْتُمْ } أي: قد ظهر كفركم بعد إظهاركم الإيمان؛ وهذا يدل على أن الجد واللعب في إظهار كلمة الكفر سواء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan firman-Nya : ”Sungguh karena kamu telah kafir”; yaitu tampaknya kekafiranmu setelah keimananmu. Ini menunjukkan bahwa sungguh-sungguh atau bermain-main dalam mengeluarkan kalimat kekufuran adalah sama” [Zaadul-Masiir 3/465].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Iftaa’ pernah ditanya tentang hukum orang yang mengolok-olok sebagian perkara-perkara yang disunnahkan seperti siwak, pakaian di atas mata kaki, dan minum sambil duduk; maka dijawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من استهزأ ببعض المستحبات، كالسواك، والقميص الذي لا يتجاوز نصف الساق، والقبض في الصلاة، ونحوها مما ثبت من السنن؛ فحكمه: أنه يبين له مشروعية ذلك، وأن السنة عن الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ دلت على ذلك؛ فإذا أصر على الاستهزاء بالسنن الثابتة: كفر بذلك، لأنه بهذا يكون متنقصا للرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولشرعه، والتنقص بذلك كفر أكبر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa yang mengolok-olok sebagian perkara yang disunnahkan, seperti siwak, berpakaian tidak melebihi pertengahan betis, bersedekap ketika shalat dan lainnya yang telah tetap dari Sunnah; maka hukumnya adalah : Hendaknya ia diberikan penjelasan tentang disyari’atkannya perbuatan tersebut (yang ia olok-olok). Bahwasannya Sunnah Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam menunjukkan demikian. Apabila setelah diberi penjelasan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari Sunnah yang telah tetap, (orang tersebut masih saja mengolok-olok), maka ia telah kufur. Hal itu disebabkan karena ia telah mencela dan menghujat Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam dan syari’atnya. Mencela dan menghujat yang seperti ini maka termasuk kufur akbar” [Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah lisy-Syawaarifi hal. 141-142],&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanjangkan jenggot dan menaikkan celana di atas mata kaki (tidak isbal) termasuk diantara syari’at Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam [2]. Maka tidak pantas bagi seseorang meninggalkannya, apalagi malah mengolok-oloknya. Hendaknya setiap kaum muslimin senantiasa menjaga lisannya agar tidak sampai digelincirkan oleh syaithan untuk mengucapkan kalimat-kalimat kekufuran yang akan membuatnya menyesal di dunia dan di akhirat. Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]     Tentang syari’at memanjangkan jenggot : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Pangkaslah kumis, panjangkanlah jenggot, danm selisihilah kaum Majusi” [HR. Muslim no. 260].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang syari’at mengangkat pakaian/celana/sarung di atas mata kaki :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن حذيفة قال أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بعضلة ساقي أو ساقه فقال هذا موضع الإزار فإن أبيت فأسفل فإن أبيت فلا حق للإزار في الكعبين قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Hudzaifah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memegang urat betisku”. Maka beliau bersabda : “Ini adalah batas panjang kain sarungmu. Apabila engkau enggan, maka boleh di bawahnya. Dan jika engkau enggan, maka tidak ada hak bagi kain sarung untuk melebihi mata kaki”  [HR. At-Tirmidzi no. 1783; dan beliau berkata : Ini adalah hadits hasan shahih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]     ”Raa’inaa” artinya : sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Ketika para shahabat radliyallaahu ’anhum menggunakan kata-kata ini kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, orang-orang Yahudi pun latah meniru mereka namun dengan diplesetkan untuk menghina beliau shallallaahu ’alaihi wasallam. Orang Yahudi mengatakan  : ”Ru’unah” yang artinya adalah : ketololan yang amat sangat. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan para shahabat agar mengatakan undhurnaa yang artinya sama dengan raa’inaa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di 13:16  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-6487604935632314555?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/6487604935632314555/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=6487604935632314555' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/6487604935632314555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/6487604935632314555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/07/mengolok-olok-syariat.html' title='Mengolok-Olok Syari&apos;at'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-7347911111162818417</id><published>2010-07-20T14:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T14:42:42.339-07:00</updated><title type='text'>Memperingati Upacara Perayaan Malam Nifsu Syaban</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanyalah bagi Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pengajak ke pintu taubat dan pembawa rahmat. Amma ba’du :&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا [.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله ولولا كلمة الفصل لقضي بينهم وإن الظالمين لهم عذاب أليم [.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka mempunyai sesembahan sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridloi Allah ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang dhalim itu akan memperoleh azab yang pedih” (QS. As syuro, 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah, Radliyallahu ‘anhu berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengada adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka tidak akan diterima”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat imam Muslim, Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khutbah Jum’at nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" أما بعد, فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amma ba’du : sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah Kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan (dalam agama) adalah yang diada adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu sesat” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi hadits hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya, Dia telah mencukupkan nikmatNya bagi mereka, Dia tidak akan mewafatkan Nabi Muhammad kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umatnya, dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjelaskan bahwa segala sesuatu yang akan diada adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbatkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bad’ah yang ditolak, meskipun niatnya baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Sahabat dan para Ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita dari padanya, hal itu disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang penerapan Sunnah dan pengingkaran bid’ah, seperti Ibnu Waddhoh At Thorthusyi dan As Syaamah dan lain lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya’ban (tanggal 15 sya'ban, red), dan menghususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu, padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadits-hadits yang menerangkan tentang fadlilah malam tersebut, tetapi hadits-hadits tersebut dhoif, sehingga tidak dapat dijadikan landasan, adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan sholat pada hari itu adalah maudlu /palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, banyak diantara para ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan penghususan puasa dan fadlilah sholat pada hari Nisfu Sya’ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari ucapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat para ahli Syam diantaranya Al Hafidz Ibnu Rajab dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah, dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya semuanya lemah, hadits yang lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits yang shoheh, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya’ban tidak ada dasar yang shohih, sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits-hadits yang dlo’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini, dan kami akan menukil pendapat para ulama kepada para pembaca, sehingga masalahnya menjadi jelas. Para ulama telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul (Al Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu dari padanya, maka wajib diikuti, dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah yang belum pernah disebutkan (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan, apalagi mengajak untuk mengerjakannya dan menganggapnya baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An Nisa’ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا [ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesutu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An nisa’, 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله ذلكم الله ربي عليه توكلت وإليه أنيب [ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat sifat demikian), itulah Tuhanku, KepadaNya-lah aku bertawakkal dan kepadaNya-lah aku kembali” (QS. Asy syuro, 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] قل إن كنتـم تحـبون الله فاتبعـوني يحببكـم الله ويغفر لكـم ذنوبكـم [.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu ” (QS. Ali Imran, 31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلم تسليما [.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya ” (QS. An Nisa’, 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an yang semakna dengan ayat ayat diatas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya masalah masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al Qur’an dan Al Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh keduanya. Sesungguhnya hal itu adalah konsekwensi iman, dan merupakan perbuatan baik bagi para hamba, baik di dunia atau di akherat nanti, dan akan mendapat balasan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya’ban, Ibnu Rajab berkata dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” : para Tabi'in penduduk Syam (Syiria sekarang) seperti Kholid bin Ma’daan, Makhul, Luqman bin Amir, dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfi Sya’ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil keutamaan dan bentuk pengagungan itu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya cerita-cerita israiliyat, ketika masalah itu tersebar ke penjuru dunia, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya, golongan yang menerima adalah ahli Bashrah dan lainnya, sedangkan golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas penduduk Hijaz (Saudi Arabia sekarang), seperti Atho dan Ibnu Abi Mulaikah, dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ulama fiqih Madinah, yaitu ucapan para pengikut Imam Malik dan lain lainnya ; mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid’ah, adapun pendapat ulama Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan adanya dua pendapat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya’ban dalam masjid dengan berjamaah adalah mustahab (disukai Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu Khalid bin Ma’daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar kemenyan, memakai sipat (celak), dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid, ini disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih, ia berkata : "Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara berjamaah tidak dibid’ahkan", keterangan ini dicuplik oleh Harbu Al Karmaniy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Berkumpulnya manusia pada malam Nisfi Sya’ban di masjid untuk shalat, bercerita dan berdoa adalah makruh hukumnya, tetapi boleh dilakukan jika menjalankan sholat khusus untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pendapat Auza’iy, Imam ahli Syam, sebagai ahli fiqh dan ulama mereka, Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkan pendapat Imam Ahmad tentang malam Nisfu Sya’ban ini, tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua riwayat yang menjadi sebab cenderung diperingatinya malam Nisfu Sya’ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Iedul Fitri dan Iedul Adha), dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, riwayat yang lain berpendapat bahwa memperingati malam tersebut dengan berjamaah disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk Tabi’in. Begitu pula tentang malam nisfu sya’ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan Tabiin ahli fiqh (yuris prudensi) yang di Syam (syiria), demikian maksud dari Al Hafidz Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfi Sya’ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para Sahabat. Adapun pendapat Imam Auza’iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan sholat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al Hafidz Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dloif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil dalil syar’i tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada-adakan dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu ataupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi sembunyi ataupun terang terangan, landasannya adalah keumuman hadits Nabi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi hadits hadits yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Bakar At Thorthusyi berkata dalam bukunya “Al Hawadits wal bida” : diriwayatkan oleh Wadhoh dari zaid bin Aslam berkata : kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqh kami yang menghadiri perayaan malam nisfu sya’ban, tidak mengindahkan hadits Makhul yang dloif, dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam malam lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya Zaid An numairy berkata : "Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya’ban menyamai pahala lailatul qadar, Ibnu Abi Mulaikah menjawab : "Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat pasti saya pukul, Zaid adalah seorang penceramah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al ‘Allamah Asy Syaukani menulis dalam bukunya “Al Fawaidul Majmuah” sebagai berikut : bahwa hadits yang mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" يا علي، من صلى مائة ركعة ليلة النصف من شعبان يقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب وقل هو الله عشر مرات إلا قضى الله له كل حاجة ... إلخ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Ali, barang siapa yang melakukan sholat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, ia membaca setiap rakaat Al fatihah dan Qul huwallah ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya … dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal), hadits ini diriwayatkan dari kedua dan ketiga jalur sanad, kesemuanya maudhu dan perawi-perawinya tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab “Al Mukhtashor” Syaukani melanjutkan : hadits yang menerangkan tentang sholat Nisfu Sya’ban adalah bathil, Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu : jika datang malam Nisfu Sya’ban bersholat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dloif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku “Allaali” diriwayatkan bahwa : "Seratus rakaat pada malam Nisfi sya’ban (dengan membaca surah) Al ikhlas sepuluh kali (pada setiap rakaat) bersama keutamaan keutamaan yang lain, diriwayatkan oleh Ad Dailami dan lainya bahwa itu semua maudlu’ (palsu), dan mayoritas perowinya pada ketiga jalur sanadnya majhul (tidak diketahui) dan dloif (lemah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam As Syaukani berkata : Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan (membaca surat) Al Ikhlas tiga puluh kali itu maudlu’ (palsu), dan hadits empat belas rakaat … dan seterusnya adalah maudlu’ (tidak bisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para fuqoha (ahli yurisprudensi) banyak yang tertipu dengan hadits hadits diatas, seperti pengarang Ihya Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian dari para ahli tafsir, karena sholat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya’ban telah diriwayatkan melalui berbagai jalur sanad, semuanya adalah bathil / tidak benar dan haditsnya adalah maudlu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat Turmudzi dan hadits Aisyah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Baqi’ dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban, untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing, karena pembicaraan kita berkisar tentang sholat yang diadakan pada malam Nisfu Sya’ban itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqothi’ (tidak bersambung) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan diatas, mengenai malam Nisfu Sya’ban, jadi dengan jelas bahwa sholat (khusus pada) malam itu juga lemah dasar hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafidz Al Iraqi berkata : hadits (yang menerangkan) tentang sholat Nisfi Sya’ban itu maudlu dan pembohongan atas diri Rasulallah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab “Al Majmu” Imam Nawawi berkata : sholat yang sering kita kenal dengan sholat Roghoib ada (berjumlah) dua dua belas rakaat, dikerjakan antara maghrib dan Isya’, pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya’ban, dua sholat ini adalah bid’ah dan munkar, tidak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu, hanya karena disebutkan di dalam buku “Quutul qulub” dan “ Ihya Ulumuddin” (Al Ghozali, red) sebab pada dasarnya hadits hadits tersebut bathil (tidak boleh diamalkan), kita tidak boleh cepat mempercayai orang orang yang tidak jelas bagi mereka hukum kedua hadits itu, yaitu mereka para imam yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits itu, karena ia telah salah dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail Al Maqdisi telah mengarang sebuah buku yang berharga, beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas (tentang malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut, sebaik mungkin, dalam hal ini telah banyak pendapat para ulama, jika kita hendak menukil pendapat mereka itu, akan memperpanjang pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al Qur’an dan beberapa hadits, serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya’ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa, itu semua adalah bid’ah dan munkar, tidak ada landasan dalilnya dalam syariat Islam, bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, marilah kita hayati ayat Al Qur’an di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] البوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا [.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas, selanjutnya marilah kita hayati sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka ia tertolak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي، ولا تخصوا يومها بالصيام من بين الأيام، إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم “. رواه مسلم.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum’at dari pada malam malam lainnya dengan sholat tertentu, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya dari pada hari-hari lainnya dengan berpuasa tertentu, kecuali jika hari bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa (bukan puasa khusus tadi)” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pengkhususan malam itu dengan ibadah tertentu diperbolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum’at itu lebih baik dari pada malam malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari oleh matahari ? hal ini berdasarkan hadits hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang shohih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu dari pada malam lainnya, hal itu menunjukkan bahwa pada malam lainpun lebih tidak boleh dihususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shohih yang mengkhususkan/menunjukkan adanya pengkhususan, ketika malam Lailatul Qadar dan malam malam bulan puasa itu disyariatkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, maka Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang berdiri (melakukan sholat) pada bulan Ramadlan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosanya yang telah lewat, dan barang siapa yang berdiri (melakukan sholat) pada malam lailatul qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (Muttafaqun ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seandainya malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at pertama pada bulan Rajab, serta malam isra’ dan mi’raj itu diperintahkan untuk dikhususkan, dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya, atau beliau melaksanakannya sendiri, jika memang hal itu pernah terjadi niscaya telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita ; mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan paling banyak memberi nasehat setelah para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat para ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah, ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari sini kita mengetahui bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bid’ah yang diada adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan malam tersebut dengan ibadah tertentu adalah bid’ah mungkar, sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, begitu juga tidak boleh dihususkan dengan ibadah ibadah tertentu, selain tidak boleh dirayakan dengan upacara upacara ritual, berdasarkan dalil dalil yang disebutkan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, jika (malam kejadian Isra’ dan Mi’raj itu) diketahui, padahal yang benar adalah pendapat para ulama yang menandaskan tidak diketahuinya malam Isra’ dan Mi’raj secara tepat. Omongan orang bahwa malam Isra’ dan Mi’raj itu pada tanggal 27 Rajab adalah bathil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits yang shahih, maka benar orang yang mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وخير الأمور السالفات على الهدى * وشر الأمور المحدثات البدائع&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para Salaf, yang telah mendapatkan petunjuk dan sejelek-jelek perkara (dalam agama) adalah yang diada adakan berupa bid’ah bid’ah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahlah tempat bermohon untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten kepada ajarannya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah lah Maha Pemberi dan Maha Mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada hamba-Nya dan RasulNya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada keluarga dan para sahabatnya, Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia dalam Majmu’ Fatawa Samahat al-Shaykh ‘Abdul-‘Aziz ibn Baz, 2/882. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-7347911111162818417?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/7347911111162818417/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=7347911111162818417' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/7347911111162818417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/7347911111162818417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/07/memperingati-upacara-perayaan-malam.html' title='Memperingati Upacara Perayaan Malam Nifsu Syaban'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-8940441251725579135</id><published>2010-07-20T14:36:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T14:40:32.165-07:00</updated><title type='text'>Hadits- Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab:</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حديث : رجب شهر الله, وشعبان شهري, ورمضان شهر أمتى. فمن صام من رجب يومين. فله من الأجر ضعفان, ووزن كل ضعف مثل جبال الدنيا, ثم ذكر أجر من صام أربعة أيام, ومن صام ستة أيام, ثم سبعة أيام ثم ثمانية أيام, ثم هكذا: إلى خمسة عشر يوما منه. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Rajab adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya, sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas hari.” Hadits ini “Maudhu`” (Palsu)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sanad hadits ini ada yang bernama Abu Bakar bin Al Hasan An Naqqaasy, dia perawi yang dituduh pendusta, Al Kasaaiy- rawi yang tidak dikenal (Majhul). Hadits ini juga diriwayatkan oleh pengarang Allaalaiy dari jalan Abi Sa`id Al Khudriy dengan sanad yang sama, juga Ibnu Al Jauziy nukilan dari kitab Allaalaiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. حديث : من صام ثلاثة أيام من رجب, كتب له صيام شهر, من صام سبعة أيام من رجب, أغلق الله عنه سبعة أبواب من النار, ومن صام ثمانية أيام من رجب, فتح الله له ثمانية أبواب من الجنة, ومن صام نصف رجب حاسبه الله حسابا يسيرا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. حديث : إن شهر رجب شهر عطيم. من صام منه يوما كتب له صوم ألف سنة – إلخ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan seterusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin `Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. حديث : من صام يوما من رجب, عدل صيام شهر-إلخ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan penuh dan seterusnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya “Al Amaaliy” : sepakat diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib- dia ini lemah- Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya : “Syu`abul Iman” dari hadits Anas, yang artinya : “Siapapun yang berpuasa satu hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu tahun.” Di menyebutkan hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada perawi ; `Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan. Berkata Ibnu Hibbaan : “Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. حديث : من أحيا ليلة من رجب, وصام يوما. أطعمه الله من ثمار الجنة – إلخ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang harinya, Allah Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. ديث : أكثروا من الاستغفار فى شهر رجب. فإن لله فى كل ساعة منه عتقاء من النار, وإن لله لا يدخلها إلا من صام رجب.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya Allah Ta`ala mempunyai kota kota di Jannah-Nya yang tidak akan dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa di bulan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan dalam “Adz dzail” : Dalam sanadnya ada rawi namanya Al Ashbagh : Tidak bisa dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. حديث : فى رجب يوم وليلة, من صام ذلك اليوم, وقام تلك الليلة. كان له من الأجر كمن صام مائة-إلخ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Di bulan Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakatan dalam “Adz dzail” : Di dalam sanadnya ada nama rawi Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikian disebutkan tentang : “Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan juga dalam “Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada perawi perawi yang pendusta : Dan demikian diriwayatkan : “Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : “Hai sekalian manusia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah bulan Allah yang Mulian, dilipat gandakan kebaikan di dalamnya, do`a do`a dikabulkan, kesusahan kesusahan akan di hilangkan.” Ini adalah Hadist yang Munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hadits yang lain : “Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dan mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga hadits : “Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Rajab, dan berpuasa di siang harinya: Allah akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari Sorga- dan seterusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam sanadnya : Para perawi pembohong/pemalsu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana Allah mengkhususkan bulan itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam Jannah Allah Ta`ala- dan seterusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam sanadnya : Para perawi yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga hadits : “Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya.” Demikian juga hadits : “Keutamaan bulan Rajab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata `Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya : “Sesungguhnya apa apa yang diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu dan Lemah yang tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : “`Abdullah Al Anshoriy tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata : “Tidak ada yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam satupun hadist mengenai keutamaan bulan Rajab.” Kemudian dia berkata : Dan demikian juga : “Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan Zakat di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya.” Ini tidak ada ashol sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikian juga, “Dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di bulan ini tidak seperti bulan lainnya.” Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang pengetahuan saya. Dia berkata : “Diantara yang diada-adakan oleh orang yang `awwam ialah : “Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab,” yang keseluruhannya ini adalah : Bid`ah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Rajab dan Sya`ban ialah : “Mereka memperbanyak ketaatan kepada Allah melebihi dari bulan bulan lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang diriwayatkan tentang : “Bahwa Allah Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh `Alaihi wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini.” Ini Hadits Maudhu` (Palsu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan ini adalah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sholat Ar Raghaaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat Ar Raghaaib ini diamalkan di setiap awal Jum`at di bulan Rajab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad keempat Hijriyah. (Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Iqtida` As Shiratul Mustaqim” : hal.283. Dan “Tulisan Ilmiyah diantara dua orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat Raghaaib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. “Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist” : hal. 39 dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. “Al Madkhal” oleh Ibnu Al Haaj : 1/293.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. “As Sunan wal Mubtadi`aat” : hal. 140.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. “Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab” : hal. 47.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. “Fataawa An Nawawiy” : hal. 26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. “Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah” : 2/2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. “Al Maudhuu`aat” : 2/124.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. “Allaalaaiy Al mashnu`ah” : 2/57.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. “Tanzihus Syari`ah” : 2/92.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. “Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab” : hall. 297- serta bantahannya : Jannatul Murtaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. “Safarus Sa`adah” : hal. 150.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakat `Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy dan As Sayuthiy dan selain dari mereka. Kandungan dari hadits-hadits yang palsu itu ialraah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya, dinamakan “shalat Ar Raghaaib,” para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya melaksanakan sholat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak-enak, mengishtiharkan bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sholat Ummu Daawud di pertengahan bulan Rajab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan sholat “Ummu Daawud” ini juga tidak ada asholnya sama sekali. “Iqtidaus Shiraatul Mustaqim” : hal. 293.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al Imam Al Hafidz Abu Al Khatthaab : “Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, dia memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi rawi yang tidak dikenal, tidak terdapat diseluruh kitab.” Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist” : hal. 40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Hasan : `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab : “Bahjatul Asraar fit Tashauf”. Berkata Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata selainnya : Dia dituduh sebagai pemalsu hadits sholat Ar Raghaaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat terjemahannya dalam : “Al `Ibir fi Khabar min Ghubar.” : (3/116), “Al Mizan” : (3/142), “Al Lisaan” : (4/238), “Maraatul Jinaan” (3/28), “Al Muntadzim” : (8/14), “Al `Aqduts Tsamiin” : (6/179).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal daripada sholat ini sebagaimana diceritakan oleh : At Thurthuusyiy dalam “kitabnya” : “Telah mengkhabarkan kepada saya Abu Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah dalam “Al Baa`its” : hal. 33 : “Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiraan saya adalah `Abdul `Aziz bin Ahmad bin `Abdu `Umar bin Ibraahim Al Maqdisiy, telah meriwayatkan darinya Makkiy bin `Abdus Salam Ar Rumailiy As Syahiid, disifatkan dia sebagai As Syaikh yang dipercaya, Allahu A`lam.” Berkata dia: tidak pernah sama sekali dikalangan kami di Baitul Maqdis ini diamalkan sholat Ar Raghaaib, yaitu sholat yang dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya`ban. Inilah bid`ah yang pertama kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu datang ke tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal dengan nama Ibnu Abil Hamraa`, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca Al Quran, pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan Sya`ban dia mendirikan sholat di Al Masjidil Aqsha dan sholat di belakangnya satu orang, lalu bergabung dengan orang ketiga dan keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan Al Quran kecuali telah sholat bersamanya jama`ah yang banyak sekali, kemudian pada tahun selanjutnya, banyak sekali manusia sholat bersamanya, setelah itu menyebarlah di sekitar Al Masjidil Aqsha sholat tersebut, terus menyebar dan masuk ke rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada zaman itu diamalkan sholat tersebut yang seolah olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan kepada laki laki yang pertama kali mengada-adakan sholat itu setelah dia meninggalkannya, sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan sholat ini dengan jama`ah. Dia menjawab dengan mudah : “Saya akan minta ampun kepada Allah Ta`ala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berkata Abu Syaamah : “Adapun sholat Rajab, tidak muncul di sisi kami di Baitul Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak pernah melihat dan mendengarnya sebelum ini.” (Al Baa`itsu : hal. 32-33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Ibnu As Sholaah tentang sholat Ar Raghaaib, Malam Nishfu Sya`ban &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sholat Al Alfiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Sholaah rahimahullah Ta`ala pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun tentang sholat yang dikenal dengan sholat Ar Raghaaib adalah bid`ah, hadits yang diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah sholat ini dikenal kecuali setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan malamnya dari malam malam yang lainnya. Lihat Hadist hadist ini dalam kitab yang disebutkan di atas hal. 100-101, dan hal. 439-440.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan dari kitab Al Fawaaid Al Majmu`ah, Al Ahadiits Al Maudhu`ah, karya Syaikhul Islam Muhammad Bin `Ali As Syaukaniy (Wafat : 1250 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-8940441251725579135?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/8940441251725579135/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=8940441251725579135' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/8940441251725579135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/8940441251725579135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/07/hadits-hadits-palsu-seputar-amalan.html' title='Hadits- Hadits Palsu Seputar Amalan Bulan Rajab:'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-3994236566638262335</id><published>2010-05-18T05:13:00.000-07:00</published><updated>2010-05-18T05:14:47.831-07:00</updated><title type='text'>Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menafsirkan firman Alloh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75) فَلَمَّا آَتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76) فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77)&lt;br /&gt;Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Alloh : Sesungguhnya jika Alloh memberikan sebagian karunia Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang sholeh.” Maka setelah Alloh memberikan kepada mereka sebagian dari karuniaNya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Alloh menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Alloh, karena mereka telah memungkiri terhadap Alloh apa yang telah mereka ikrarkan kepada Nya dan juga mereka selalu berdusta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. At Taubah : 75-77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Ibnu Jarir Ath Thobari 14/16987 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para ulama’ tafsir berbeda pendapat tentang makna ayat ini. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah Tsa’labah bin Hathib, salah seorang sahabat anshor.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau meriwayatkan sebuah hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah menceritakan kepadaku Mutsanna, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu’aib, dia berkata : telah menceritakan kepada kami Ma’an bin Rifa’ah as Sulami dari Abu Abdil Malik Ali bin Yazid al Alhani bahwasanya dia menghabarkan dari Qosim bin Abdur Rohman bahwasannya dia menghabarkan dari Abu Umamah al Bahili dari Tsa’labah bin Hathib bahwasannya dia berkata kepada Rosululloh : “Berdo’alah kepada Alloh agar Alloh memberikan rizqi harta kepadaku.” Maka Rosululloh bersabda : “Celakalah engkau wahai Tsa’labah, sedikit harta tapi engkau syukuri lebih baik dari banyak harta tapi engkau tidak mampu menanggungnya, tidakkah engkau ridlo menjadi seperti nabi Alloh, Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, seandainya saya kepingin agar gunung itu mengalirkan perak dan emas untukku, niscaya akan mengalir.” Tsa’labah menjawab : “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berdo’a kepada Alloh lalu Alloh memberi rizki harta kepada ku, niscaya akan aku berikan harta itu pada setiap yang berhak.” Maka Rosululloh berdo’a : “Ya Alloh, berilah Tsa’labah harta.” Lalu diapun mengambil kambing, dan ternyata kambing itu berkembang biak dengan pesat seperti ulat, sehingga kota Madinah tidak muat, lalu dia pun pindah ke pinggiran kota, tepatnya pada salah satu lembahnya, sehingga dia cuma bisa sholat jamaah dhuhur dan ashar dan meninggalkan jamaah sholat lainnya. Kemudian kambing pun semakin berkembang biak sehingga dia pun tidak pernah jamaah sholat lima waktu selain sholat jum’at saja, namun kambingnya pun bertambah banyak yang akhirnya sholat jum’at pun dia tinggalkan, dan dia hanya mencari berita dari para pendatang yang ikut sholat jum’at. Maka Rosululloh bersabda : “Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Alloh menurunkan firman Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً&lt;br /&gt;“Ambilllah zakat dari harta-harta mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. At Taubah : 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menunjukkan wajibnya zakat, maka Rosululloh mengutus dua orang untuk mengambil zakat, seorang dari Bani Juhainah dan seorang lagi dari Bani Salim dan Rosululloh menuliskan sebuah surat tentang bagaimana harus mengambil zakat dari kaum muslimin. Rosululloh juga berpesan kepada keduanya : “Mampirlah ke tempat Tsa’labah dan seseorang dari bani Salim lalu ambillah zakat dari keduanya.” Lalu keduanya pergi sehingga bertemu dengan Tsa’labah, lalu minta shodaqohnya dan keduanya membacakan surat Rosululloh. Namun ternyata Tsa’labah malah berkata : “Ini adalah jizyah 1, ini tiada lain kecuali saudaranya jizyah, saya tidak tahu akan hal ini, pergilah dahulu sehingga kalian selesai menjalankan tugas lalu balik lagi kesini.” Lalu keduanya pun berangkat, kedatangan keduanya di dengar oleh seseorang yang dari Bani Salim maka dia melihat pada untanya yang paling bagus lalu di ambil untuk zakat dan diapun menyambut kedatangan keduanya, dan tatkala keduanya melihat, maka mereka berdua berkata : “Kamu tidak wajib mengeluarkan ini, kami tidak ingin mengambil yang sebagus ini darimu.” Namun dia berkata : “Ambillah, saya rela mengasihkannya.” Tatkala keduanya selesai menjalankan tugas, maka keduanya balik lagi ke Tsa’abah, lalu dia berkata : “Tunjukkan kepadaku surat yang kalian bawa.” Lalu dia melihatnya seraya berkata : “Ini tiada lain adalah saudaranya jizyah, pergilah sehingga saya menentukan sikapku.” Keduanya pun pulang sehingga sampai kepada Rosululloh, tatkala Rosululloh melihat keduanya, beliau bersabda : “Celakalah Tsa’labah.” Ini diucapkan sebelum Rosululloh berbicara kepada kedua dan beliau mendo’akan keberkahan kepada seseorang yang dari Bani Salim, lalu keduanya menghabarkan apa yang dilakukan oleh orang dari Bani Salim tersebut dan apa yang dilakukan oleh Tsa’labah. Maka turunlah firman Alloh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diantara mereka ada yang berjanji pada Alloh, jika Alloh memberikan keutaman Nya, sungguh kami akan bershodaqoh dan kami akan menjadi orang-orang yang sholih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada firman Alloh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan terhadap apa yang mereka dustakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat itu didekat Rosululloh ada seseorang kerabat Tsa’labah, tatkala dia mendengar ayat ini maka segera mendatangi Tsa’abah seraya berkata : “Celakalah engkau wahai Tsa’labah, Alloh menurunkan ayat ini dan itu berhubungan denganmu.” Maka Tsa’labah keluar sehingga mendatangi Rosululloh dan meminta beliau menerima shodaqohnya, namun Rosululloh bersabda : “Alloh melarangku untuk menerima shodaqohmu.” maka dia menaburkan tanah pada kepalanya, namun Rosululloh malah berkata : “Inilah perbuatanmu, saya perintahkan engkau namun tidak engkau ta’ati.” Kemudian Tsa’labah pulang ke rumahnya dan Rosululloh meninggal dunia dalam keadaan tidak mau menerima shodaqohnya. Kemudian dia datang kepada Abu Bakr tatkala beliau menjadi kholifah seraya berkata : “Engkau mengetahui kedudukanku disisi Rosululloh juga dikalangan anshor, maka terimalah shodaqohku.” Maka Abu Bakr berkata : “Rosululloh tidak menerimanya, akankah saya menerimanya ?.” Dan Abu Bakr meninggal dunia tetap tidak menerima zakatnya. Dan tatkala Umar menjadi kholifah, dia pun mendatanginya seraya berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, terimalah zakatku.” Maka Umar berkata : “Rosululloh dan Abu Bakr tidak menerimanya, akankah saya menerimanya ?.” sehingga Umar pun meninggal dunia, kemudian Utsman menjadi kholifah, dan dia pun mendatanginya lalu mohon agar di terima shodaqohnya, maka Utsman berkata: “Rosululloh, Abu Bakr dan Umar tidak menerimanya, lalu akankah saya menerimanya ?.” Akhirnya Tsa’labah meninggal dunia pada zaman khilafah Utsman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini sangat lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasyhuran kisah ini&lt;br /&gt;Kisah ini sangat terkenal dalam kitab-kitab tafsir saat menafsikan ayat diatas, juga sangat sering disampaikan oleh para khothib dan para penceramah untuk menceritakan tentang akibat dari orang yang enggan membayar zakat. Diantara yang menyebutkan kisah ini dalam kitab-kitab mereka adalah :&lt;br /&gt;Al Wahidi dalam Asbabun Nuzul hal : 141, Ibnu Jarir Ath Thobari dalam tafsir beliau, kisah inipun disandarkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Soghir 2/203 kepada Al Baghowi, Al Barudi, Ibnu Qoni’, Ibnu Sakan dan Ibnu Syahin dari Abu Umamah Al Bahili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Ali Hasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisah inipun disebutkan oleh Zamakhsari dalam Al Kasyyaf 2/203, Ibnul Jauzi dalam Zadul Masir 3/372, Ar Rozi dalam Mafatihul Ghoib 16/130, Al Khozin dalam tafsir beliau 3/126, Al Baidlowi dalam Anwarut Tanzil 3/75, Ibnu Katsir dalam tafsur beliau 2/373, As Suyuthi dalam Ad Dur Al Mantsur 3/260 juga dalam al Iklil hal : 121 serta masih banyak lainnya tanpa mereka sebutkan akan kebatilan dan kemungkarannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat At Tashfiyah wat Tarbiyah hal : 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kelemahan kisah ini&lt;br /&gt;Kisah ini lemah bila ditinjau dari sisi sanad maupun matannya, adapun dari sisi sanadnya maka penjelasannya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa dalam sanad hadis ini terdapat dua sisi kelemahan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pertama : Ali bin Yazid Al Alhani&lt;br /&gt;Berkata Bukhori : Munkar hadits.&lt;br /&gt;Berkata Daruquthni : Matruk.&lt;br /&gt;Berkata Nasa’i : Tidak tsiqoh&lt;br /&gt;Berkata Abu Zur’ah : Tidak kuat&lt;br /&gt;(Lihat Mizanul i’tidal oleh Adz Dzahabi 5/195 dan Tahdzibut Tahdzib 7/396)&lt;br /&gt;2.Kedua : Ma’an bin Rifa’ah As Sulami &lt;br /&gt;Berkata Ibnu Hibban : Munkar hadits dan dia menceritakan hadits dari orang-orang yang tak dikenal&lt;br /&gt;Berkata Jauzaqoni : Tidak bisa dijadikan hujjah.&lt;br /&gt;(Lihat Tahdzibut Tahdzib 10/201, Mizanul i’tidal 6/455, Al Majruhin 3/36)&lt;br /&gt;Oleh sebab inilah, maka hadits ini dilemahkan oleh banyak para ulama’ diantaranya adalah :&lt;br /&gt;Berkata Al Haitsami : “Diriwayatkan oleh Thobroni, dan pada sanadnya terdapat Ali bin Yazid al Alhani, dia itu orang yang matruk, dan Ma’an bin Rifa’ah haditsnya lemah.”&lt;br /&gt;Berkata Al ‘Iroqi dalam Takhrij Ihya’ 3/135 : “Sanadnya lemah.”&lt;br /&gt;Berkata al Hafidl Ibnu Hajar : Hadits ini lemah tidak dapat digunakan sebagai hujjah (Fathul Bari 3/266, lihat juga Takhrij Kasyaf 4/77/133)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga melemahkannya adalah :&lt;br /&gt;Ibnu Hazm dalam al Muhalla 12/137&lt;br /&gt;Al Baihaqi sebagaimana dinukil dalam Faidlul Qodir 4/527&lt;br /&gt;Al Qurthubi dalam tafsir beliau 8/210&lt;br /&gt;Adz Dzahabi dalam Tajrid Asma’ Shohabah no : 623.&lt;br /&gt;(Lihat Adl Dlo’ifah oleh Syaikh al Albani : 1607, 4081, Qoshosh La Tatsbut Syaikh Yusuf Al Atiq 1/47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dari sisi matannya, maka hadits inipun lemah dan bathil. Penjelasannya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini banyak bertentangan dengan nash-nash yang jelas dalam al Qur’an dan as Sunnah, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Diterimanya taubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk sesatu yang jelas dalam syariat islam yang mulia, bahwa Alloh menerima taubat orang yang berbuat kesalahan, sebesar apapun kesalahan tersebut selagi matahari belum terbit dari barat dan selagi nafas belum sampai ditenggorokan.&lt;br /&gt;Alloh berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ&lt;br /&gt;Katakanlah : “Hai hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Az Zumar [39] : 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا&lt;br /&gt;Dari Abu Musa dari Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya Alloh membentangkan tangan Nya pada waktu malam untuk mengampuni orang yang berbuat jelek pada waktu siang, dan Alloh juga membentangkan tangan Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat jelek pada waktu malam sehingga matahari terbit dari arah barat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Muslim : 4959 Ahmad : 18708)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar dari Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya Alloh menerima taubat seorang hamba selagi nafas belum sampai tengorokan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nash-nash ini sangat jelas menunjukkan bahwa taubat seseorang itu diterima, padahal dalam kisah tersebut Rosululloh tidak menerima taubatnya Tsa’labah yang menyadari kesalahannya tatkala enggan membayar zakat, begitu pula dengan ketiga kholifah setelah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keutamaan orang yang ikut perang Badar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsa’labah daam kisah ini nama lengkapnya adalah Tsa’labah bin Hathib bin Amr bin Ubaid bin Umayah al Anshori. Beliau adalah termasuk slaah seorang sahabat yang ikut dalam perang badar, sebgaimana hal ini ditegaskan oleh Imam Ibnu Katsir dalam al Bidayah wan Nihayah 5/218 juga oleh Al Hafidl Ibnu Hajar dalam al Ishobah 1/199 serta yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sudah merupakan sesuatu yang mapan dalam akidah kaum muslimin bahwa ahli Badar mempunyai keutamaan yang sangat besar yang tidak dapat dicapai oleh sahabat lainnya yang tidak ikut perang Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara keutamaan mereka adalah yang terdapat dalam beberapa hadits berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ رَجُلٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ&lt;br /&gt;Dari Jabir berkata : Rosululloh bersabda : “Tidak akan masuk neraka orang yang ikut perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ahmad 14725 dengan sanad shohih, Lihat Ash Shohihah : 2160)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ جَابِرٍ أَنَّ عَبْدًا لِحَاطِبٍ جَاءَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُو حَاطِبًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيَدْخُلَنَّ حَاطِبٌ النَّارَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَبْتَ لَا يَدْخُلُهَا فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَة&lt;br /&gt;Dari Jabir berkata : Bahwa seorang budak milik Hathib datang kepada Rosululloh untuk mengadukan perkara Hathib, seraya berkata : Ya Rosululloh, sungguh Hathib akan masuk neraka.” Maka Rosululloh bersabda : “Engkau berdusta, dia ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Muslim : 2495)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ مُعَاذِ بْنِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِيهِ وَكَانَ أَبُوهُ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ قَالَ جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ قَالَ مِنْ أَفْضَلِ الْمُسْلِمِينَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا قَالَ وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْمَلَائِكَةِ&lt;br /&gt;Dari Mu’adz bin Rifa’ah Az Zuroqi dari bapaknya yang merupakan orang yang ikut perang Badar berkata : “Jibril datang kepada Rosululloh seraya berkata : Menurut kalian bagaimana dengan orang yang ikut dalam perang Badar ? Maka Rosululloh menjawab : Mereka adalah orang islam yang paling baik, demikian juga dengan para malaikat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhori : 3992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebagian keutamaan ahli badar, lalu bagaimana mungkin Tsa’labah melakukan itu semua, padahal dia adalah saah seorang yang ikut perang badar ? dan anggaplah beliau melakukannya, lalu bagaimana mungkin Alloh tidak mengampuninya, padahal dosa orang yang ikut perang badar telah diampuni oleh Alloh sebesar apapun dosa tersebut. Perhatikanlah kejadian berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ وَالزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ وَكُلُّنَا فَارِسٌ قَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا امْرَأَةً مِنَ الْمُشْرِكِينَ مَعَهَا كِتَابٌ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ فَأَدْرَكْنَاهَا تَسِيرُ عَلَى بَعِيرٍ لَهَا حَيْثُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا الْكِتَابُ فَقَالَتْ مَا مَعَنَا كِتَابٌ فَأَنَخْنَاهَا فَالْتَمَسْنَا فَلَمْ نَرَ كِتَابًا فَقُلْنَا مَا كَذَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُجَرِّدَنَّكِ فَلَمَّا رَأَتِ الْجِدَّ أَهْوَتْ إِلَى حُجْزَتِهَا وَهِيَ مُحْتَجِزَةٌ بِكِسَاءٍ فَأَخْرَجَتْهُ فَانْطَلَقْنَا بِهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلِأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ قَالَ حَاطِبٌ وَاللَّهِ مَا بِي أَنْ لَا أَكُونَ مُؤْمِنًا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ لِي عِنْدَ الْقَوْمِ يَدٌ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهَا عَنْ أَهْلِي وَمَالِي وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِكَ إِلَّا لَهُ هُنَاكَ مِنْ عَشِيرَتِهِ مَنْ يَدْفَعُ اللَّهُ بِهِ عَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ وَلَا تَقُولُوا لَهُ إِلَّا خَيْرًا فَقَالَ عُمَرُ إِنَّهُ قَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالْمُؤْمِنِينَ فَدَعْنِي فَلِأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمُ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ&lt;br /&gt;Dari Ali berkata : “Rosululloh mengutusku bersama Martsad al Ghonawi dan Zubair bin Awam, dan kami semua adalah para penunggang kuda. Beliau bersabda : “Berangkatlah kalian sehingga sampai di kebuh Khokh, disana nanti ada seorang wanita musyrik membawa surat dari Hathib bin Abi Balta’ah yang ditujukan kepada orang-orang musyrik.” Maka kami menemukan wanita tersebut sedang naik unta ditempat yang ditunjukkan oleh Rosululloh, lalu kami katakan : “Serahkan surat tersebut.” Dia menjawab : “Saya tidak bawa surat.” Lalu kami mencarinya dan tidak kami temukan adanya surat, namun kami berkata : “Rosululloh tidak berdusta, engkau keluarkan surat itu atau kami telanjangi.” Dan tatkala wanita tersebut melihat keseriusan kami, maka dia mengeluarkan surat tersebut dar kain pengikat sarungnya, lalu kamipun berangkat balik kepada Rosululloh. Maka Umar berkata : “Wahai Rosululloh, Dia telah berkhianat kepada Alloh, Rosul Nya dan kaum mu’minin, biarkan aku penggal kepalanya.” Tapi Rosululloh malah bertanya kepada Hathib : “Apa yang membuatmu melakukan ini semua ?.” Maka Hathib menjawab : “Demi Alloh, bukannya saya tidak beriman kepada Alloh dan Rosul Nya, saya hanya ingin agar mereka merasa punya budi kepadaku, yang dengan itu bisa untuk menjaga keluarga dan hartaku, sedangkan semua sahabatmu mempunyai kerabat yang bisa menjaga keluarga dan hartanya.” Lalu Rosululloh bersabda : Dia telah berkata benar, jangan kalian katakan kepadanya kecuali kebaikan.” Namun Umar tetap berbicara : “Dia telah berkhianat kepada Alloh dan Rosul Nya serta kaum mu’minin, maka biarkan aku penggal kepalanya.” Maka Rosululloh bersabda : “Bukankah dia adalah termasuk sahabat yang ikut perang Badar ? barangkali Alloh Ta’ala sudah melihat kepada sahabat yang ikut perang Badar, sehingga Dia berfirman : “Lakukanlah apa yang kalian mau, sungguh kalian akan masuk surga (atau : Sungguh Saya ampuni kalian).” Maka kedua mata Umar pun mencucurkan air mata seraya berkata : “Alloh dan Rosul Nya lebih mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhori : 3007, 3983 Muslim : 2494)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan sisi kelemahan matan yang ketiga adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini bertentangan dengan sebuah syariat tentang orang yang enggan membayar zakat, yaitu diambil zakatnya serta separoh dari hartanya secara paksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من أعطاها مؤتجرا بها فله أجرها ومن منعها فإنا آخذوها وشطر ماله عزمة من عزمات ربنا عز وجل&lt;br /&gt;Dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rosululloh bersabda : “Barang siapa yang menunaikan (zakat) demi mendapatkan pahala , niscaya dia akan mendapatkan pahalanya, namun barang siapa yang tidak membayarnya maka kami akan mengambilnya dan separoh hartanya, sebagai salah satu ketetapan dari ketetapan Robb kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Ahmad 5/2, Abu Dawud 1575, Hakim 1/398 dengan sanad Hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sisi kelemahan yang keempat adalah bahwa kisah ini bertentangan dengan siroh para sahabat secara umum, yang mana mereka adalah manusia yang paling utama, sangat cinta pada akhirat dan zuhud pada dunia. Dan hal ini sangat jelas bagi siapapun yang menelaah perjalanan hidup mereka, bagaimana tidak demikian padahal Alloh telah ridlo pada mereka, sebagaimana firman Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ&lt;br /&gt;Orang yang pertama kali masuk islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, niscaya Alloh akan ridlo kepada mereka dan merekapun ridlo kepada Alloh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. At Taubah : 100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rosululloh menyebut mereka sebagai manusia yang paling utama, sebagaimana sabda beliau :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ&lt;br /&gt;Dari Ubaidah bin Abdillah bahwasannya Rosululloh bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang setelah mereka kemudian yang setelah mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhori Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengganti yang shohih :&lt;br /&gt;Setelah mengetahui kelemahan kisah ini, maka tidak boleh bagi seorangpun untuk membawakan kisah ini sebagai ibroh bagi yang enggan membayar zakat. Cukuplah bagi kita ayat al Qur’an dan hadits yang shohih yang menerangkan tentang ancaman bagi yang enggan membayar zakat. Diantaranya adalah :&lt;br /&gt;Firman Alloh Ta’la :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (34) يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ&lt;br /&gt;QS. At Taubah : 34,35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh berkata : “Rosululloh bersabda : “Barang siapa yang diberi harta oleh Alloh lalu dia tidak membayar zakatnya, maka nanti hartanya itu akan dirubah menjadi seekor ular botak yang memiliki dua titik hitam yang nantinya akan mematuknya pada hari kiamat, kemudian dia akan mencengkeramnya dengan kedua taringnya seraya mengatakan : “Saya harta simpananmu, saya adalah hartamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rosululloh membaca firman Alloh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ&lt;br /&gt;(QS. Ali Imron : 180)5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَالْإِبِلُ قَالَ وَلَا صَاحِبُ إِبِلٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا وَمِنْ حَقِّهَا حَلَبُهَا يَوْمَ وِرْدِهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ أَوْفَرَ مَا كَانَتْ لَا يَفْقِدُ مِنْهَا فَصِيلًا وَاحِدًا تَطَؤُهُ بِأَخْفَافِهَا وَتَعَضُّهُ بِأَفْوَاهِهَا كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ قَالَ وَلَا صَاحِبُ بَقَرٍ وَلَا غَنَمٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ لَا يَفْقِدُ مِنْهَا شَيْئًا لَيْسَ فِيهَا عَقْصَاءُ وَلَا جَلْحَاءُ وَلَا عَضْبَاءُ تَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَظْلَافِهَا كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh bersabda : “Tidak ada seorangpun yang memiliki emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti pada hari kiamat akan dijadikan lempengan dari api lalu dipanaskan di neraka Jahannam, lalu akan disetrikakan pada samping tubuhnya dan pada dahihnya, setiap kali sudah dingin maka akan diulangi lagi, itu semua dilakukan pada suatu hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun, sehingga akan diselesaikan urusan manusia, lalu dia kan mengetahui jalannya, mungkin ke surga atau mungkin ke neraka.&lt;br /&gt;Dikatakan : Wahai Rosululloh, lalu bagaimana dengan unta ? Beliau menjawab : Tidak pula yang memiliki unta yang tidak menunaikan zakatnya kecuali nanti pada hari kiamat dibentangkan baginya sebuah tempat yang sangat luas dan keras, tidak ada satu untapun yang tidak berada disitu, lalu mereka akan menginjaknya dengan kaki kaki mereka serta akan menggigit dengan mulut mereka, setiap kali yang pertama sudah lewat maka akan dikembalikan bagian yang akhirnya, itu semua pada suatu hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun, sehingga akan diselesaikan urusan manuisa, lalu dia akan mengetahui jalannya, mungkin ke surga atau ke neraka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Muslim :987)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مانع الزكاة يوم القيامة في النار&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik berkata : “Rosululloh bersabda : “Orang yang enggan membayar zakat akan masuk neraka pada hari kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Thobroni dalam ash Shoghir, berkata al Albani : Hasan Shohih, lihar Shohih Targhib : 762)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن بريدة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما منع قوم الزكاة إلا ابتلاهم الله بالسنين&lt;br /&gt;Dari Buroidah berkata : “Rosululloh bersabda : “Tidaklah sebuah kaum enggan membayar zakat kecuali akan diuji oleh Alloh dengan musim paceklik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Thobroni dalam al Ausath, Hakim, Baihaqi dengan sanad shohih, lihat shohih Targhib : 763)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-3994236566638262335?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/3994236566638262335/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=3994236566638262335' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/3994236566638262335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/3994236566638262335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/tsalabah-si-kaya-yang-enggan-membayar.html' title='Tsa’labah, Si Kaya yang Enggan Membayar Zakat'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-1587680399928486825</id><published>2010-05-18T05:02:00.000-07:00</published><updated>2010-05-18T05:03:22.882-07:00</updated><title type='text'>Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulitnya Rosululloh untuk mengembangkan dakwah islam di kota Mekkah adalah salah satu sebab hijrohnya Rosululloh dan para sahabat beliau ke kota Madinah. Perjalanan hijroh tersebut mengandung ibroh dan pelajaran yang sangat berharga bagi segenap kaum muslimin, namun sangat disayangkan kisah agung itu harus terkotori dengan adanya beberapa kisah lemah yang selalu menempel setiap kali orang menyampaikan atau menulis tentang perjalanan hijroh Rosululloh dengan Abu Bakar Ash Shidiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kisah lemah itu adalah kisah digigitnya Abu Bakar oleh seekor ular saat berada didalam goa, juga adanya laba-laba dan burung merpati yang berada di mulut goa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pembahasan ini bisa menjadi peringatan bagi semuanya untuk tidak lagi menyampaikan kisah tersebut dalam kisah perjalanan hijroh Rosululloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohul Muwaffiq&lt;br /&gt;Kisah I: Abu Bakar Digigit Ular&lt;br /&gt;A. Kemasyhuran kisah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita baca kitab-kitab yang menceritakan perjalanan hijroh Rosululloh ke kota madinah dihampir semu kitab sejarah, bisa dipastikan akan menemukan kisah ini, dan betapa sering kita mendengarnya dari tukang penceramah, para ustadz, kyai yang mengisahkan perjalanan agung tersebut. Dan yang semakin membuat kisah ini terkenal adalah bahwa kisah ini disebutkan oleh yang mulia Syaikh Shofiyyur Rohman Al Mubarokfuri dalam kitab beliau Ar Rohiqul Makhtum. Kitab ini menjadi sangat masyhur dikalangan pelajar maupun awam kaum muslimin karena memenangkan sayembara penulisan sejarah hidup Rosululloh yang diadakan Robithoh Alam Islami, lalu diterjemahkan ke banyak bahasa dunia, dan di Indonesia lebih dari satu penerbit yang menerjemahkan kitab ini. (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Konon dikisahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Berkata Syaikh Shofiyyur Rohman al Mubarokfuri pada bab :&lt;br /&gt;Tatkala keduanya (Rosululloh dan Abu Bakar) berada di goa : “Tatkala keduanya sampai di goa, maka Abu Bakar berkata : Demi Alloh, jangan engkau masuk sebelum aku masuk terlebih dahulu, kalau nanti ada sesuatu biarlah menimpaku dan tidak mengenaimu.” Maka Abu Bakar pun masuk dan membersihkannya, dan beliau menemukan ada sebuah lubang, maka beliau merobek kain sarungnya dan menutupnya, namun ternyata masih ada dua lubang lagi, maka beliau memasukkan kedua kedua kaki beliau, kemudian beliau memanggil Rosululloh : Silahkan masuk wahai Rosululloh,.” Rosululloh pun masuk dan beliau membaringkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar dan beliupun tertidur. Tiba-tiba ada ular yang mengigit kaki Abu Bakar dalam lubang, beliau tidak bergerak karena takut membangunkan Rosululloh, tapi akhirnya meneteslah air mata beliau di wajah Rosululloh, lalu beliau bersabda : “Ada apa dengan engkau wahai Abu Bakar ? Abu Bakar menjawab : Saya digigit.” Maka Rosululloh meludahinya dan segera hilanglah rasa sakitnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Ar Rohiqul Makhtum hal : 148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Derajat kisah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Kisah ini Maudlu&lt;br /&gt;Hadits maudlu’ adalah sebuah ucapan yang dibuat-buat kemudian disandarkan kepada Rosululloh secara dusta (Lihat Tadribur Rowi As Suyuthi 1/274) Dalam bahasa Indonesia sering di sebut sebagai hadits palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Takhrij hadits (2)&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwwah 2/476 berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abul Husain Ali bin Muhammad bin Abdulloh bin Busyron, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Salman An Najjar Al Faqih, dia berkata : Telah membaca kepadaku Yahya bin Ja’far dan saya mendengarnya, dia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Abdur Rohman bin Ibroim Ar Rosibi, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Furot bin Sa’ib dari Maimun bin Mahron dari Dlobbah bin Mihshon al ‘Anzi dari Umar bin Khothob : Lalu beliau menyebutkan kisah diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Sisi kepalsuan hadits ini disebabkan oleh dua hal, yaitu :&lt;br /&gt;1. Abdur Rohman bin Ibrohim Ar Rosibi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ini disebutkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Mizanul I’tidal : 4804 : Abdur Rohman bin Ibrohim ar Rosibi meriwayatkan dari Malik sebuah hadits panjang namun bathil, dan dialah yang tertuduh memalsukannya. Dia juga meriwayatkan dari Furot bin Sa’ib dari Maimun bin Mahron dari Dlobbah bin Mihshon dari Abu Musa dengan kisah kejadian di goa, dan kisah ini serupa dengan hasil pemalsuan orang-orang tarekat shufi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan : 4963 menyetujui apa yang dikatakan oleh Ad Dzahabi bahwa kisah ini serupa dengan hasil pemalsuan orang tarekat shufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Furot bin Sa’ib &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Adz Dzahabi dalam Mizanul i’tidal : 6689 : “Furot bin Sa’ib dari Maimun bin Mahron. Berkata Imam Bukhori : Munkar hadits, Berkata Ibnu Ma’in : Tidak ada apa-apanya, berkata Ad Daruquthni dan lainnya : Matruk (ditinggalkan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al Hafidl Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan : 6522 menyetujui apa yang dikatakan oleh imam Adz Dzahabi, kemudian beliau berkata : Berkata Abu Hatim As Saji : Para ulama’ meninggalkannya. Berkata Nasa’i : Haditsnya ditinggalkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Faedah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Berkata Al Hafidl : Madzhabnya Imam Nasa’i bahwa beliau tidak meninggalkan haditsnya seorang rowi sehingga para ulama’ sepakat untuk meninggalkannya.” (Syarah Nukhbah : 69)&lt;br /&gt;•Berkata Imam Suyuthi : Imam Bukhori menggunakan kata : “Munkar hadits” pada seorang yang tidak boleh diriwayatkan hadits darinya.” (Tadrib 1/349)&lt;br /&gt;==========================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah II: Sepasang Burung Merpati dan Lala-laba dimulut Goa&lt;br /&gt;A. Kemasyhuran Kisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama dengan yang sebelumnya, kisah inipun sangat masyhur dan selalu disebutkan oleh para penceramah setiap kali menyebutkan perjalanan hijrohnya Rosululloh ke kota Madinah, sehingga seakan-akan menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kisah hijroh yang agung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Al kisah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Rosululloh dan Abu Bakr sudah sampai ke goa, maka beliau bersama Abu Bakar masuk kedalamnya, lalu datanglah seekor laba-laba dan sepasang burung merpati ke mulut goa atas perintah Alloh Ta’ala. Adapun laba-laba maka dia langsung membuat rumah di mulut goa, sedangkan burung merpati segera membuat sarang dan bertelur disitu. Maka tatkala para pemuda Quraisy yang sedang kebingunagn karena kehilangan jejak beliau sudah sampai ke dekat goa, maka salah seorang diantara mereka pergi mendekat, akan tetapi karena melihat dimulut goa ada rumah laba-laba yang belum rusak dan burung merpati yang sedang bertelur, maka dia pun balik dan tidak melihat kedalam goa. Tatkala teman-temannya menanyakan :” Kenapa kok tidak melihat kedalam goa ? maka dia menjawab : Ada seekor laba-laba dan sepasang burung merpati di mulut goa, saya yakin tidak ada siapa-siapa didalamnya.” (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Derajat kisah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Al Albani dalam Adh Dho’ifah : Hadits munkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Takhrij kisah ini : (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini memiliki empat jalan dengan redaksi yang sedikit berbeda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Kisah diatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang menceritakan kisah ini diriwayatkan oleh Thobroni dalam Al Kabir : 1082, Al Bazzar : 1741, Al Uqoili dalam Adh Dhu’afa 1462 dan Baihaqi dalam Ad Dala’il 2/213 dari jalan Aun bin Amr al Qoisi, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Mush’ab Al Makki berkata : Saya bertemu dengan Zaid bin Arqom, Mughiroh bin Syu’bah dan Anas bin Malik menceritakan hadits diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini hanya diriwayatkan dari jalan Aun dari Abu Mush’ab, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bazzar, beliau berkata : Kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Aun bin Amr dan dia adalah seorang dari daerah Bashroh yang masyhur. Sedangkan Abu Mush’ab, kami tidak mengetahui ada yang menceritakan darinya kecuali Aun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi cacat hadits ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aun bin Amr Al Qoisi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Adz Dzahabi dalam Mizanul i’tidal : 6535 : Berkata Ibnu Ma’in : Tidak ada apa-apanya, berkata Imam Bukhori : dia seorang yang munkar hadits dan majhul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz Dzahabi kemudian membuat contoh hadits munkar yang diriwayatkan oleh Aun, dan hadits ini adalah salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Abu Mush’ab &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang yang majhul ain sebagimana yang dikatakan oleh Bazzar dan Al Uqoili. Dan majhul ain adalah seorang yang rowi yang hanya diriwayatkan oleh seorang rowi dan tidak diketahui ketsiqohannya. Hukum hadits majhul ain adalah lemah, sebagaimana yang telah mapan dalam disiplin ilmu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah diatas namun hanya menyebut laba-laba, tanpa adanya kisah sepasang merpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Bakr al Qodli dalam Musnad Abu Bakr, beliau berkata : Telah menceritakan kepada kami Basysyar al Khoffaf, dia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman , Telah menceritakan kepada kami Abu Imron, Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Ziyad dari Hasan Al Bashri berkata : Rosululloh berangkat bersama Abu Bakr ke goa, lalu keduanya masuk, maka datanglah seekor laba-laba lalu membuat rumah dimulut goa. Lalu datanglah para pemuda Quraisy, namun tatkala mereka melihat ada sarang laba-aba disitu maka mereka mengatakan : Tidak ada seorangpun yang memasukinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini lemah sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kelemahan hadits ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Mursalnya Hasan al Basri, karena beliau adalah seorang Tabi’in dan langsung menceritakan dari Rosululloh .&lt;br /&gt;Berkata Imam Ahmad : Tida ada hadits mursal yang lebih lemah dibandingkan mursalnya Hasan. (Lihat Tadribur Rowi oleh As Suyuthi 1/204)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Basyar al Khofaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Nasa’i : Basyar : Tidak tsiqoh (Adh Dhu’afa wa Matrukin : 80)&lt;br /&gt;Berkata Bukhori : Dia munkar hadits ( At Tarikh Al Kabir : 1935)&lt;br /&gt;Berkata Yahya bin Ma’in : Dia seorang yang tidak tsiqoh.&lt;br /&gt;Berkata imam Adz Dzahabi : Dia dilemahkan oleh Abu Zur’ah.&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Gholabi : Dia termasuk para pendusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan ketiga : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita : Dari Ibnu Abbas berkata : Tatkala orang-orang Quraisy bermusyawarah untuk membunuh Rosululloh, maka Alloh memberitahukan hal itu kepada Rosululloh. Maka Rosululloh memerintahkan Ali bin Abi Tholib untuk tidur di rumah beliau dan beliau pergi sehingga sampai di goa. Pagi harinya orang-orang Quraisy tatkala menyadari bahwa Rosululloh telah pergi maka mereka mencarinya dan sampai kedekat goa, saat mereka melihat ada rumah laba-laba dimulut goa maka mereka berkata : Seandainya dia masuk sini maka tidak mungkin ada rumah laba-laba disini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini lemah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ahmad 3251, Abdur Rozaq : 9743, Thobroni 12155 dari jalan Ma’mar bin Utsman al Jazri dari Muqsim dari Ibnu Abbas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kelemahan hadits ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kelemahan hadits ini adalah Utsman Al Jazri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Abi Hatim dalam Jarh wat Ta’dil 2/162 : Dia tidak bisa dijadikan sebagai hujjah&lt;br /&gt;Dia pun dilemahkan oleh Adz Dzahabi dalam Mizan 5510 dan Ibnu Hajar dalam Lisan : 5526.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keempat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silsilah riwayat : “Saya mencintai laba-laba”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ad Dailami dalam Musnad Firdaus. Berkata telah menceritakan kepadaku bapakku berkata : Saya mencintai lala-laba sejak saya mendengar guruku Abu Ishaq bin Ibrohim Al Maroghi dan Muhammad bin Ja’far al Muthohhar – dengan sanad yang panjang semuanya perowinya berkata : “Saya mencintai laba-laba” sampai kepada – Muhammad bin Sirin berkata : Saya mencintai laba-laba sejak saya mendengar dari Abu Huroiroh berkata : “Saya mencintai laba-laba sejak saya mendengar Abu Bakr berkata : Saya selalu mencintai laba-laba sejak saya melihat Rosululloh mencintainya dan beliau bersabda : Semoga Alloh membalas sang laba-laba dengan balasan yang baik, dia membuat sarang untuk melindungiku dan Abu Bakr saat berada di gua, sehingga orang-orang musyrik tidak bisa melihat dan menemukan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat hadits ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Al Albani : Munkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kelemahannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam sanadnya terdapat seorang rowi bernama Abduloh bin Musa as Sulami. Berkata al Khothib al Baghdadi : Dia banyak meriwayatkan hadits-hadits aneh dan mungkar.&lt;br /&gt;Beliau juga berkata : Dia meriwayatkan dari siapa saja, baik orang-orang yang majhul maupun lainnya.&lt;br /&gt;Berkata Imam Adz Dzahabi : dia meriwayatkan hadits yang aneh bin ajaib, dia menceritakan hadits yang tidak ada asal usulnya.”&lt;br /&gt;Berkata Syaikh al Albani : di hadits ini juga ada beberapa perowi yang tidak saya kenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Al Albani :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa hadits tentang laba-laba dan dua burung dara tidak shohih meskipun sangat banyak disebut dalam berbagai kitab dan ceramah seputar kisah hijrohnya Rosululloh ke Madinah, oleh karena itu ketahuilah hal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Adh Dho’ifah : 1189)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•(1) Jangan ada yang salah faham bahwa saya mentahdzir kitab ini, kitab Ar Rohiqul Makhtum adalah sebuah kitab yang bagus, namun sebagaimana kata Imam Malik : Semua orang bisa membantah dan dibantah kecuali Rosululloh.” Tidak ada yang ma’shum kecuali beliau dan Alloh tidak berkehendak untuk membuat sebuah kitab sempurna kecuali kitab Nya al Qur’an Al Karim.&lt;br /&gt;•(2) Takhrij ini saya ambil dari tulisan Syaikh Ali Hasyisy dalam majalah At Tauhid Mesir edisi 5 tahun 29 hal : 34 dengan beberapa tambahan dari lainnya.&lt;br /&gt;•(3) Kisah dengan lafadl semacam ini adalah yang masyhur di Indonesia. Ada sedikit perbedaan redaksi dengan yang terdapat dalam beberapa hadits. Namun inti permasalahannya sama. Walohu a’lam&lt;br /&gt;•(4) Takhrij ini saya sarikan dari Adh Dho’ifah Syaikh Al Albani dan Silsilah Tahdzir Da’iyah oleh Syaikh Ali Al Hasyisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-1587680399928486825?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/1587680399928486825/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=1587680399928486825' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/1587680399928486825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/1587680399928486825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/sepenggal-kisah-lemah-seputar.html' title='Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-9123359063989661891</id><published>2010-05-18T04:59:00.000-07:00</published><updated>2010-05-18T05:00:14.847-07:00</updated><title type='text'>Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek yang dilakukan oleh fakultas kedokteran untuk mengetahui seluk beluk organ tubuh manusia agar bisa mendeteksi setiap organ tubuh yang tidak normal dan terserang penyakit serta mengobatinya sedini mungkin atau untuk tujuan lainnya adalah dengan membedah jasad mayat manusia. Apakah ini dibolehkan dalam pandangan syara’ ataukah tidak ? Karena praktek ini dilakukan hampir di semua fakultas kedokteran maka dengan memohon taufiq kepada Alloh Ta’ala, saya turunkan pembahasan ini dengan mengacu pada tulisan Lajnah Hai’ah Kibarul Ulama’ Arab Saudi dengan beberapa tambahan.&lt;br /&gt;Tulisan ini saya bagi menjadi beberapa pokok pembahasan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati&lt;br /&gt;•Macam-macam tujuan membedah jenazah&lt;br /&gt;•Hukum membedah perut mayat wanita untuk menyelamatkan bayi yang masih dalam perut&lt;br /&gt;•Hukum memakan mayat dalam keadaan terpaksa&lt;br /&gt;•Hukum otopsi jenazah untuk tujuan belajar ilmu kedokteran&lt;br /&gt;•Hukum membongkar kuburan seorang muslim&lt;br /&gt;Allahumma, tunjukanlah kepada kami jalan yang Engkau ridloi dan jauhkanlah kami dari jalan yang Engkau murkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati&lt;br /&gt;Termasuk sesuatu yang sangat jelas hukumnya dalam syariat islam adalah kehormatan seorang muslim baik hidup maupun mati. Maka tidak boleh membunuh, melukai dan menyakitinya serta tidak boleh mematahkan tulang atau mencincang tubuhnya setelah dia meninggal. Banyak dalil yang berhubungan dengan hal ini, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Alloh Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam, kekal ia didalamnya dan Alloh murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. An Nisa’ : 93)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Ibnu Umar berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rosululloh bersabda : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada TuhanYang Berhak disembah kecuali Alloh dan Muhamad adalah utusan Nya, mendirikan sholat serta menunaikan zakat. Maka apabila mereka melaksanakannya niscaya akan terjada darah dan harta mereka kecuali dengan hak islam dan hisab mereka pada Alloh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhori 1/70, Muslim 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Alloh dan saya adalah utusannya kecuali dengan karena tiga perkara : 1. Orang yang membunuh maka diqishos, 2. Orang yang pernah menikah lalu berzina, 3. Orang yang murtad dari agama (islam) dan meninggalkan jamaah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhori Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya mematahkan tulang seorang mu’min yang sudah meninggal seperti mematahkan tulangnya saat dia masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud 2/69, Ibnu Majah 1/492, Ibnu Hibban 776, Baihaqi 4/58, Ahmad 6/58 dengan sanad shohih, lihat Ahkamul Janaiz Imam Al Albani hal : 295)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al Hafidl Ibnu Hajar dalam Fathul Bari : “Hadits ini menunjukkan bahwa kehormatan seorang mu’min setelah dia meninggal sama sebagaimana tatkala dia masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam tujuan membedah jenazah&lt;br /&gt;Dilihat dari tujuannya praktek bedah dan otopsi mayat ada beberapa macam. Namun yang paling sering dilakukan ada tiga macam, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas&lt;br /&gt;Untuk keperluan ini seorang dokter melakukan otopsi jenazah. Apakah memang dia meninggal karena tindakan kriminalitas atau karena mati biasa, kalau memang karena tindakan kriminalitas maka akan dicari tanda-tanda yang memungkinkan akan bisa mengungkap siapa pelakunya. Namun jika meninggal dengan cara yang wajar maka berarti tidak perlu dicari pelakunya atau kalau mungkin sudak ditangkap pihak kepolisian bisa segera di bebaskan.&lt;br /&gt;•Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian secara umum&lt;br /&gt;Dengan otopsi ini seorang dokter bisa mengetahui penyakit yang menyebabkan kematian pasien, sehingga kalau memang ini adalah sebuah wabah dan dikhawatirkan terjangkit pada masyarakat lainnya bisa segera dilakukan tindakan preventif agar tidak menyebar.&lt;br /&gt;•Otopsi untuk keperluan praktek ilmu kedokteran.&lt;br /&gt;Otopsi ini diperlukan mahasiswa fakultas kedokteran untuk mengetahui seluk beluk organ tubuh manusia. Ini sangat diperlukan sekali agar bisa mengetahui adanya penyakit pada organ tubuh tertentu secara tepat.&lt;br /&gt;Dan masih banyak tujuan-tujuan lain.&lt;br /&gt;Secara umum hukum dari masalah ini berangkat dari apakah otopsi jenazah seorang muslim itu memang terpaksa harus dilakukan ? karena pada dasarnya tidak boleh melukai, mematahkan tulang dan lainnya dari jasad seorang muslim berdasarkan hadits Aisyah diatas terkecuali kalau memang dalam keadaan dlorurot harus melakukan itu maka boleh dilakukan berdasarkan firman Alloh Ta’ala tentang makanan yang haram dimakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetapi barang siapa dalam keadan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Baqoroh : 173)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga berdasarkan sebuah kaidah fiqh yang masyhur bahwasannya keadaan dlorurot (terpaksa) itu bisa menghalalkan sesuatu yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk memprediksikan apakah ini sudah dalam keadaan dlorurot ataukah belum sering terjadi perbedaan pandangan diantara para ulama’ yang menjadikan merekapun berselisih dalam hukumnya. Untuk lebih jelasnya, kita bahas satu persatu permasalahan yang ada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum membedah perut mayat wanita untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada ibu meningal dunia dalam keadaan mengandung sedangkan bayi yang dikandungnya masih hidup, para ulama berselisih apakah harus di bedah perut ibu atau bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik dan Ahmad mengatakan tidak boleh di bedah perut seorang wanita meskipun bayi yang ada dalam pertnya masih hidup namun dikeluarkan dengan cara diambil dari jalan farji oleh tenaga medis. (Lihat Syarah Mukhtashor Kholil Syaikh Ahmad Dirdir dan Al Inshof Imam Al Mardawi 2/556, Kasyaful Qina’ 2/130).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Ibnu Qudamah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal ini karena bayi itu belum pasti masih hidup dan memang biasanya tidak bisa hidup, maka tidak diperbolehkan melanggar suatu yang sudah jelas keharamannya demi sesuatu yang masih belum jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh bersabda : “Mematahkan tulang orang mu’min yang telah meninggal sama seperti mematahkan tulang seorang mu’min yang masih hidup.” Juga karena Rosululloh melarang untuk mencincang mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Imam Syafi’i, Ibnu Hazm dan sebagian ulama’ Malikiyah mengatakan bahwa dalam keadaan seperti itu dibedah perut ibu demi keselamatan bayi yang masih dalam kandungannya. (Lihat Al Majmu’ Syarah Muhadzab Imam Nawawi 5/301, Al Muhalla 5/166) Dan ini adalah madzhab yang Rojih insya Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Rosyid Ridlo menanggapi madzhab Imam Malik dan Ahmad :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdalil dengan hadits Aisyah untuk membiarkan bayi yang masih hidup dalam perut ibu sampai meninggal adalah sesuatu yang aneh bila ditinjau dari dua segi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Bahwasannya membedah perut tidak akan mematahkan tulangnya.&lt;br /&gt;•Bahwasannya hidupnya janin apabila telah sempurna bentuknya lalu dikeluarkan dengan jalur oprasi bedah. Hal ini sering terjadi. Dari sini ada dua hal yang bertentangan antara menyelamatkan nyawa bayi itu ataukah menjaga kehormatan sang ibu untuk tidak dilakukan pembedahan dan mematahkan tulangnya ? tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan pertana itulah yang lebih rajih. Ditambah lagi bahwasannya pembedahan perut sang ibu untuk tujuan ini bukanlah sebuah bentuk penghinaan terhadap mayat. Maka yang benar adalah pendapat yang mewajibkan pembedahan perut ibu jika para dokter menguatkan kemungkinan bayi itu bisa hidup selepas operasi bedah tersebut.”&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Al Albani :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dipilih oleh Syaikh Rosyid Ridlo adalah madzhab Syafi’iyah sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi, dan beliau mengatakan bahwa ini adalah madzhab Abu Hanifah dan jumhur ulama’ juga madzhab Ibnu Hazm dan ini adalah sesuatu yang benar Insya Alloh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Ahkamul Janaiz hal : 297)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Ahmad Syakir dalam Ta’liq Al Muhalla :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun mengeluarkan bayi yang masih hidup dalam kandungan sang ibu maka hal ini wajib dilakukan. Adapun bagaimana caranya, hal itu terserah kepada para ahlinya baik seorang dokter maupun dukun bayi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum memakan mayat dalam keadaan terpaksa&lt;br /&gt;Jika ada seseorang dalam keadaan sangat kelaparan yang mana kalau tidak makan akan meninggal dunia lalu dia tidak menemukan apa-apa kecuali daging mayat manusia, maka para ulama’ berselisih pendapat apakah boleh baginya memakan dagingnya ataukah tidak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Nawawi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh memakan daging manusia yang tidak ma’shum,(1) semacam orang kafir harbi,(2) orang murtad, pezina muhshon dan lainnya. Adapun orang yang terjaga kehormatannya seperti mayat muslim, kafir dzimmi atau musta’man (3) maka haram memakan daging mereka. Terkecuali kalau memang tidak mendapatkan apa-apa kecuali daging mayat manusia yang ma’shum maka dibolehkan memakan dagingnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Roudlotut Tholibin 2/284 dengan ringkas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Ahmad Dirdir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh bagi orang yang dalam keadaan terpaksa memakan daging manusia meskipun mayat itu orang kafir. Namun Imam Ibnu Arafah membolehkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Syarah Kabir Ala Mukhtashor Al Kholil 1/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Ibnu Qudamah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ulama’ madzhab Hambali mengharamkan memakan daging manusia yang ma’shum karena kehormatannya meskipun dalam keadaan terpaksa, namun boleh memakan daging mayat orang kafir harbi dan orang murtad karena keduanya tidak memiliki kehormatan baik dia temukan dalam keadaan sudah meninggal atau dia membunuhnya terlebih dahulu. Imam Syafi’I dan sebagian Hanafiyah berkata : “boleh memakan daging manusia ma’shum.” Dan pendapat inilah yang lebih benar karena kehormatan orang yang masih hidup lebih utama daripada kehormatan yang telah meninggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al Mughni 11/79 dengan ringkas dan lihat pula Al Inshof oleh Al Mardawi 10/376)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Ibnu Hazm :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua yang diharamkan baik berupa makanan ataupun minuman seperti babi, binatang buruan di daerah haram, bangkai, darah, daging binatang buas, khomer dan lainnya kalau dalam keadaan terpaksa menjadi halal untuk memakannya selain daging manusia, maka tidak boleh memakannya baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak karena kewajiban terhadap mayat adalah menguburnya yang berarti haram diperlakukan dengan selainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al Muhalla 5/426)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum otopsi jenazah muslim untuk belajar ilmu kedokteran&lt;br /&gt;Islam sebagai agama yang telah disempurnakan oleh Alloh telah menetapkan beberapa kaedah untuk menjawab permasalahan yang belum terjadi pada zaman Rosululloh. Diantara kaedah tersebut adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila berbenturan antara dua kemaslahatan maka di lakukan yang paling banyak maslahatnya juga apabila berbenturan antara dua mafsadah maka di lakukan yang paling ringan mafsadahnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Al Qowaid Al Fiqhiyah Syaikh As Sa’di hal : 45-48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah otopsi dan bedah mayat muslim atau dzimmi masuk dalam kaedah ini, karena otopsi banyak mengandung faedah yang sangat besar seperti mengungkap tindakan kriminalitas, mendeteksi sedini mungkin adanya wabah menular sehingga cepat bisa diatasi dan beberapa manfaat lainnya. Juga apa yang lakukan oleh mahasiswa kedokteran untuk melakukan bedah mayat dalam rangka belajar banyak mengandung manfaat untuk ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini kalau bertentangan dengan maslahat menjaga kehormatan mayat, maka harus dilihat mana yang lebih kuat masalahatnya sehingga bisa dihukumi boleh ataukah tidak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat secara umum tentang keharusan menjaga kelangsungan hidup manusia maka prektek bedah semacam ini diperbolehkan. Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang bertanya : Kenapa tidak digunakan jasad binatang saja ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab : Ada perbedaan yang sangat tajam antara organ tubuh manusia dengan organ tubuh binatang yang dengannya tidak mungkin dijadikan dasar dalam belajar kedokteran. Sebagaimana dengan sangat jelas bagi mahasiswa fakultas kedokteran. (Lihat secara lengkap pembahasan ini di Abhats Haiah Fatwa Kibarul Ulama’ hal :48-67)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau jasad yang di bedah itu mayat yang tidak ma’shum, maka itulah yang lebih selamat. Berkata Syaikh Al Albani disela-sela ucapan beliau tentang keharaman membongkar kuburan muslim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan ini terjawablah pertanyaan yang sering dilontarkan mahasiswa fakultas kedokteran yaitu : “Apakah boleh memecahkan tulang mayat untuk dijadikan bahan penelitian kedokteran ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya : “Tidak boleh dilakukan terhadap mayat muslim namun boleh terhadap lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ahkamul Janaiz hal : 299)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kita turunkan teks fatwa Haiah kibarul Ulama’ no 47 tanggal 20/8/1396 H tentang pandangan Hai’ah terhadap praktek otopsi dan pembedahan mayat muslim untuk tujuan kemaslahatan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Setelah ditelaah ternyata masalah ini mengandung tiga unsur, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Otopsi mayat untuk mengetahui sebab kematian saat terjadi tindakan kriminalitas&lt;br /&gt;•Otopsi mayat untuk mengetahui adanya wabah penyakit agar bisa diambil tindakan preventif secara dini&lt;br /&gt;•Otopsi mayat untuk belajar ilmu kedokteran&lt;br /&gt;Setelah di bahas dan saling mengutarakan pendapat, maka majlis memutuskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk masalah pertama dan kedua, majlis berpendapat tentang diperbolehkannya untuk mewujudkan banyak kemaslahatan dalam bidang keamanan, keadilan dan tindakan preventif dari wabah penyakit. Adapun mafsadah merusak kehormatan mayat yang di otopsi bisa tertutupi kalau dibandingkan dengan kemaslahatannya yang sangat banyak. Maka majlis sepakat menetapkan diperbolehkan melakukan otopsi mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat itu ma’shum ataukah tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang ketiga yaitu yang berhubungan dengan tujuan pendidikan medis, maka memandang bahwa syariat islam datang dengan membawa serta memperbanyak kemaslahatan dan mencegah serta memperkecil mafsadah dengan cara melakukan mafsadah yang paling ringan serta maslahat yang paling besar, juga karena tidak bisa diganti dengan membedah binatang juga karena pembedahan ini banyak mengandung maslahat seiring dengan perkembangan ilmu medis, maka majlis berpendapat bahwa secara umum diperbolehkan untuk membedah mayat muslim. Hanya saja karena memang islam menghormati seorang muslim baik hidup maupun mati sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu majah dari Aisyah bahwa Rosululloh bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mematahkan tulang mayit sebagaimana mematahkannya tatkala masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga melihat bahwa bedah itu mengihanakan kehormatan jenazah muslim, padahal itu semua bisa dilakukan terhadap jasad orang yang tidak ma’shum, maka majlis berpendapat bahwa bedah tersebut harus Cuma dilakukan terhadap mayat yang tidak ma’shum bukan terhadap mayat orang yang ma’shum. Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah :&lt;br /&gt;Karena sedikit ada keterkaitan dengan masalah ini, maka kita bahas juga masalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum membongkar kuburan muslim&lt;br /&gt;Hadits Aisyah diatas menunjukkan keharaman membongkar kuburan seorang muslim karena akan bisa memecahkan tulangnya. (Lihat Ahkamul Janaiz Imam Al Albani hal : 298)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Nawawi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh membongkar kuburan muslim tanpa ada sebab syar’I. Dan dibolehkan kalau ada ada sebab syari seperti kalau mayat dalam kuburan itu sudah hancur dan berubah menjadi tanah. Kalau memang sudah demikian boleh mengubur orang lain di situ juga boleh menanam tanaman atau membangun bangunan atau lainnya jika sudah tidak lagi terdapat tulang belulang mayat disitu. Dan untuk menentukan hal ini tergantung pada daerah masing-masing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al Majmu’ :5/303)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Al Albani :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan ini dapat diketahui haramnya perbuatan yang dilakukan sebagian pemerintah muslim yang mana mereka membongkar kuburan muslim untuk dijadikan perumahan atau lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ahkamul Janaiz hal : 198)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika kuburan itu kuburan orang-orang kafir maka sama sekali tidak dilarang membongkar kuburan mereka, karena mereka sama sekali tidak punya kehormatan, berdasarkan mafhum mukholafah dari hadits Aisyah tersebut diatas. Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik yang sangat panjang yang intinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tatkala Rosululloh datang ke kota madinah, beliau memerintahakn untk membangun masjid dan beliau mendapatkan tanah wakaf dari Bani Najjar yang didalamnya ada kuburan orang-orang musyrik maka Rosululloh memerintahkan untuk membongkar kuburan itu dan meratakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhori Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Al Hafidl Ibnu Hajar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam hadits ini terdapat hukum dibolehkannya mengelola tanah kuburan yang didapat lewat hibah atau jual beli, juga boleh membongkar kuburan tua apabila tidak ada kehormatannya juga dibolehkan sholat di bekas kuburan orang-orang musyrik setelah dibongkar dan dikeluarkan isinya juga dibolehkan membangun masjid ditanah tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-9123359063989661891?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/9123359063989661891/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=9123359063989661891' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/9123359063989661891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/9123359063989661891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/hukum-bedah-dan-otopsi-jenazah-muslim.html' title='Hukum Bedah dan Otopsi Jenazah Muslim'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-751303559194713760</id><published>2010-05-16T11:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T11:39:09.625-07:00</updated><title type='text'>Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Al Kisah&lt;br /&gt;Konon diceritakan bahwa setelah Rosululloh dan Abu Bakr menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, ditengah-tengah intaian kaum kuffar Quraisy, maka akhirnya Alloh menyelamatkan mereka hingga sampai ke Kota Madinah. Di sisi kisah yang lainnya para penduduk kota Madinah, dari kaum laki-laki, wanita dan anak-anak setiap harinya keluar rumah menuju pingiran kota untuk menunggu kedatangan beliau, kalau sampai sore hari belum ada tanda-tanda kedatangan beliau maka mereka pulang dengan perasaan kecewa. Sehingga suatu ketika dari jauh kelihatan ada debu yang berterbangan, semakin lama semakin dekat, mereka berharap-harap cemas siapakah gerangan yang datang tersebut ? Alangkah bahagianya mereka tatkala mengetahui bahwa yang datang adalah Rosululloh, manusia agung yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya, lalu mereka semua menyenandungkan gubahan bait syair berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من ثنيات الوداع O طلع البدر علينا&lt;br /&gt;ما دعا لله داع O وجب الشكر علينا&lt;br /&gt;جئت بالأمر المطاع O أيها المبعوث فينا&lt;br /&gt;Telah muncul purnama kepada kita&lt;br /&gt;Dari daerah Tsaniyatul Wada’&lt;br /&gt;Wajiblah bagi kita untuk bersyukur&lt;br /&gt;Selagi masih ada orang yang berdo’a kepada Alloh.&lt;br /&gt;Wahai orang yang diutus kepada kami&lt;br /&gt;Engkau telah datang dengan perkara yang ditaati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kemasyhuran Kisah Ini&lt;br /&gt;Saya rasa tidak ada seorangpun yang tidak mengenal kisah ini, karena hampir disemua kitab sejarah yang menceritakan tentang kedatangan Rosululloh ke kota Madinah dalam perjalanan hijroh agung beliau. Bahkan senandung bait syair ini sudah menjadi bahan nyanyian sebagian kaum muslimin, mereka menganggapnya sebagai sebuah nyanyain yang islami (?), karena bait syair ini dalam angapan mereka adalah untuk menyambut kedatangan Rosululloh saat perjalanan hijroh beliau. Wallohul Musta’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai-sampai beberapa kitab sejarah yang ditulis oleh para ulama’ sunnah pun menyebutkan kisah ini, diantaranya adalah yang disebutkan oleh Syaikh Shofiyyur Rohman Al Mubarokfuri dalam Ar Rohiqul Makhtum, beliau berkata pada bab : Masuk ke kota Madinah : “Saat itu adalah hari yang cemerlang dalam catatan sejarah, rumah-rumah dan gang-gang bergetar karena gema suara pujian kepada Alloh, lalu anak-anak wanita anshor dengan perasaan suka cita yang menggelora, mereka bernyanyi menyenandungkan ….(lalu beliau menyebutkan syair diatas).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;C.Derajat Kisah&lt;br /&gt;Kisah ini lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takhrij kisah ini : (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abul Hasan Al Khol’i dalam Al Fawa’id 2/59, Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwah 2/233 beliau berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Amr al Adib berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr al Isma’ili berkata : Saya medengar Abu Kholifah berkata : Saya mendengar Ibnu Aisyah berkata : Tatkala Rosululloh datang ke kota Madinah mana anak-anak dan wanita bersenandung …..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanad hadits ini lemah karena Ibnu Aisyah yang beliau bernama Ubaidillah bin Muhammad bin Aisyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal no : 4262 : Ubaidilah bin Muhammad bin Hafsh bin Umar bin Musa bin Ubaidillah bin Ma’mar Al Qurosyi at Taimi, Abu Abdir Rohman Al Bashri. Dia lebih dikenal dengan nama Al ‘Aisyi dan Ibnu ‘Aisyah, karena dia adalah anak keturunan Aisyah binti Tholhah bin Ubaidillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia termasuk gurunya Imam Ahmad bin Hanbal dan termasuk orang yang mengambil hadits dan meriwayatkannya dari Tabiut tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sanad ini terputus tiga tingkatan secara berurutan , yaitu sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in, dan hadits dengan sanad semacam inilah yang oleh para ulama’ hadits dinamakan dengan mu’dhol, sedangkan mu’dhol, adalah sebuah hadits yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata As Sakhowi dalam Fathul Mughits 1/185 : “Mu’dhol dalam istilah para ulama’ adalah : Hadits yang sanadnya terputus dua orang atau lebih secara berurutan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sebab inilah para ulama’ melemahkan kisah ini, meskipn sangat masyhur. Diantara mereka adalah Imam Al ‘Iroqi dalam takhrij ihya’ 2/244, Al Albani dalam Adh Dho’ifah no : 598, Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad 3/10, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi kelemahan lainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini pun lemah kalau kita tinjau dari sisi matannya yaitu : bahwa daerah Tsaniyatul wada’ adalah sebuah daerah yang berada di sebelah utara kota Madinah, sedangkan Makkah berada disebelah selatan Madinah. Dan orang Mekah yang akan menuju ke Madinah tidak akan pernah melewati daerah Tsaniyatul wada’. Inilah yang diisyaratkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad, beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagian perowi salah tatkala meriwayatkan kisah ini terjadi saat kedatangan beliau dari Mekkah ke Madinah. ini adalah sebuah kesalahan yang sangat nyata, karena daerah Tsaniyatul wada’ berada diarah Syam, daerah ini tidak akan pernah dilihat oleh orang yang datang dari Mekkah ke Madinah, dan tidak akan dilewati kecuali oleh orang yang berangkat dari Madinah menuju Syam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Zadul Ma’ad 3/10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Bersama al Ghozali dan kitab beliau Ihya’ Ulumuddin&lt;br /&gt;Kisah ini digunakan dalil oleh Imam Al Ghozali dalam kitab tenar beliau Ihya’ ulumuddin 2/275 untuk menghalalkan nyanyian dan musik. Beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sisi dibolehkannya nyanyian adalah bahwa nyanyian adalah sesuatu yang bisa membangkitkan rasa senang dan gembira, maka semua yang boleh untuk bersenang senang dengannya maka boleh pula unytuk membangkitkan rasa senang dengan sesuatu tersebut. Dan yang menunjukkan akan bolehnya hal ini adalah riwayat yang menyatakan bahwa saat kedatangan Rosululloh ke kota Madinah maka para wanita menabuh duff (semacam gendang tanpa suara gemerincing) dan menyenandungkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من ثنيات الوداع O طلع البدر علينا&lt;br /&gt;ما دعا لله داع O وجب الشكر علينا&lt;br /&gt;Nukilan dari Imam Al Ghozali ini salah tiga sisi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : kisah ini adalah lemah, sebagaimana keterangan diatas&lt;br /&gt;Kedua : beliau menambah dalam riwayat tersebut lafadz yang tidak ada asal usulnya yaitu : “ …….. maka para wanita menabuh duff (semacam gendang tanpa suara gemerincing) dan menyenandungkan …..”&lt;br /&gt;Tambahan yang tidak ada asal usulnya ini sering digunakan oleh sebagian kalangan untuk menghalalkan musik, padahal tambahan ini tidak ada asal usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Al ‘iroqi dalam Takhrij Ihya’ (2/275) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadits tentang para wanita yang bersenandung saat kedatangan Rosululloh ini diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dala’ilun Nubuwah secara mu’dhol, namun tidak terdapat adanya menabuh duff dan nyanyian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Al Albani :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al Ghozali menyebutkan kisah ini dan menambah dengan menyebut adanya “ menabuh duff dan nyanyian.” Padahal tambahan ini tidak ada asal usulnya sebagaimana yang disebutkan oleh Al Hafidl Al ‘iroqi. Banyak orang yang tertitpu dengan tambahan ini, sehingga ada sebagian kalangan yang menyebutkan kisah ini sebagai dalil bolehnya nyanyian, padahal seandainyapun hadits ini shohih, maka ini bukan dalil atas kebenaran pendapat mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : beliau membolehkan nyanyian dan musik, padahal keduanya sangat jelas keharamannya sebagaimana yang ditegaskan oleh Rosululloh dalam banyak haditsnya. Diantaranya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي مالك الأشعري قال : ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف&lt;br /&gt;Dari Abu Malik al Asy’ari berkata : “Rosululloh bersabda : “Sungguh akan ada sekelompok dari umatku yang menganggap halal zina, sutra, khomer (minuman keras) dan alat musik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Bukhori : 5590)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ma’azif adalah alat musik. Berkata Imam Ibnul Qoyyim : dia adalah semua alat musik, tidak ada perselisihan diantara para ulama’ bahasa mengenai arti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : صوتان ملعونان في الدنيا والآخرة : مزمار عند نعمة ورنة عند مصيبة&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik berkata : “Rosululloh bersabda : “Dua suara yang dilaknat didunia dan akhirat, yaitu bunyi seruling ketika mendapatkan nikmat dan rintihan ketika mendapatkan mushibah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Shohih riwayat Al Bazzar dalam musnad beliau 1/377, Abu Bakr Asy Syafi’i 2.22, Dliya’ al Maqdsi 6/188)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله حرم علي الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام&lt;br /&gt;Dari Abdulloh bin Abbas berkata : “Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan kepadaku khomer, judi, gendang dan setiap yang memabukkan adalah harom.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Shohih riwayat Abu Dawud : 3696, Baihaqi 10/221, Ahmad 1/274, Abu Ya’la : 2729, Ibnu Hibban : 5341)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن الله عز وجل حرم الخمر والميسر والكوبة والغبيراء وكل مسكر حرام&lt;br /&gt;Dari Abdulloh bin Amr bin Ash bahwasannya Rosululloh bersabda : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan khomer, judi, gendang, ghubairo’ (minuman memabukkan yang terbuat dari jagung) dan setiap yang memabukkan adalah harom.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hadits hasan riwayat Abu Dawud : 3685, Thohawi 2/325, Baihaqi 10/221, Ahmad 2/157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عمران بن حصين قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” يكون في أمتي قذف ومسخ وخسف ”&lt;br /&gt;قيل : يا رسول الله ومتى ذاك ؟ قال : إذا ظهرت المعازف وكثرت القيان وشربت الخمور&lt;br /&gt;Dari Imron bin Hushoin berkata : “Rosululloh bersabda : “Akan terjadi pelemparan pada ummatku, dirubahnya manusia menjadi bentuk lain dan gempa. Beliau ditanya : “Kapankah itu terjadi wahai Rosululloh ?.” beliau menjawab : “Jika alat musik telah semarak, banyaknya penyanyi dan khomer di tenggak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hadits hasan riwayat Tirmidzi : 2213, Ibnu Abid Dunya 1/2 , Abu Amr Ad Dani 1/39, Ibnu Najjar 18/251)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits-hadits ini sangat tegas menunjukkan haramnya musik, maka seandainyapun riwayat tadi shohih, maka sama sekali tidak bisa dibawa kepada apa yang dilakukan oleh orang-orang yang membolehkan musik saat ini yang mereka namakan dengan musik atau nasyid islami (?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat masalah ini dengan terperinci para Tahrim Alat Thorb oleh Syaikh Al Albani juga tulisan akhuna Al Ustadz Abu Abdillah pada edisi … tahun …. Rubrik Tazkiyatun Nafs)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain yang juga lemah&lt;br /&gt;Dari Anas berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh datang ke kota Madinah, maka tatkala beliau sudah masuk kota, maka seluruh penduduk Madinah yang laki-laki maupun wanita berkata : Kemari wahai Rosululloh.” maka beliau bersabda : “Biarkan onta ini, karena dia sedang diperintah.” Ternyata unta tersebut berhenti di pintu rumahnya Abu Ayyub. Maka keluarlah wanita-wanita Bani Najjar sambil menabuh duff sambil bersenandung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا حبذا محمد من جار O نحن جوار من بني النجار&lt;br /&gt;Kami adalah wanita-wanita Bani Najjar&lt;br /&gt;Alangkah bagusnya bertetangga dengan Muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rosululloh keluar menemui mereka dan bersabda : “Apakah kalian mencintaiku ?. mereka menjawab : “Benar, wahai Rosululloh.” Maka Rosululloh bersabda : “Demi Alloh, sayapun mencintai kalian. Demi Alloh sayapun mencintai kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah 2/508. beliau berkata : telah menghabarkan kepada saya Abul Hasan Ali bin Umar berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Abdulloh bin Mukhollad Ad Dauri berkata : ” telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman berkata : ” telah menceritakan kepada kami Ibrohim bin Shirmah berkata : “telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari Ishaq bin Abdillah bin Abu Tholhah dari Anas berkata : ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits lebih lemah dari yang sebelumnya, karena Ibrohim bin Shirmah adalah seorang pendusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Adz Dzahabi : Ibrohim bin Shirmah al Anshori dari Yahya bin Sa’id dilemahkan oleh Daruquthni dan lainnya. Berkata Ibnu Adi : secara umum haditsnya munkar baik matan maupun sanadnya. Berkata Ibnu Ma’in : Dia pendusta yang keji.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;E. Kisah yang sebenarnya&lt;br /&gt;Setelah mengetahui kelemahan kisah diatas, maka secara wajar akan muncul sebuah pertanyaaan : Lalu bagaimana sebenarnya kejadian yang sebenarnya saat kedatangan Rosululloh di kota Madinah, apa yang dilakukan oleh penduduk Madinah saat itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup tempat untuk memaparkan kejadian kisah hijroh Rosululloh yang penuh dengan ibroh, silahkan dilihat pada kitab-kitab para ulama’ yang terpercaya. Di antaranya lihatlah shohih Bukhori kitab Manaqib Anshor bab kedatangan Rosululloh dan para sahabatnya ke Madinah. Juga apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bab haditsul hijroh, juga kitab-kitab siroh nabawiyyah yang shohih lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Takhrij ini saya ramu dari silsilah Tahdzir Da’iyah oleh Syaikh Ali Hasyisy dalam Majalah Tauhid Mesir dan Adh Dho’ifah Syaikh Al Albani no : 589&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Related posts:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sepenggal Kisah Lemah Seputar Perjalanan Hijroh Rosululloh ke Kota Madinah&lt;br /&gt;2.Kisah Masuk Islamnya Ikrimah bin Abu Jahl&lt;br /&gt;3.Mengangkat Tangan Saat Berdo’a: Antara Pengagum dan Pencela (Bag. 1)&lt;br /&gt;4.Mengangkat Tangan Saat Berdo’a: Antara Pengagum dan Pencela (Bag 2)&lt;br /&gt;5.Bedah Kisah-Kisah Tidak Nyata yang Tersebar di Masyarakat!&lt;br /&gt;Related posts brought to you by wp-related posts.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-751303559194713760?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/751303559194713760/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=751303559194713760' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/751303559194713760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/751303559194713760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/tholaal-badru-alaina-senandung-penduduk.html' title='Thola’al Badru ‘Alaina … Senandung Penduduk Kota Madinah Saat Menyambut Kedatangan Rosululloh'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-874218640916632379</id><published>2010-05-13T22:24:00.000-07:00</published><updated>2010-05-13T22:25:57.104-07:00</updated><title type='text'>Status Anak Hasil  Zina</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jawaban Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang “Taubat dari Perbuatan Zina”, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa dalil wajibnya istibra` ar-rahim dari bibit seseorang atas seorang wanita yang berzina jika hendak dinikahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apa dalil tidak bolehnya menasabkan anak hasil zina tersebut kepada lelaki yang berzina dengan ibunya? Apa dalil tidak bolehnya lelaki tersebut menjadi wali pernikahan anak itu dan bahwa lelaki tersebut bukan mahram anak itu (jika wanita)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil, bagaimana hukumnya dan bagaimana status anak-anak mereka yang dihasilkan setelah pernikahan? Apakah mereka merupakan mahram bagi anak zina tadi dan bisa menjadi wali pernikahannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Siapa saja yang bisa menjadi wali pernikahan anak zina tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Fulanah di Solo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi waman walah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Seorang wanita yang berzina dengan seorang lelaki, keduanya berstatus pezina selama belum bertaubat dari perzinaan itu. Maka wanita itu tidak boleh dinikahi oleh siapapun sampai terpenuhi dua syarat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Wanita itu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika yang hendak menikahinya adalah lelaki yang berzina dengannya maka juga dipersyaratkan laki-laki tersebut telah bertaubat. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat An-Nur: 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الزَّانِي لاَ يَنْكِحُ إلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki pezina tidaklah menikahi selain wanita pezina atau wanita musyrik, dan wanita pezina tidaklah menikahi selain lelaki pezina atau lelaki musyrik, dan hal itu diharamkan atas kaum mukminin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Wanita tersebut melakukan istibra` yaitu pembebasan rahim dari bibit lelaki yang telah berzina dengannya. Karena dikhawatirkan lelaki tersebut telah menanam bibitnya dalam rahim wanita itu. Artinya, wanita itu hamil akibat perzinaan itu. Maka wanita itu harus melakukan istibra` untuk memastikan bahwa rahimnya kosong (tidak hamil), yaitu menunggu sampai dia mengalami haid satu kali karena dengan demikian berarti dia tidak hamil. Apabila diketahui bahwa dia hamil maka istibra`-nya dengan cara menunggu sampai dia melahirkan anaknya. Kita tidak mempersyaratkan wanita itu melakukan ‘iddah1 karena sebagaimana kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/215, cet. Darul Atsar): “’Iddah adalah hak seorang suami yang menceraikan istrinya. Sedangkan lelaki yang berzina dengannya statusnya bukan suami melainkan fajir/pezina.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata dalam Majmu’ Fatawa (32/112): “Al-Istibra` bukan karena hak kehormatan mani lelaki pertama (yang menzinainya). Akan tetapi untuk hak kehormatan mani lelaki yang kedua (yang hendak menikahinya), karena tidak dibenarkan baginya untuk mengakui seseorang sebagai anaknya dan dinasabkan kepadanya padahal bukan anaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula jika ditinjau dari sisi qiyas, Syaikhul Islam berkata (32/111): “Seorang wanita yang khulu’2 -karena dia bukan wanita yang dicerai-, dia tidak ber-’iddah dengan ‘iddah wanita yang dicerai. Bahkan dia harus melakukan istibra` (membebaskan rahimnya) dan istibra` juga disebut iddah. Maka, wanita yang digauli dengan nikah syubhat dan wanita yang berzina lebih utama untuk melakukan istibra`.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam (32/110) juga berkata: “Karena wanita yang berzina bukanlah istri (yang ditalak) yang wajib untuk melakukan ‘iddah. Dan tidaklah keadaan wanita berzina melebihi keadaan budak wanita yang harus melakukan istibra` sebelum digauli oleh tuannya yang baru. Padahal seandainya dia telah dihamili oleh bekas tuannya maka anaknya dinasabkan kepada bekas tuannya itu. Maka wanita yang berzina (yang seandainya hamil maka anaknya tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinainya) lebih wajib untuk melakukan istibra`.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalil-dalil tentang istibra` pada budak wanita adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hadits Ruwaifi’ bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang sabaya (para wanita tawanan perang) pada perang Khaibar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ –يَعْنِي إِتْيَانَ الْحُبْلَى مِنَ السَّبَايَا- وَأَنْ يُصِيبَ اْمَرْأَةً ثَيِّبًا مِنَ السَّبْيِ حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak halal bagi seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air maninya di ladang orang –yakni menggauli wanita sabaya yang hamil– dan menggauli wanita sabaya yang telah bersuami sampai wanita itu melakukan istibra`.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Bazzar serta Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` 1/201, 5/141, no. 2137. Hadits ini memiliki syawahid/penguat-penguat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang para sabaya Authas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تُؤْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang hamil tidak boleh digauli sampai melahirkan, demikian pula yang tidak hamil sampai haid satu kali.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi. Namun yang benar sanadnya lemah karena Syarik bin Abdillah Al-Qadhi hafalannya jelek. Akan tetapi hadits ini memiliki syawahid/penguat-penguat sehingga dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 187 dan no. 1302)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Anak hasil zina tidak dinasabkan kepada lelaki yang menzinai ibu anak tersebut meskipun kita mengetahui bahwa secara hukum kauni qadari anak zina tersebut adalah anaknya. Dalam arti, Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan terciptanya anak zina tersebut sebagai hasil percampuran air mani laki-laki itu dengan wanita yang dizinainya. Akan tetapi secara hukum syar’i, anak itu bukan anaknya karena tercipta dengan sebab yang tidak dibenarkan oleh syariat, yaitu perzinaan. Permasalahan ini masuk dalam keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak yang lahir untuk pemilik kasur (artinya, anak yang dilahirkan oleh istri seseorang atau budak wanitanya adalah miliknya), dan seorang pezina tidak punya hak pada anak hasil perzinaannya.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jika seorang lelaki menghamili seorang wanita dengan perzinaan kemudian dia bermaksud menikahinya dengan alasan untuk menutup aib dan menyelamatkan nasab anak tersebut, maka hal itu haram atasnya dan pernikahannya tidak sah. Karena anak tersebut bukan anaknya menurut hukum syar’i. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama sebagaimana dalam Al-Mughni (6/184-185) dan Syarah Bulughul Maram karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu pada Bab ‘Iddah wal ihdad wal istibra`. Dan ini yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah dalam Fatawa mereka (20/387-389).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal ini, seluruh hukum nasab antara keduanya pun tidak berlaku. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Keduanya tidak saling mewarisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Lelaki tersebut tidak wajib memberi nafkah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Lelaki tersebut bukan mahram bagi anak itu (jika dia wanita) kecuali apabila lelaki tersebut menikah dengan ibu anak itu dan telah melakukan hubungan (sah) suami-istri, yang tentunya hal ini setelah keduanya bertaubat dan setelah anak itu lahir, maka anak ini menjadi rabibah-nya sehingga menjadi mahram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Lelaki tersebut tidak bisa menjadi wali anak itu dalam pernikahan (jika dia wanita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti laki-laki tersebut boleh menikahi putri zinanya. Yang benar dalam masalah ini, dia tidak boleh menikahinya, sebagaimana pendapat jumhur yang dipilih oleh Syaikhul Islam dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Karena anak itu adalah putrinya secara hukum kauni qadari berasal dari air maninya, sehingga merupakan darah dagingnya sendiri. Dalil yang paling kuat dalam hal ini adalah bahwasanya seorang laki-laki tidak boleh menikahi anak susuannya yang disusui oleh istrinya dengan air susu yang diproduksi dengan sebab digauli olehnya sehingga hamil dan melahirkan. Kalau anak susuan seseorang saja haram atasnya, tentu seorang anak zina yang berasal dari air maninya dan merupakan darah dagingnya sendiri lebih pantas untuk dinyatakan haram atasnya. (Lihat Majmu’ Fatawa, 32/134-137, 138-140, Asy-Syarhul Mumti’, 5/170)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama menyatakan bahwa seorang anak zina dinasabkan kepada ibu yang melahirkannya, dan keduanya saling mewarisi. Jadi nasab anak tersebut dari jalur ayah tidak ada. Yang ada hanyalah nasab dari jalur ibunya. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah bahwasanya suami istri yang melakukan li’an3 di hadapan hakim karena suaminya menuduh bahwa anak yang dikandung istrinya adalah hasil perzinaan sedangkan istrinya tidak mengaku lalu keduanya dipisahkan oleh hakim, maka anak yang dikandung wanita itu dinasabkan kepada ibunya dan terputus nasabnya dari jalur ayah. Sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu yang muttafaq ‘alaih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil maka pernikahan itu tidak sah berdasarkan apa yang telah dijelaskan pada jawaban pertama dan kedua. Hanya saja, kalau pernikahan itu dilangsungkan dengan anggapan bahwa hal itu boleh dan sah sebagaimana mazhab sebagian ulama yang berpendapat: “Boleh bagi seorang lelaki yang menghamili seorang wanita dengan perzinaan untuk menyelamatkan nasab anak itu dengan cara menikahinya dalam keadaan hamil, dengan syarat keduanya telah bertaubat dari perzinaan dan diketahui dengan pasti/yakin bahwa yang menghamilinya adalah laki-laki itu”, maka pernikahan itu dikategorikan sebagai nikah syubhat. Artinya, pernikahan itu berlangsung dengan anggapan bahwa hal itu boleh menurut syariat, padahal sebenarnya tidak boleh. Berarti pernikahan itu tidak mengubah status anak hasil perzinaan tersebut sebagai anak zina, dia tetap dinasabkan kepada ibunya dan tidak sah dinasabkan kepada lelaki tersebut. Adapun anak-anak yang dihasilkan setelah nikah syubhat, status mereka sah sebagai anak-anak keduanya4. Akan tetapi wajib atas keduanya untuk berpisah ketika mengetahui hakikat sebenarnya bahwa pernikahan itu tidak sah, sampai keduanya menikah kembali dengan akad nikah yang benar dan sah, tanpa harus melakukan istibra` ar-rahim. Ini adalah jawaban Syaikhuna Al-Faqih Abdurrahman Al-‘Adni hafizhahullah wa syafahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, diketahuilah bahwa hubungan antara anak zina tersebut dengan anak-anak yang lahir dengan nikah syubhat tersebut adalah saudara seibu tidak seayah, yang berarti mereka adalah mahramnya. Namun tidak bisa menjadi wali pernikahannya menurut pendapat jumhur, yang menyatakan bahwa wali pernikahan seorang wanita adalah setiap lelaki yang merupakan ‘ashabah5 wanita itu, seperti ayahnya, kakeknya dari jalur ayah, putranya, anak laki-laki putranya, saudara laki-lakinya yang sekandung atau seayah, pamannya dari jalur ayah dan ‘ashabah lainnya6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Yang menjadi walinya adalah sulthan. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata dalam Asy-Syarhul Mumti’ (5/154): “Yang dimaksud dengan sulthan adalah imam (amir) atau perwakilannya…. Adapun sekarang, urusan perwalian ini dilimpahkan oleh pemerintah kepada petugas khusus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri kita, mereka adalah para petugas (penghulu) Kantor Urusan Agama (KUA). Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ … فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin dari walinya maka pernikahannya batil…, dan jika para wali berselisih untuk menikahkannya maka sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abu ‘Awanah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Albani dalam Al-Irwa` (no. 1840) dan guru besar kami Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (2/493))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash-Shan’ani rahimahullahu berkata dalam Subulus Salam (3/187): “Hadits ini menunjukkan bahwa sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali dalam pernikahan, baik karena memang tidak ada walinya atau walinya ada namun tidak mau menikahkannya7.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang bertanya: Bukankah ibu seorang anak zina dan ‘ashabah ibunya merupakan ‘ashabah bagi anak zina itu sebagaimana pendapat sebagian ulama? Tidakkah mereka dianggap sebagai wali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: Ibnu Qudamah rahimahullahu dalam Al-Mughni (6/183) menerangkan bahwa kedudukan mereka sebagai ‘ashabah anak zina itu hanya dalam hal waris semata dan tidak berlaku dalam perkara perwalian nikah. Karena hubungan nasab mereka hanya melalui jalur ibu, sehingga tidak ada hak perwalian untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 ‘Iddah adalah masa penantian yang diatur oleh syariat bagi seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya, yaitu selama tiga kali masa haid. Adapun jika diceraikan dalam keadaan hamil maka ‘iddah-nya sampai melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Khulu’ adalah perpisahan suami-istri karena permintaan istri yang disertai dengan pembayaran ganti (harta) dari pihak istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Li’an adalah persaksian demi Allah yang diucapkan empat kali oleh masing-masing suami dan istri yang dikuatkan dengan sumpah untuk pembelaan diri masing-masing, kemudian yang kelima kalinya: disertai pernyataan dari suami bahwa laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dirinya jika dia berdusta menuduh istrinya berzina, dan disertai pernyataan dari istri bahwa murka Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya dirinya jika suaminya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Pendapat bahwa anak hasil nikah syubhat sah sebagai anak adalah pendapat Al-Imam Ahmad, Al-Imam Asy-Syafi’i, dan yang lainnya, dipilih oleh Syaikhul Islam, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Al-Lajnah Ad-Da`imah. Lihat Al-Mughni (7/288), Majmu’ Fatawa (32/66-67), Asy-Syarhul Mumti’ (5/641, cet. Darul Atsar) dan Fatawa Al-Lajnah (28/387).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Yaitu seluruh lelaki yang mewarisi harta wanita itu tanpa ada ketetapan bagian tertentu, melainkan mewarisi secara ta’shib. Artinya jika ahlul fardh (ahli waris yang telah ditentukan bagiannya) telah mengambil haknya maka harta warisan yang tersisa akan diwarisi oleh ‘ashabah, atau jika tidak ada ahlul fardh maka mereka yang mewarisi seluruh hartanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Lihat mazhab jumhur tentang wali pernikahan seorang wanita dalam Mukhtasar Al-Khiraqi bersama Al-Mughni (6/319-322), Fathul Bari (9/187), Nailul Authar (6/120), Subulus Salam (3/185), Asy-Syarhul Mumti’, (5/145-154).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Yaitu tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-874218640916632379?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/874218640916632379/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=874218640916632379' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/874218640916632379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/874218640916632379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/status-anak-hasil-zina.html' title='Status Anak Hasil  Zina'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-2937413490683695528</id><published>2010-05-07T12:36:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T12:37:47.101-07:00</updated><title type='text'>Hadits Tsaqalain : Ahlul-Bait Jaminan Keselamatan Dunia dan Akhirat</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;Abu Al-Jauzaa' &lt;br /&gt;Hadits ats-tsaqalain adalah salah satu hadits yang menjadi pokok perbedaan manhaj beragama antara Ahlus-Sunnah dan Syi’ah. Dan dari hadits inilah kemudian muncul teologi ‘beragama menurut Ahlul-Bait’ yang dikembangkan oleh Syi’ah. Mereka beranggapan agama ini hanya akan betul dan sah jika dibawakan menurut jalur Ahlul-Bait, bukan selain mereka. Ahlul-Bait yang dimaksudkan di sini bukanlah sesuai dengan apa yang dipahami Ahlus-Sunnah. Penjelasan lebih lengkapnya, silakan baca artikel sebelumnya yang berjudul : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/ahlul-bait-nabi-shallallaahu-alaihi-wa.html dan http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/ahlul-bait-adalah-jaminan-keselamatan.html.  &lt;br /&gt;Pada kesempatan kali ini, saya akan coba mendiskusikan hadits ats-tsaqalain ini dari beberapa jalur periwayatan, sekaligus bagaimana memahami makna yang ada di dalamnya. Sebagai pengantar, akan disebutkan beberapa (= tidak semua) riwayat hadits ats-tsaqalain sebagaimana di bawah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.         Shahih Muslim&lt;br /&gt;Pertama : &lt;br /&gt;حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَشُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ جَمِيعًا عَنْ ابْنِ عُلَيَّةَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِي أَبُو حَيَّانَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ قَالَ انْطَلَقْتُ أَنَا وَحُصَيْنُ بْنُ سَبْرَةَ وَعُمَرُ بْنُ مُسْلِمٍ إِلَى زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ فَلَمَّا جَلَسْنَا إِلَيْهِ قَالَ لَهُ حُصَيْنٌ لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْرًا كَثِيرًا رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَمِعْتَ حَدِيثَهُ وَغَزَوْتَ مَعَهُ وَصَلَّيْتَ خَلْفَهُ لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْرًا كَثِيرًا حَدِّثْنَا يَا زَيْدُ مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي وَاللَّهِ لَقَدْ كَبِرَتْ سِنِّي وَقَدُمَ عَهْدِي وَنَسِيتُ بَعْضَ الَّذِي كُنْتُ أَعِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا حَدَّثْتُكُمْ فَاقْبَلُوا وَمَا لَا فَلَا تُكَلِّفُونِيهِ ثُمَّ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ &lt;br /&gt;Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Makhlad, keduanya dari Ibnu ‘Ulayyah : Telah berkata Zuhair : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim : Telah menceritakan kepadaku Abu Hayyaan : Telah menceritakan kepadaku Yaziid bin Hayyaan, ia berkata : “Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Hushain bin Sabrah dan ‘Umar bin Muslim. Setelah kami duduk. Hushain berkata kepada Zaid bin Arqam : ‘Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, engkau mendengar sabda beliau, engkau bertempur menyertai beliau, dan engkau telah shalat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak wahai Zaid. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami - wahai Zaid – apa yang engkau dengan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Zaid bin Arqam berkata : ‘Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya’. Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan : ‘Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah di suatu tempat perairan yang bernama Khumm yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda : ‘Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian Ats-Tsaqalain (dua hal yang berat), yaitu : Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia (yaitu melaksanakan kandungannya) dan berpegang teguhlah kalian kepadanya’. Beliau menghimbau/mendorong pengamalan Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan : ‘ (Kedua), dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku’ – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali – . Hushain bertanya kepada Zaid bin Arqam : ‘Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?’. Zaid bin Arqam menjawab : ‘Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau’. Hushain berkata : ‘Siapakah mereka itu ?’. Zaid menjawab : ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas’. Hushain berkata : ‘Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?’. Zaid menjawab : ‘Ya’.&lt;br /&gt;Kedua :&lt;br /&gt;و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا حَسَّانُ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ مَسْرُوقٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِنَحْوِهِ بِمَعْنَى حَدِيثِ زُهَيْرٍ &lt;br /&gt;Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar-Rayyan : Telah menceritakan kepada kami Hassaan - yaitu Ibnu Ibraahiim - , dari Sa'iid bin Masruuq, dari Yazid bin Hayyaan, dari Zaid bin Arqam dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, (lalu dia menyebutkan haditsnya yang semakna dengan hadits Zuhair).&lt;br /&gt;Ketiga :&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي حَيَّانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِ إِسْمَعِيلَ وَزَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ مَنْ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail. Dan telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibraahiim : Telah mengkhabarkan kepada kami Jariir; keduanya (Muhammad bin Fudlail dan Jariir) dari Abu Hayyan melalui jalur ini sebagaimana hadits Ismaa’iil, dan di dalam hadits Jariir ada tambahan : “Yaitu Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya dan mengambil pelajaran dari dalamnya maka dia akan berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang menyalahinya, maka dia akan tersesat”.&lt;br /&gt;Keempat :&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا حَسَّانُ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ عَنْ سَعِيدٍ وَهُوَ ابْنُ مَسْرُوقٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَيْهِ فَقُلْنَا لَهُ لَقَدْ رَأَيْتَ خَيْرًا لَقَدْ صَاحَبْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّيْتَ خَلْفَهُ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِنَحْوِ حَدِيثِ أَبِي حَيَّانَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ أَلَا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ وَفِيهِ فَقُلْنَا مَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ نِسَاؤُهُ قَالَ لَا وَايْمُ اللَّهِ إِنَّ الْمَرْأَةَ تَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ الْعَصْرَ مِنْ الدَّهْرِ ثُمَّ يُطَلِّقُهَا فَتَرْجِعُ إِلَى أَبِيهَا وَقَوْمِهَا أَهْلُ بَيْتِهِ أَصْلُهُ وَعَصَبَتُهُ الَّذِينَ حُرِمُوا الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkaar bin Ar-Rayyaan : Telah menceritakan kepada kami Hassaan - yaitu Ibnu Ibraahiim - , dari Sa'iid - yaitu Ibnu Masruuq - , dari Yaziid bin Hayyaan dari Zaid bin Arqam. Dia (Yaziid) berkata : “Kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya : 'Sungguh kamu telah memiliki banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah, shalat di belakang beliau…dan seterusnya sebagaimana hadits Abu Hayyaan. Hanya saja dia berkata:  Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Al Qur'an, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.' Juga di dalamnya disebutkan perkataan : Lalu kami bertanya : “Siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau?”. Dia menjawab : “Bukan, demi Allah. Sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan ahlul-bait beliau adalah, keturunan dan keluarga beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2408].&lt;br /&gt;2.         Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ التَّيْمِيِّ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ التَّيْمِيُّ قَالَ انْطَلَقْتُ أَنَا وَحُصَيْنُ بْنُ سَبْرَةَ وَعُمَرُ بْنُ مُسْلِمٍ إِلَى زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ فَلَمَّا جَلَسْنَا إِلَيْهِ قَالَ لَهُ حُصَيْنٌ لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْرًا كَثِيرًا رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَمِعْتَ حَدِيثَهُ وَغَزَوْتَ مَعَهُ وَصَلَّيْتَ مَعَهُ لَقَدْ رَأَيْتَ يَا زَيْدُ خَيْرًا كَثِيرًا حَدِّثْنَا يَا زَيْدُ مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي وَاللَّهِ لَقَدْ كَبُرَتْ سِنِّي وَقَدُمَ عَهْدِي وَنَسِيتُ بَعْضَ الَّذِي كُنْتُ أَعِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا حَدَّثْتُكُمْ فَاقْبَلُوهُ وَمَا لَا فَلَا تُكَلِّفُونِيهِ ثُمَّ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطِيبًا فِينَا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَلَا يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَنِي رَسُولُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فَأُجِيبُ وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنَّ أَهْلَ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ أَكُلُّ هَؤُلَاءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Abu Hayyaan At-Taimiy : Telah menceritakan kepadaku Yaziid bin Hayyaan At-Taimiy, ia berkata : “Aku, Hushain bin Sabrah, dan ‘Umar bin Muslim berangkat menemui Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk bersamanya, Hushain berkata kepadanya : "Sesungguhnya Anda telah menuai kebaikan yang banyak wahai Zaid. Anda telah melihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan mendengar haditsnya. Kemudian Anda juga telah berperang bersamanya dan shalat bersamanya. Sungguh, Anda telah melihat kebaikan yang banyak. Karena itu, ceritakanlah kepada kami apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam." Zaid berkata : "Wahai anak saudaraku, demi Allah, usiaku telah lanjut, dan masaku pun telah berlalu, dan aku telah lupa sebagian yang telah aku hafal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka apa yang aku ceritakan pada kalian, terimalah. Dan apa yang tidak, maka janganlah kalian membebankannya padaku". Zaid melanjutkan berkata : “Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berdiri dan berkhutbah kepada kami di sebuah mata air yang biasa disebut Khumm, yakni bertempat antara Ka'bah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan mengungkapkan puji-pujian atas-Nya. Beliau memberi nasehat dan peringatan. Dan setelah itu beliau bersabda : ‘Amma ba'du, wahai sekalian manusia, aku hanyalah seorang manusia, yang hampir saja utusan Rabb-ku mendatangiku hingga aku pun memenuhinya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua perkara yang sangat berat di tengah-tengah kalian. Yang pertama adalah Kitabullah 'azza wajalla. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, ambillah dan berpegang-teguhlah kalian dengannya". Beliau memberikan motivasi terkait dengan kitabullah dan mendorongnya. Kemudian beliau bersabda lagi : "Dan (yang kedua adalah) ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah akan ahlul-baitku, aku ingatkan kalian karena Allah terhadap akan ahlul-baitku." Kemudian Hushain bertanya kepada Zaid : "Dan siapakah ahlul-baitnya wahai Zaid?. Bukankah isteri-isteri beliau adalah termasuk ahlul-baitnya?". Zaid menjawab : "Isteri-isteri beliau termasuk bagian dari ahlul-baitnya. Akan tetapi, ahlul-bait beliau adalah siapa saja yang telah diharamkan baginya untuk menerima sedekah setelah beliau". Hushain bertanya lagi : "Siapakah mereka itu?". Zaid menjawab : "Mereka adalah keluarga ‘Aliy, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja'far, dan keluarga ‘Abbaas". Zaid bertanya lagi : "Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima sedekah?". Ia menjawab : "Ya" [4/366-367].[1]&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ يَعْنِي ابْنَ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي أَلَا إِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair : Telah menceritkan kepada kami ‘Abdul-Malik – yaitu Ibnu Abi Sulaiman, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat berat, salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahlul-baitku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka tiba di telagaku” [3/26].[2]&lt;br /&gt;3.         Sunan At-Tirmidziy&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ هُوَ الْأَنْمَاطِيُّ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي &lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Abdirrahmaan Al-Kuufiy : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hasan – ia adalah Al-Anmaathiy - , dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jaabir bin ‘Abdillah, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam hajinya ketika di 'Arafah, sementara beliau berkhutbah di atas untanya - Al Qahwa`- dan aku mendengar beliau bersabda : ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang dengannya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu Kitabullah, dan ‘itrahku  ahlul-baitku" [no. 3786].[3] &lt;br /&gt;حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُنْذِرِ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَالْأَعْمَشُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي أَحَدُهُمَا أَعْظَمُ مِنْ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Al-Mundzir Al-Kuufiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari  ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid. Dan Al-A’masy dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari Zaid bin Arqam radliyallaahu ‘anhumaa, mereka berdua berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang sekiranya kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, salah satu dari keduanya itu lebih besar dari yang lain, yaitu; Kitabullah adalah tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahli baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telaga, oleh karena itu perhatikanlah oleh kalian, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku" [no. 3788].[4]&lt;br /&gt;4.         Al-Ma’rifah wat-Taarikh&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم  إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Yahya, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Al-Hasan bin ‘Ubaidillah, dari Abudl-Dluhaa, dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla, dan ‘itrahku ahlul-baitku. Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Al-Haudl” [1/536; shahih].&lt;br /&gt;5.         Mustadrak Al-Haakim.&lt;br /&gt;حدثناه أبو بكر بن إسحاق ودعلج بن أحمد السجزي قالا أنبأ محمد بن أيوب ثنا الأزرق بن علي ثنا حسان بن إبراهيم الكرماني ثنا محمد بن سلمة بن كهيل عن أبيه عن أبي الطفيل عن بن واثلة أنه سمع زيد بن أرقم رضى الله تعالى عنه يقول نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم بين مكة والمدينة عند شجرات خمس دوحات عظام فكنس الناس ما تحت الشجرات ثم راح رسول الله صلى الله عليه وسلم عشية فصلى ثم قام خطيبا فحمد الله وأثنى عليه وذكر ووعظ فقال ما شاء الله أن يقول ثم قال أيها الناس إني تارك فيكم أمرين لن تضلوا إن اتبعتموهما وهما كتاب الله وأهل بيتي عترتي ثم قال أتعلمون إني أولى بالمؤمنين من أنفسهم ثلاث مرات قالوا نعم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كنت مولاه فعلي مولاه&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Ishaaq dan Da’laj bin Ahmad Al-Sajziy, keduanya berkata : Telah memberitakan Muhammad bin Ayub : Telah menceritakan kepada kami Al-Azraq bin ‘Aliy : Telah menceritakan kepada kami Hassaan bin Ibraahiim Al-Kirmaaniy, : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah bin Kuhail, dari ayahnya, dari Abuth-Thufail bin Waatsilah : Bahwasannya ia mendengar Zaid bin Arqam radliyallaahu ta’ala ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berhenti di suatu tempat antara Makkah dan Madinah di dekat pohon-pohon yang teduh dan orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shalat. Setelah itu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berbicara kepada orang-orang. Beliau memuji dan menyanjung Allah ta’ala, mengingatkan dan memberikan nasehat (kepada manusia). Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Wahai sekalian manusia, aku tinggalkan kepadamu dua hal atau perkara, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitabullah dan ahlul-baitku ‘itrahku”. Kemudian beliau melanjutkan : “Bukankah aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri?”. Orang-orang menjawab : “Ya”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya”. [no. 4577].[5]&lt;br /&gt;6.         Musykiilul-Aatsaar.&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا إبْرَاهِيمُ بْنُ مَرْزُوقٍ قَالَ ثنا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ ثنا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَضَرَ الشَّجَرَةَ بِخُمٍّ فَخَرَجَ آخِذًا بِيَدِ عَلِيٍّ فَقَالَ  يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَسْتُمْ تَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ رَبُّكُمْ ؟ قَالُوا بَلَى قَالَ أَلَسْتُمْ تَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أَوْلَى بِكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ مَوْلَيَاكُمْ ؟ قَالُوا بَلَى قَالَ فَمَنْ كُنْت مَوْلَاهُ فَإِنَّ هَذَا مَوْلَاهُ أَوْ قَالَ فَإِنَّ عَلِيًّا مَوْلَاهُ شَكَّ ابْنُ مَرْزُوقٍ إنِّي قَدْ تَرَكْت فِيكُمْ مَا إنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ بِأَيْدِيكُمْ وَأَهْلَ بَيْتِي&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Marzuuq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al-‘Aqadiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Katsiir bin Zaid, dari Muhammad bin ‘Umar bin ‘Aliy, dari ayahnya, dari ‘Aliy : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berteduh di Khum kemudian beliau keluar sambil memegang tangan ‘Aliy. Beliau berkata : “Wahai manusia bukankah kalian bersaksi bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Rabb kalian?”. Orang-orang berkata : “Benar”. Beliau kembali bersabda : “Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri; serta Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah maula bagi kalian?”. Orang-orang berkata “benar”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda : “Maka barangsiapa yang menjadikan aku sebagai maulanya maka dia ini juga sebagai maulanya” atau [Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda] : “Maka ‘Aliy sebagai maulanya” [keraguan ini dari Ibnu Marzuq]. Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitabullah yang berada di tangan kalian, dan Ahlul-Bait-ku” [3/56].[6] &lt;br /&gt;Saya kira lafadh-lafadh di atas sudah cukup mewakili.&lt;br /&gt;Kita akan melihat secara keseluruhan makna yang paling tepat akan hadits tsaqalain ini sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. &lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui bahwa hadits di atas diucapkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada waktu yang sama dan disaksikan lebih dari seorang shahabat. Yaitu saat haji wada’, tepatnya di satu tempat yang bernama Khumm. Jika kita ketahui bahwa hadits ini keluar pada orang yang satu (yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam), waktu yang satu (yaitu saat haji wada’), dan tempat yang satu (Khumm), maka lafadh hadits ini pun sebenarnya satu. Hukum dan maknanya pun juga satu. &lt;br /&gt;Oleh karena itulah, kita perlu melihat keseluruhan lafadh hadits dari riwayat yang berbeda-beda sehingga kita bisa melihat lafadh hadits tersebut secara utuh. Karena telah ma’lum bahwa kadang satu hadits sengaja dibawakan oleh seorang perawi dengan meringkas, dan di lain riwayat ia bawakan secara lengkap. Juga, kadang seorang perawi menerima hadits dengan lafadh ringkas, namun perawi selain dirinya membawakan secara lengkap. Juga, adanya faktor kekurangan dalam sifat hifdh dari seorang perawi sehingga ia membawakan hadits yang semula panjang (lengkap), namun kemudian ia bawakan secara ringkas. Dan beberapa kemungkinan yang lainnya. &lt;br /&gt;Kita juga harus memperhatikan bahwa hadits yang mempunyai latar belakang kisah itu lebih kuat penunjukkan hukumnya daripada yang tidak.&lt;br /&gt;Ini semua mewajibkan kita untuk menelaah keseluruhan lafadh hadits yang ada.&lt;br /&gt;Telah tsabt riwayat dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad (mohon untuk dibaca kembali dengan seksama hadits di atas) bahwa ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada umatnya tentang dua perkara yang berat (ats-tsaqalain), beliau berkata :&lt;br /&gt;أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ&lt;br /&gt;“Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia (yaitu melaksanakan kandungannya) dan berpegang teguhlah kalian kepadanya”.&lt;br /&gt;Kemudian beliau menyambung perkara yang kedua :&lt;br /&gt;وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي&lt;br /&gt;“(Kedua), dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku”.&lt;br /&gt;Dari riwayat ini sangat jelas diketahui bahwa perintah untuk berpegang teguh ditujukan kepada Kitabullah. Adapun kepada Ahlul-Bait, beliau mengingatkan umatnya untuk memenuhi hak-haknya (sebagaimana diatur dalam syari’at). &lt;br /&gt;Jika Syi’ah mengatakan bahwa Kitabullah dan Ahluk-Bait adalah dua hal yang sama dan setara, maka itu tidak dapat diterima. Sebab, dalam riwayat lain (ex :  Sunan At-Tirmidziy no. 3788) menjelaskan bahwa salah satu dari keduanya lebih besar dari yang lain :&lt;br /&gt;إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ الْآخَرِ&lt;br /&gt;“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat berat, salah satunya lebih besar dari yang lain”.&lt;br /&gt;Hadits ini jelas menolak klaim kesetaraan. &lt;br /&gt;Jika Syi’ah mengatakan bahwa kata Ahlul-Bait setelah huruf wawu merupakan ‘athaf kepada Kitabullah – sebagaimana termaktub dalam Sunan At-Tirmidziy no. 3786 dan Al-Ma’rifah wat-Taariikh (sehingga mempunyai konsekuensi hukum yang sama dengan Al-Qur’an dalam perintah berpegang teguh dan jaminan tidak akan sesat ), ini pun tidak dapat diterima dengan alasan :&lt;br /&gt;1.         Telah lalu perkataan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah membedakan kedudukan keduanya. &lt;br /&gt;2.         Dalam salah satu riwayat Muslim telah disebutkan lafadh :&lt;br /&gt;كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ مَنْ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ&lt;br /&gt;“Yaitu Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya dan mengambil pelajaran dari dalamnya maka dia akan berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang menyalahinya, maka dia akan tersesat”.&lt;br /&gt;Penunjukkan perintah itu secara tegas hanya tertuju pada Al-Qur’an (Kitabullah), tanpa ada tambahan keterangan ‘itrah ahlul-bait. Lafadh ini berkesesuaian dengan riwayat Muslim sebelumnya (dalam lafadh yang panjang) dan Ahmad (dalam lafadh yang panjang).&lt;br /&gt;Sesuai pula dengan lafadh yang dibawakan Jaabir :&lt;br /&gt;وقد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله.&lt;br /&gt;“Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan tersesat : Kitabullah” [Shahih Muslim no. 1218].[7]&lt;br /&gt;yang tanpa ada keterangan tambahan berpegang teguh pada Ahlul-Bait.[8]&lt;br /&gt;3.         Lafadh hadits :&lt;br /&gt;إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي&lt;br /&gt;Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla, dan ‘itrahku ahlul-baitku”.&lt;br /&gt;Perhatikan kata yang di-bold merah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam memakai kata : bihi (به – “dengannya”), dimana ini merujuk pada satu hal saja, yaitu Kitabullah. Keterangan ini sesuai dengan hadits sebelumnya. Seandainya perintah tersebut mencakup dua hal (Kitabullah dan Ahlul-Bait) tentu ia memakai kata bihimaa (بهما - “dengan keduanya”), sebagaimana lafadh riwayat :&lt;br /&gt;تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة نبيه&lt;br /&gt;“Telah aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang dengan keduanya, tidak akan tersesat : Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya”.&lt;br /&gt;Hadits ‘Kitabullah wa sunnatii’ ini adalah dla’iif dengan seluruh jalannya. Di sini saya hanya ingin menunjukkan contoh penerapan dalam kalimat saja. Perintah berpegang teguh dan jaminan tidak akan tersesat dalam riwayat di atas dipahami merujuk pada Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena menggunakan bihimaa (بهما - “dengan keduanya”).[9] Ini adalah konsekeunsi logis dari kalimat itu sendiri.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kalimat : ‘dan ‘itrahku ahlul-baitku’ (وعترتي أهل بيتي) mansub kepada fi’il mahdzuuf dan itu merujuk pada kalimat : “aku ingatkan kalian akan Allah” (أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ) sebagaimana terdapat dalam riwayat Zaid bin Arqam yang dibawakan Muslim dan Ahmad.&lt;br /&gt;وإني تارك فيكم الثقلين أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور من استمسك به وأخذ به كان على الهدى ومن تركه وأخطأه كان على الضلالة وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي ثلاث مرات&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya aku akan meninggalkan kepada kalian Ats-Tsaqalain. Yang pertama adalah Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya. Barangsiapa yang berpegang teguh padanya dan mengambilnya (dengan melaksanakan kandungannya), maka ia berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang meninggalkannya dan menyalahinya, maka ia berada dalam kesesatan. Dan (yang kedua adalah) Ahlul-Baitku.  Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlul-baitku” – beliau mengatakannya tiga kali [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 2357; shahih].&lt;br /&gt;4.         Ahlul-Bait bukanlah pribadi-pribadi yang ma’shum. Berbeda dengan Al-Qur’an yang ma’shum dan pasti benar setiap huruf, kata, dan kalimatnya. ‘Aliy bin Abi Thaalib terbukti pernah keliru dengan meminang putri Abu Jahl sehingga mendapat teguran dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;فإني أنكحت أبا العاص ابن الربيع. فحدثني فصدقني. وإن فاطمة بنت محمد مضغة مني. وأنما أكره أن يفتنوها. وإنها، والله! لا تجتمع بنت رسول الله وبنت عدو الله عند رجل واحد أبدا&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku telah mengawinkan Abul-‘Ash bin Ar-Rabii’, lalu ia memberitahuku dan membenarkanku. Sesungguhnya Fathimah bnti Muhammad adalah darah dagingku, karena itu aku tidak suka jika orang-orang memfitnahnya. Demi Allah, sungguh tidak boleh dikumpulkan selamanya antara anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah oleh seorang suami” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2449].&lt;br /&gt;‘Aliy juga pernah salah ketika memberi hukuman terhadap para mulhidin dengan membakarnya :&lt;br /&gt;عن عكرمة : أن عليا رضي الله عنه حرق قوما، فبلغ ابن عباس فقال: لو كنت أنا لم أحرقهم، لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (لا تعذبوا بعذاب الله). ولقتلتهم، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم: (من بدل دينة فاقتلوه).&lt;br /&gt;Dari ‘Ikrimah : Bahwasannya ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu pernah membakar satu kaum. Sampailah berita itu kepada Ibnu ‘Abbas, lalu ia berkata : “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Janganlah menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan niscaya aku juga akan bunuh mereka sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 3017].&lt;br /&gt;Dalam riwayat At-Tirmidziy disebutkan :&lt;br /&gt;فبلغ ذلك عليا فقال صدق بن عباس&lt;br /&gt;“Maka sampailah perkataan itu pada ‘Aliy, dan ia berkata : ‘Benarlah Ibnu ‘Abbas” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1458; shahih. Diriwayatkan pula oleh Asy-Syafi’iy 2/86-87, ‘Abdurrazzaaq no. 9413 &amp; 18706, Al-Humaidiy no. 543, Ibnu Abi Syaibah 10/139 &amp; 12/262 &amp; 14/270, Ahmad 1/217 &amp; 219 &amp; 282, Abu Dawud no. 4351, Ibnu Maajah no. 2535, An-Nasaa’iy 7/104, Ibnul-Jaarud no. 843, Abu Ya’laa no. 2532, Ibnu Hibbaan no. 4476, dan yang lainnya].&lt;br /&gt;‘Aliy juga pernah keliru saat menegur Faathimah karena ia bercelak setelah tahallul : &lt;br /&gt;وقدم علي من اليمن ببدن النبي صلى الله عليه وسلم فوجد فاطمة رضى الله تعالى عنها ممن حل ولبست ثيابا صبيغا واكتحلت فأنكر ذلك عليها فقالت إن أبي أمرني بهذا قال فكان علي يقول بالعراق فذهبت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم محرشا على فاطمة للذي صنعت مستفتيا لرسول الله صلى الله عليه وسلم فيما ذكرت عنه فأخبرته أني أنكرت ذلك عليها فقال صدقت صدقت&lt;br /&gt;“…….Sementara itu ‘Aliy datang dari Yaman membawa hewan kurban Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Didapatinya Fathimah termasuk orang yang tahallul; dia mengenakan pakaian bercelup dan bercelak mata. ‘Aliy melarangnya berbuat demikian. Fathimah menjawab : "Ayahku sendiri yang menyuruhku berbuat begini". ‘Aliy berkata : ‘Maka aku pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta fatwa terhadap perbuatan Fathimah tersebut. Kujelaskan kepada beliau bahwa aku mencegahnya berbuat demikian. Beliau pun bersabda : "Fathimah benar……." [Diriwayatkan Muslim no. 1218].&lt;br /&gt;dan yang lainnya.&lt;br /&gt;Bagaimana bisa kemudian Ahlul-Bait hendak disamakan dengan Al-Qur’an dalam perintah untuk selalu berpegang-teguh kepadanya dan jaminan aman dari kesesatan ? Kesesuaian mereka terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan tolok ukur dan jaminan petunjuk bagi manusia. Adapun kekeliruan mereka, maka sudah selayaknya tidak kita ikuti. Barangsiapa yang mengikuti kekeliruan mereka, maka ia telah menyimpang. Ahlul-Bait tetap dibebani kewajiban untuk berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barangsiapa yang menetapinya keduanya (Al-Qur’an dan As-Sunnah) akan selamat, dan barangsiapa menyelisihinya akan tersesat.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, petunjuk yang dapat mereka berikan (kepada umat) tetap di-taqyid dengan kesesuaian terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sama seperti para shahabat, tabi’iin, dan tabi’ut-tabi’iin lainnya.&lt;br /&gt;Jika ada yang mengatakan :&lt;br /&gt;Telah ditunjukkan bahwa lafaz “berpegang teguh kepada Ahlul Bait” shahih dari Rasulullah SAW. Diantaranya kami menunjukkan bahwa riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam menyebutkan lafaz “berpegang teguh pada Kitab Allah dan Ahlul Bait”. Walaupun terdapat hadis lain yaitu riwayat Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam yang hanya menyebutkan lafaz “berpegang teguh kepada Kitab Allah” saja, tidaklah berarti riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam menjadi tertolak. Justru kalau kita menggabungkan keduanya maka hadis Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam melengkapi hadis Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam. Menjamak keduanya jelas lebih tepat dan hasil penggabungan keduanya adalah Rasulullah SAW menetapkan “berpegang teguh pada Kitab Allah dan Ahlul Bait”. Hal yang sangat ma’ruf bahwa penetapan yang satu bukan berarti menafikan yang satunya. Apalagi jika terdapat dalil shahih penetapan keduanya maka dalil penetapan yang satu harus dikembalikan kepada penetapan keduanya.&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah perkataan ini lahir dari pengetahuan penjamakan lafadh-lafadh hadits yang dikenal ulama. Dan siapa pula yang menolak hadits Abudl-Dluhaa ? Bisa dicermati hadits-hadits di atas. Hadits Abu Dluhaa dari Zaid bin Arqam merupakan lafadh yang lebih ringkas daripada lafadh hadits Yaziid bin Hayyaan dari Zaid bin Arqam. Juga, lafadh hadits Abudl-Dluhaa bukan merupakan jenis lafadh ziyaadatuts-tsiqah karena tidak ada lafadh yang bisa ditambahkan pada lafadh Yaziid bin Hayyaan. Tidak lebih, ia hanya merupakan ikhtishar saja. Jenis-jenis semacam ini banyak dalam kutubus-sunnah. Justru lafadh yang lengkap ada pada hadits Yaziid bin Hayyaan. Jika demikian, bagaimana bisa dipahami bahwa hadits Abu Dluhaa adalah pelengkap lafadh Yaziid bin Hayyaan ?. Di bagian mana lafadh hadits Abudl-Dluhaa melengkapi lafadh hadits Yaziid bin Hayyaan ?&lt;br /&gt;Jangan kita terpengaruh oleh syubhat : Apalagi dalam riwayat Yazid bin Hayyan dari Zaid terdapat lafal dimana Zaid berkata “aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Bukankah ini menunjukkan kalau hadis yang mengandung lafal seperti ini membutuhkan penjelasan dari hadis lain.  &lt;br /&gt;Kalimat di atas sepertinya punya kecenderungan untuk diarahkan bahwa saat Zaid bin Arqam menceritakan kepada Yaziid bin Hayyaan dalam keadaan telah tua dan sebagian hal ada yang telah terlupakan dari ingatannya, termasuk hadits ini.&lt;br /&gt;Mari kita cermati apa sebenanya yang dikatakan Zaid bin Arqam : &lt;br /&gt;“Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku telah tua dan ajalku semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya”.&lt;br /&gt;Dapat kita pahami bahwa hadits yang disampaikan Zaid bin Arqam kepada Yaziid bin Hayyaan adalah hadits yang masih ia ingat betul. Saya sepakat, mungkin saja ada beberapa lafadh yang kurang dalam hadits Yaziid bin Hayyaan, dan itu bisa ditambahi dari riwayat-riwayat lain yang termasuk dalam katagori : ziyaadatuts-tsiqah. Memperhatikan riwayat-riwayat yang telah disebutkan di atas, beberapa lafadh yang dapat ditambahkan ke dalam lafadh hadits Yaziid bin Hayyaan dari Zaid bin Arqam sebagai berikut (yang asal sanadnya hasan atau shahih) :&lt;br /&gt;أما بعد. ألا أيها الناس! فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب. وأنا تارك فيكم ثقلين، [أحدهما أعظم من الآخرِ] : أولهما كتاب الله [حبل ممدود من السَّماء إلى الأرض] فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله. واستمسكوا به [ومن تركه كان على ضلالة]" فحث على كتاب الله ورغب فيه. ثم قال "وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي [فانظروا كيف تخلفوني فيهما]. [ألستم تشهدون أن اللَّه عزّ وجلّ ربّكم ؟ قالوا بلى قال ألستم تشهدون أنّ اللَّه ورسوله أولى بكم من أنفسكم وأنّ اللَّه عزّ وجلّ ورسوله مولياكم ؟ قالوا بلى قال فمن كنت مولاه فإنّ هذا مولاه أو قال فإنّ عليّا مولاه]&lt;br /&gt;“Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang lalu dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian Ats-Tsaqalain (dua hal yang berat), [salah satu dari keduanya itu lebih besar dari yang lain]. Pertama, Kitabullah [yaitu tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi] yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia (yaitu melaksanakan kandungannya) dan berpegang teguhlah kalian kepadanya, [dan barangsiapa yang menyalahinya, maka dia akan tersesat]”. (Perawi berkata) : Beliau menghimbau/mendorong pengamalan Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan : ‘ (Kedua), dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlul-baitku. [karena itu perhatikanlah oleh kalian, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku]. [Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Rabb kalian?”. Orang-orang berkata : “Benar”. Beliau kembali bersabda : “Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri; serta Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah maula bagi kalian?”. Orang-orang berkata “benar”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda : “Maka barangsiapa yang menjadikan aku sebagai maulanya maka dia ini juga sebagai maulanya”].&lt;br /&gt;Adakah ruang bagi riwayat Abudl-Dluhaa untuk menambah lafadh Yaziid bin Hayyaan ? (Jawabnya : Tidak).[10]&lt;br /&gt;Ringkasnya, riwayat Yaziid bin Hayyaan dari Zaid bin Arqam merupakan penjelas dari riwayat Abudl-Dluhaa dari Zaid bin Arqam, terutama di bagian kalimat : ‘dan ‘itrahku ahlul-baitku’. Bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;Tidak ada penunjukan dalam hadits ats-tsaqalain untuk selalu berpegang tegus pada ahlul-bait dan jaminan pasti aman dari kesesatan. Hadits ats-tsaqalain memberikan penjelasan tentang kewajiban untuk mencintai, menghormati, memuliakan, dan menunaikan hak-hak Ahlul-Bait sepeninggal beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang dipahami oleh para shahabat radliyallaahu ‘anhum. &lt;br /&gt;حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَصَدَقَةُ قَالَا أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ وَاقِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ ارْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin Ma’iin dan Shadaqah, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Waaqid bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Telah berkata Abu Bakr : “Peliharalah hubungan dengan Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan cara menjaga hubungan baik dengan ahlul-bait beliau” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3751].&lt;br /&gt;Semoga yang dituliskan ini ada manfaatnya.&lt;br /&gt;Wallaahu ta’ala a’lam bishs-shawwaab.&lt;br /&gt;[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]      Sanad hadits ini shahih.&lt;br /&gt;[2]      Sanad hadits ini lemah dengan kelemahan terletak pada ‘Athiyyah, ia adalah Ibnu Sa’d bin Janaadah Al-‘Aufiy. Ia telah dilemahkan oleh jumhur ahli hadiits. Ahmad berkata : “Dla’iiful-hadiits. Telah sampai kepadaku bahwasannya ‘Athiyyah mendatangi Al-Kalbiy dan mengambil darinya tafsir, dan ‘Athiyyah memberikan kunyah kepadanya (Al-Kalbiy) Abu Sa’iid. Kemudian (saat meriwayatkan) ia berkata : ‘Telah berkata Abu Sa’iid’. Husyaim telah mendla’ifkan hadits ‘Athiyyah” [Al-‘Ilal, no. 1306 dan Al-Kaamil 7/84 no. 1530]. Ahmad juga berkata : “Sufyan – yaitu Ats-Tsauriy – telah mendla’ifkan hadits ‘Athiyyah” [Al-‘Ilal, no. 4502]. Yahyaa bin Ma’iin dalam riwayat Ad-Duuriy berkata : “Shaalih” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 6/383 no. 2125]. Namun dalam riwayat lain, seperti Abul-Waliid bin Jaarud, Ibnu Ma’iin berkata : “Dla’iif” [Adl-Dlu’afaa’ Al-Kabiir, hal. 1064 no. 1395].  Juga riwayat Ibnu Abi Maryam, bahwasannya Ibnu Ma’iin berkata : “Dla’iif, kecuali jika ia menuliskan haditsnya” [Al-Kaamil, 7/84 no. 1530]. Abu Haatim berkata : “Dla’iiful-hadiits, ditulis haditsnya. Abu Nadlrah lebih aku sukai daripadanya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 6/383 no. 2125]. Abu Zur’ah berkata : “Layyin (lemah)” [idem]. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif” [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun no. 481]. Al-Bukhaariy berkata : “Telah berkata Ahmad terhadap hadits ‘Abdul-Malik dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Telah aku tinggalkan pada kalian ats-tsaqalain…’ : “Hadits-Hadits orang-orang Kuffah ini munkar” [Taariikh Ash-Shaghiir, 1/267]. Abu Dawud berkata : “Ia bukan termasuk orang yang dipercaya (dapat dijadikan sandaran)” [Suaalaat Abi ‘Ubaid Al-Aajuriiy, hal. 105 no. 24]. Ad-Daaruqthniy berkata : “Mudltharibul-hadiits” [Al-‘Ilal, 4/291]. Di tempat lain ia juga berkata : “Dla’iif” [As-Sunan, 4/39 – dari Mausu’ah Aqwaal Ad-Daaruquthniy, hal. 453]. Ibnu ‘Adiy berkata : “Bersamaan dengan kedla’ifannya, ia ditulis haditsnya” [Al-Kaamil, 7/85]. Ibnu Sa’d berkata : “Ia tsiqah, insya Allah. Memiliki hadits-hadits yang baik dan sebagian orang tidak menjadikannya sebagai hujjah” [Thabaqaat Ibni Sa’ad, 6/304]. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Kuffah yang tsiqah, namun tidak kuat (haditsnya)” [Ma’rifatuts-Tsiqaat, 2/140 no. 1255]. Ibnu Syaahiin berkata : “Tidak mengapa dengannya, sebagaimana dikatakan Ibnu Ma’iin” [Taariikh Asmaa’ Ats-Tsiqaat, hal. 247 no. 970]. Adz-Dzahabiy berkata : “Para ulama telah mendla’ifkannya” [Al-Kaasyif 2/27 no. 3820]. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, banyak salahnya, orang Syi’ah mudallis” [Tahriirut-Taqriib 3/20 no. 4616]. &lt;br /&gt;[lihat juga : Tahdziibul-Kamaal, 20/145-149 no. 3956 dan Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 2/209 no. 2937.&lt;br /&gt;Di sini ‘Athiyyah juga membawakan riwayat dengan ‘an’anah sedangkan ia seorang mudallis tingkat keempat – sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar [lihat : Ta’riifu Ahlit-Taqdis hal. 130 no. 122]. Jenis tadliis yang ia lakukan adalah jenis tadliis yang buruk, sebagaimana ditunjukkan dari perkataan Ahmad di atas.&lt;br /&gt;Janganlah Anda terpedaya oleh ucapan : “Sebagian ulama menta’dilkan Athiyah dan sebagian yang lain mendhaifkannya. Mereka yang mendhaifkan Athiyyah tidak memiliki alasan yang kuat kecuali kalau Athiyyah dinyatakan melakukan tadlis syuyukh”.&lt;br /&gt;Bagaimana bisa dikatakan tidak kuat ? Mereka men-jarh tidak semata-mata karena tadlis syuyukh yang qabiih (jelek) dari ‘Athiyyah. Silakan perhatikan benar-benar daftar perkataan para ulama terhadap diri ‘Athiyyah di atas. Jarh yang mereka alamatkan adalah dari sisi hapalannya. Bukankah Ibnu Ma’iin berkata bahwa ia seorang yang lemah kecuali jika ia menuliskan haditsnya ? Bukankah Ad-Daaruquthniy mengatakan ia seorang yang mudltharib (goncang) ? Juga jarh layyin dari Abu Zur’ah, ini menunjukkan jeleknya hapalan (suu’ul-hifdhiy). Ad-Daaruquthniy telah menjelaskan bahwa jika seseorang di-jarh dengan perkataan layyin, maka ia di-jarh bukan dari sisi ‘adalah-nya (maksudnya di sini, ia di-jarh dari sisi dlabth-nya) [lihat : Al-Khulaashah fii ‘Ilmil-Jarh wat-Ta’diil, hal. 312]. Ini semua menunjukkan cacat di sisi ke-dlabith-annya. Ini bukan jenis jarh yang mubham. Selain itu, darimana dapat disimpulkan tajrih Husyaim, Ats-Tsauriy, Abu Haatim, An-Nasaa’iy, Abu Dawud, dan Ibnu ‘Adiy keluar semata-mata dengan sebab tadlis syuyuukh dari ‘Athiyyah ?&lt;br /&gt;Pen-tsiqah-an Ibnu Syaahin bersandar pada perkataan Ibnu Ma’iin, padahal ia (Ibnu Ma’iin) telah mempunyai perkataan yang lebih rinci sebagaimana ternukil dari riwayat Ibnu Abi Maryam. Adapun pen-tautsiq-an Al-‘Ijliy – bersamaan dengan tasahul­-nya dalam pen-tautsiq-an perawi – ada hujjah yang menunjukkan jarh yang saya tunjukkan, yaitu tambahan keterangan : “Wa laisa bil-qawiy (dan ia bukan orang yang kuat)”. Maksudnya di sini, ‘Athiyyah tidak kuat dari sisi hapalannya (dlabth), namun terpercaya dari sisi ‘adalah-nya. Adapun bersandar pada tahsin At-Tirmidziy - kalaupun kita menganggap bahwa tahsin terhadap hadits itu dimutlakkan pada tahsin perawinya - , ia termasuk ulama yang tasaahul dalam pen-tautsiq-an perawi. Dan yang tersisa tinggallah tautsiq dari Ibnu Sa’d. &lt;br /&gt;Pen-tautsiq-an ini sangatlah tidak memadai untuk mengalahkan ta’yin jarh ulama pada diri ‘Athiyyah, karena jarh yang mereka pakai adalah mufassar – selain juga merupakan pendapat mayoritas dalam pendla’ifan.&lt;br /&gt;Jika ada yang mengatakan : “Imam Bukhari berkata “Ahmad berkata tentang hadis Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Athiyyah dari Abu Sa’id bahwa Nabi SAW bersabda “aku tinggalkan untuk kalian Ats Tsaqalain” hadis orang-orang kufah yang mungkar [Tarikh As Saghir juz 1 no 1300]. Perkataan Ahmad bin Hanbal ini sangat jelas kebathilannya. Hadis Tsaqalain tidak hanya diriwayatkan oleh Abdul Malik dari Athiyyah dari Abu Sa’id tetapi telah diriwayatkan dengan banyak jalan dan diantaranya terdapat jalan yang shahih seperti halnya riwayat Zaid bin Arqam sebelumnya”.&lt;br /&gt;Justru perkataan di atas lah yang lebih jelas kebathilannya karena minimnya pengetahuan atas istilah-istilah ilmu hadits. Perkataan hadits munkar itu menunjukkan adanya kelemahan dari perawinya. Bukankah definisi dari hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi dla’iif yang menyelisihi perawi tsiqah. Dalam definisi lain mengatakan : Hadits yang dalam sanadnya terdapat perawi yang banyak kelirunya, banyak lupanya, atau menampakkan kefasikannya [lihat dua definisi ini dalam Taisiru Mushthalahil-Hadiits oleh Mahmuud Ath-Thahhaan, hal. 74]. Jika memang tidak ada cacat dari para perawinya, apakah mungkin satu hadits dikatakan munkar ? (menurut ilmu mushthalah yang sudah ma’ruuf). Di sini Al-Imam Ahmad sedang membicarakan hadits ‘Athiyyah yang ia sendiri telah men-jarh-nya dengan : “Dla’iif”. Ia pun menukil pen-dla’if-an itu juga dari Husyaim dan Ats-Tsauriy. Apakah menjadi ‘sangat tidak mungkin’ jarh tersebut adalah jarh yang dilamatkan karena ke-dla’ifan-an diri ‘Athiyyah ? Jadi sangat tidak ‘nyambung’ menolak pendlaifan ‘Athiyyah dari Al-Imam Ahmad ini dan menyanggahnya dengan alasan : ‘Hadis Tsaqalain tidak hanya diriwayatkan oleh Abdul Malik dari Athiyyah dari Abu Sa’id tetapi telah diriwayatkan dengan banyak jalan dan diantaranya terdapat jalan yang shahih seperti halnya riwayat Zaid bin Arqam sebelumnya’. Memang benar hadits ats-tsaqalain ini bukan hanya diriwayatkan dari jalur tersebut. Namun sekali lagi tidak ‘nyambung’ jika alasan ini digunakan untuk menolak pen-dla’if-an ‘Athiyyah.&lt;br /&gt;[3]      Sanad hadits ini lemah, dengan kelemahan yang terletak pada Zaid bin Al-Hasan Al-Anmathiy. Ia seorang perawi yang diperselisihkan. Abu Haatim berkata : “Matruukul-hadiits”. Sedangkan Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat. Ia telah didla’ifkan oleh Ibnu Hajar dalam At-Taqriib – dan ini disepakati oleh Basyar ‘Awaad dalam Tahriir Taqriibit-Tahdziib (1/433 no. 2127) dan tahqiq-nya terhadap Sunan At-Tirmidziy (6/124). Begitu pula Adz-Dzahabiy dalam Al-Kaasyif (1/416 no. 1731). &lt;br /&gt;Dalam ilmu hadits, Abu Haatim adalah ulama yang tasyaddud, dan sebaliknya Ibnu Hibbaan adalah ulama yang tasaahul. Kesepakatan dua orang haafidh (yaitu Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabiy) dalam pendla’ifan mempunyai nilai tersendiri. Hal itu bisa dibuktikan dari pengambilan perkataan mereka dalam pendla’ifan Al-Anmathiy oleh para ulama setelahnya. Apalagi, Adz-Dzahabiy yang menjadi salah satu sumber penilaian tasyaddud-nya Abu Haatim (dalam kitab As-Siyaar, 13/260), maka di sini ia telah memberikan penilaian dengan mengambil pendla’ifan Abu Haatim.&lt;br /&gt;Qarinah yang lebih menunjukkan kelemahan diri Al-Anmathiy adalah bahwasannya ia telah diselisihi oleh Haatim bin Ismaa’iil Al-Madiniy dan Hafsh bin Ghiyaats, dimana mereka berdua meriwayatkan Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jaabir, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang khutbah wada’, dimana beliau bersabda :&lt;br /&gt;وقد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به. كتاب الله.&lt;br /&gt;“Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan tersesat : Kitabullah” [Shahih Muslim no. 1218].&lt;br /&gt;yaitu tanpa tambahan lafadh : ‘dan ‘itrahku ahlul-baitku’ (وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي).&lt;br /&gt;Maka dari itu, yang raajih – sebagaimana ini diambil oleh para muhaqqiq – adalah ta’yin atas kelemahan diri Zaid bin Al-Hasan Al-Anmathiy. Dan untuk tambahan (ziyadah) lafadh : ‘dan ‘itrahku ahlul-baitku’ (وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي) adalah tambahan yang munkar, karena dibawakan oleh perawi dla’if – sebagaimana kaidah ini dijelaskan Ibnu Shalah dalam ‘Uluumul-Hadiits.&lt;br /&gt;NB : Jika ada yang mengatakan bahwa At-Tirmidziy memberikan tautsiq kepada Zaid bin Al-Hasan, maka perkataannya perlu ditinjau ulang. Jika ia mengatakan hal itu dengan melihat penghukumannya atas hadits : hasan ghariib; maka para ulama telah bersilang pendapat mengenai makna perkataan ini. Beda peristilahan antara ghariib, hasan, hasan ghariib, hasan shahih, dan hasan shahih ghariib. Ini berawal dari persyaratan hadits hasan yang diberikan sendiri oleh At-Tirmidziy dalam Sunan-nya, yaitu : (1) Ketiadaan perawi yang dituduh berdusta (muttaham bil-kidzb), (2) sanadnya tidak syadz, dan (3) mempunyai jalan periwayatan lain selain dari sanad hadits itu. Dan seterusnya. Oleh karena itu, tidak layak berpegang pada perkataan At-Tirmidziy : ‘hasan ghariib’ sebagai tanda pen-tautsiq-an terhadap seluruh rawinya. &lt;br /&gt;[4]      Hadits ini terdiri dari dua sanad yang poros sanadnya pada Al-A’masy. &lt;br /&gt;a.   Hadits Abu Sa’iid; yaitu dari ‘Aliy bin Al-Mundzir Al-Kuufiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari  ‘Athiyyah, dari Abu Sa’iid.&lt;br /&gt;Sanad ini lemah karena ‘Athiyyah, ia adalah Ibnu Sa’d bin Janaadah Al-‘Aufiy. Telah lalu penjelasannya di atas.&lt;br /&gt;Di sini ia juga membawakan dengan ‘an’anah sedangkan ia seorang mudallis tingkat keempat – sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar [lihat : Ta’riifu Ahlit-Taqdis hal. 130 no. 122].&lt;br /&gt;b.   Hadits Zaid bin Al-Arqam; yaitu dari ‘Aliy bin Al-Mundzir Al-Kuufiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail : Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari Zaid bin Arqam.&lt;br /&gt;Sanad hadits ini lemah, karena Habiib bin Abi Tsaabit. Ia adalah perawi yang dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim. Akan tetapi  ia adalah seorang yang banyak melakukan tadliis dan irsal. Ibnu Hajar memasukkannya mudallis tingkat tiga [Thabaqaatul-Mudallisiin, no. 69]. Riwayatnya tidak diterima kecuali jika ia membawakan dengan tashriih penyimakannya [lihat Riwaayaatul-Mudallisiin fii Shahiih Al-Bukhaariy oleh Dr. ‘Awwad Al-Khalaf, hal. 283]. Dan dalam sanad riwayat ini, ia membawakan dengan ‘an’anah.&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang menolak pensifatan tadlis dan irsal terhadap Habiib sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar (- yang kemungkinan orang tersebut bertaqlid pada Dr. Basyar ‘Awwaad dalam At-Tahriir). &lt;br /&gt;Penolakan sifat banyak tadliis dan irsaal ini sangatlah aneh. Penisbatan sifat ini telah dikatakan oleh Ibnu Hibbaan, Ibnu Khuzaimah, dan Ad-Daaruquthniy. Apa yang mereka katakan punya sandaran, yaitu apa yang dikatakan oleh Ibnu Ja’far An-Nuhaas dimana Habiib pernah berkata kepadanya : “Apabila seseorang menceritakan hadits kepadaku yang berasal darimu, kemudian aku menceritakannya langsung darimu maka itu benar bagiku” [dari ta’liq Dr. ‘Abdul-Ghafaar bin Sulaimaan dan Prof. Muhammad bin Ahmad terhadap Ta’riifu Ahlit-Taqdiis hal. 87]. Semisal dengan ini telah dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam At-Ta’rif dari Al-A’masy saat menyebutkan keterangan Habiib bin Abi Tsaabit. Ad-Daaruquthniy juga telah mengisyaratkan apa yang dikatakan Ibnu Hajar ini dengan perkataannya : “Habiib tidak mendengar hadits ini dari Abul-Hayyaaj. Ia hanyalah mendengar dari Abu Waail Syaqiiq bin Salamah, dari Abul-Hayyaaj, sebagaimana dikatakan oleh Ats-Tsauriy” [Al-‘Ilal, 4/183 – melalui perantaraan Mausu’ah Aqwaal Ad-Daaruquthniy hal. 185 no. 861]. Semua ini adalah indikasi yang menguatkan apa yang dikatakan Ibnu Hajar.&lt;br /&gt;Pensifatan tadlis ini juga dikatakan oleh Al-‘Alaaiy, Al-‘Iraaqiy, Adz-Dzahabiy, Al-Maqdisiy, As-Sabth bin ‘Ajamiy Asy-Syaafi’iy, Al-Halabiy, dan As-Suyuuthiy [lihat Riwaayaatul-Mudallisiin fii Shahiih Al-Bukhaariy oleh Dr. ‘Awwad Al-Khalaf, hal. 283, Al-Mudallisiin oleh Al-‘Iraaqiy hal. 39-40 no. 7, Asmaaul-Mudalisiin oleh As-Suyuthiy hal. 36 no. 7, dan At-Tabyiin li-Asmaail-Mudallisiin oleh As-Sabth bin Al-‘Ajamiy Asy-Syaafi’iy hal. 19-20 no. 10].&lt;br /&gt;Sangat keliru jika menghilangkan sifat tadlis dengan pernyataan bahwa : Habib bin Abi Tsabit lahir pada tahun 46 H sedangkan Zaid bin Arqam wafat pada tahun 68 H. jadi ketika Zaid wafat Habib berumur 22 tahun dan keduanya tinggal di kufah sehingga sangat memungkinkan bagi Habib bin Abi Tsabit bertemu dengan Zaid bin Arqam dan mendengar hadis darinya. Karena yang dimaksud dengan tadlis – sebagaimana ma’ruf dalam ilmu mushthalah – adalah :&lt;br /&gt;“Jika si perawi meriwayatkan hadits yang tidak pernah ia dengar dari orang yang pernah ia dengan haditsnya; tanpa menyebutkan bahwa perawi tersebut mendengar hadits itu darinya….. Penjelasan definisi tadlis isnad ini adalah bahwa seorang perawi meriwayatkan beberapa hadits yang ia dengar dari seorang syaikh (guru), namun hadits yang ia tadlis­-kan tidak pernah ia dengan dari gurunya itu. Hadits itu ia dengar melalui (perantara) syaikh yang lain, dari syaikh-nya yang pertama tadi. Orang tersebut (si mudallis) menggugurkan syaikh yang menjadi perantara, dan kemudian ia (si mudallis) meriwayatkan darinya (syaikh yang pertama) dengan lafadh yang mengandung kemungkinan mendengar (samaa’) atau yang semisalnya; seperti lafadh قَالَ (telah berkata) atau عَنْ (dari) – agar orang lain menyangka bahwa ia telah mendengar dari syaikh tersebut. Padahal tidak benar orang itu telah mendengar hadits ini. Ia tidak mengatakan سَمِعْتُ (aku telah mendengar) atau حَدَّةَنِيْ (telah menceritakan kepadaku), sehingga ia tidak bisa disebut sebagai pendusta atas perbuatan itu. Orang yang ia gugurkan tadi bisa satu orang atau lebih” [lihat Taisiru Mushthalahil-Hadiits oleh Dr. Mahmud Ath-Thahhaan hal. 62 dan Ta’riifu Ahlit-Taqdiis bi-Maraatibil-Maushuufiina bit-Tadliis oleh Ibnu Hajar hal. 10, tahqiq : Dr. ‘Abdul-Ghaffaar Sulaiman &amp; Muhammad bin Ahmad ‘Abdil-‘Aziiz].&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kemungkinan bertemu atau bahkan bertemu sekalipun tidak dapat menghilangkan sifat tadlis bagi orang-orang berada pada martabat ketiga mudallisiin, jika ia tidak menjelaskan tashriih sima’-nya. Sebenarnya ini sudah sangat ma’ruf.&lt;br /&gt;Jika ada yang mengatakan : “Disebutkan dalam Al Mustadrak no 4576 kalau Habib bin Abi Tsabit meriwayatkan hadis Tsaqalain dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam. Kami katakan keduanya shahih, Habib meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan Habib meriwayatkan dari Abu Thufail dari Zaid. Zaid bin Arqam dan Abu Thufail keduanya adalah sahabat Nabi. Bisa saja dikatakan bahwa riwayat Habib dari Abu Thufail dari Zaid menunjukkan bahwa Habib melakukan tadlis sehingga ia menghilangkan nama Abu Thufail dan meriwayatkan langsung dari Zaid. Kami katakan perkataan ini hanya bersifat dugaan semata dan jika benar maka tadlis yang dilakukannya tidak bersifat cacat karena nama yang Habib hilangkan adalah nama sahabat Nabi yaitu Abu Thufail sehingga kalau mau dikatakan tadlis maka kedudukan Habib adalah mudallis martabat pertama yaitu yang sedikit melakukan tadlis atau ia melakukan tadlis dari perawi yang tsiqat atau adil. Tadlis yang seperti ini jelas bisa dijadikan hujjah”.&lt;br /&gt;Pernyataan ini justru hanya duga-duga semata. Bagaimana bisa dipastikan bahwa tadlis yang dilakukan Habiib terhadap Zaid bin Arqam adalah pengguguran Abu Thufail ? Justru riwayat sebelumnya (no. 4576) juga kita pertanyakan karena ia membawakan secara ‘an’anah dari periwayatan Abu Thufail, dari Zaid bin Arqam. Sependek pengetahuan saya, yang dapat menggugurkan tadlis dari mudallis level seperti Habiib ini adalah tashrih bis-sima’. Seandainya saja riwayat Habiib dari Abu Thufail ini menggunakan tashrih simaa’, maka saya sepakat bahwa yang digugurkan pada hadits no. 4577 adalah Abu Thufail. Tapi kenyataan kan tidak ? [lihat At-Tatabbu’ oleh Muqbil Al-Wadi’iy, 3/126 no. 4640]. &lt;br /&gt;Mari kita baca kembali mushthalah hadits.&lt;br /&gt;Lagi pula, kepastian bertemu tidaknya antara Habiib dengan Abuth-Thufail dan Zaid bin Arqam ini juga dipermasalahkan sebagian ulama. Al-‘Alaa’iy berkata : “’Aliy bin Al-Madiniy berkata : ‘Habiib bin Abi Tsaabit bertemu dengan Ibnu ‘Abbaas, mendengar (riwayat) dari ‘Aaisyah, dan tidak mendengar dari selain keduanya dari kalangan shahabat radliyallaahu ‘anhum’. Telah berkata Abu Zur’ah : ‘Ia tidak mendengar dari Ummu Salamah’. At-Tirmidziy berkata dalam haditsnya yang berasal dari Hakiim bin Hizaam mengenai pembelian hewan kurban : ‘Menurut (pengetahuan)ku, Habiib bin Abi Tsaabit tidak mendengar dari Hakiim bin Hizaam. Telah berkata Sufyaan Ats-Tsauriy, Ahmad bin Hanbal, Yahyaa bin Ma’iin, Al-Bukhaariy. Dan yang lainnya bahwasannya Habiib bin Abi Tsaabit tidak pernah mendengar dari ‘Urwah bin Zubair sama sekali” [Jaami’ut-Tahshiil fii Ahkaamil-Maraasil, hal. 158-159 no. 117].&lt;br /&gt;Dari perkataan didapat satu pengetahuan bahwa hukum umum riwayat Habiib bin Abi Tsaabit dari para shahabat adalah mursal, kecuali jika ditunjukkan padanya bayyinah akan sima’-nya. Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir (2/313 no. 2592) telah menetapkan bahwa Habiib mendengar riwayat dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum. &lt;br /&gt;Sangat dimaklumi jika Syu’aib Al-Arna’uth (Takhrij Musnad Al-Imam Ahmad, 17/171) menghukumi riwayat Habiib dari Abi Thufail maupun Zaid bin Arqam sebagai riwayat yang munqathi’.&lt;br /&gt;Sebenarnya di sini bahasan di point ini bukan untuk men-dla’if-kan riwayat At-Tirmidziy (no. 3788), karena saya sepakat bahwa riwayat ini adalah hasan lighairihi karena ada penguat dari jalur lain. Hanya saja, saya tidak sepakat dengan metode ‘aneh’ sebagian orang dalam penilaian hadits.&lt;br /&gt;[5]      Sanad riwayat ini lemah dikarenakan Muhammad bin Salamah bin Kuhail. Al-Juzjaaniy berkata : “Dzaahibul-hadiits” [Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’, 2/310 no. 5577]. Ibnu Ma’iin berkata : “Laisa bi-syai’ (tidak ada apa-apanya)” [Lisaanul-Miizaan, 7/168]. Ia juga dinisbatkan pada tasyayyu’ dan mempunyai hadits-hadits munkar [Al-Kaamil, 7/444]. As-Sa’diy berkata : “Waahiyul-hadiits (lemah haditsnya)” [Adl-Dlu’afaa wal-Matruukuun li-Ibnil-Jauziy 3/67 no. 3017]. Ibnu Syaahiin berkata : “Dla’iif” [Taariikh Asmaa’ Adl-Dlu’afaa’ wal-Kadzdzaabiin, hal. 166 no. 566]. Ibnu Hibbaan dengan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Ahmad berkata : “Muqaaribul-hadiits” [Mausu’ah Aqwaal Al-Imam Ahmad, 3/267 no. 2335]. Ad-Daaruquthniy mengatakan : “Bisa dijadikan i’tibar” [Suaalaat Al-Barqaaniy, no. 539].&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan : Muhammad bin Salamah bin Kuhail diikuti oleh Yahya bin Salamah bin Kuhail sebagaimana disebutkan dalam Juz Abu Thahir dengan sanad dari Qasim bin Zakaria bin Yahya dari Yusuf bin Musa dari Ubaidillah bin Musa dari Yahya bin Salamah bin Kuhail dari ayahnya dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam [Juz Abu Thahir no 143]. Para perawinya tsiqah kecuali Yahya bin Salamah bin Kuhail seorang yang matruk sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar [At Taqrib 2/304].&lt;br /&gt;Perkataan tersebut adalah benar bahwa Ibnu Hajar telah mengatakannya dalam At-Taqriib. Perawi matruk tidak bisa dijadikan sebagai penguat.&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan : &lt;br /&gt;“Muhammad bin Salamah juga memiliki mutaba’ah dari Syu’aib bin Khalid yang juga disebutkan dalam Juz Abu Thahir dengan jalan sanad dari Abu Bakar Qasim bin Zakaria bin Yahya dari Muhammad bin Humaid dari Harun bin Mughirah dari Amr bin Abi Qais dari Syu’aib bin Khalid dari Salamah bin Kuhail dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam [Juz Abu Thahir no 142]. Hadis ini para perawinya tsiqat kecuali Muhammad bin Humaid, ia seorang yang dhaif. Ibnu Ma’in, Muhammad bin Yahya Adz Dzahiliy, Ahmad, dan Ja’far bin Abi Utsman Ath Thayalisi telah menta’dilkannya. Nasa’i berkata “tidak tsiqat”. Ia didustakan oleh Shalih bin Muhammad, Abu Zur’ah dan Ibnu Khirasy. Yaqub bin Syaibah berkata “banyak meriwayatkan hadis munkar” [At Tahdzib juz 9 no 181]. Ibnu Hajar berkata “seorang hafizh yang dhaif” [At Taqrib 2/69]”.&lt;br /&gt;Saya berkata : &lt;br /&gt;Tentang Muhammad bin Humaid ini; Al-Bukhaariy berkata : “Fiihi nadhar” [At-Taariikh Al-Kabiir, 1/167]. Ya’quub bin Syaibah As-Saduusiy berkata : “Muhammad bin Humaid Ar-Raaziy padanya banyak perkara yang diingkari (katsiirul-manaakir)” [Tahdziibul-Kamaal, 25/102]. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak tsiqah” [Taariikh Baghdaad, 2/263 dan Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukiin oleh Ibnul-Jauziy, 3/54 no. 2959]. Ishaaq bin Manshuur berkata : “Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa Muhammad bin Humaid dan ‘Ubaid bin Ishaaq Al-‘Aththaar adalah pendusta” [Taariikh Baghdaad, 2/263]. Shaalih bin Muhammad Al-Asadiy Al-Haafidh berkata : “Aku tidak melihat seorang pun yang yang lebih banyak dustanya daripada dua orang, yaitu Sulaimaan Asy-Syaadzakuuniy dan Muhammad bin Humaid Ar-Raaziy…” [Taariikh Baghdaad, 2/262]. Ia telah didustakan oleh Abu Zur’ah Ar-Raaziy dan Ibnu Waarah [Al-Majruuhiin, 2/321 no. 1005 dan Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukiin oleh Ibnul-Jauziy, 3/54 no. 2959]. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia termasuk orang yang menyendiri dalam periwayatan dari orang-orang tsiqah dengan sesuatu yang terbolak-balik, khususnya jika ia meriwayatkan dari para syaikh negerinya” [Al-Majruuhiin, 2/321 no. 1005]. Ibraahiim bin Ya’quub Al-Jauzajaaniy berkata : “Ia seorang yang bermadzhab buruk, tidak tsiqah” [Ahwaalur-Rijaal, hal. 207 no. 382]. ‘Abdurrahmaan bin Yuusuf bin Khiraasy dan jama’ah ahli-hadits negeri Ray saat disebut Muhammad bin Humaid, maka mereka sepakat bahwa ia sangat lemah dalam haditsnya [Taariikh Baghdaad, 2/261]. Ibnu Khiraasy sendiri mendustakannya [idem, 2/263]. Sudah menjadi pengetahuan bahwa jarh penduduk yang satu negeri dengan perawi lebih kuat, karena mereka lebih mengetahui keadaan negerinya sendiri dibandingkan yang lain. Ad-Daaruquthniy berkata : “Diperselisihkan” [Suaalaat As-Sulamiy no. 287]. Ibnul-Jauziy memasukkanya dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukiin (3/54). Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ (2/289 no. 5452) dan berkata : “Dla’iif, bukan dari sisi hapalannya”. Ibnu Hajar berkata : “Seorang haafidh yang dla’iif. Ibnu Ma’iin mempunyai pandangan baik terhadapnya” [At-Taqriib, hal. 839 no. 5871]. Ahmad memujinya bahwa negeri Ray akan tetap diliputi ilmu selama Muhammad bin Humaid hidup. Namun ia pujiannya ini dikritik oleh Ibnu Khuzaimah bahwasannya dalam hal ini Ahmad tidak mengetahui perihal Ibnu Humaid. Seandainya ia mengetahui sebagaimana yang diketahui Ibnu Khuzaimah, niscaya ia tidak akan memujinya [Mausu’ah Aqwaal Al-Imam Ahmad, 3/255-256 no. 2311]. Ibnu Hibbaan menyebutkan bahwa setelah Al-Imam Ahmad mengetahui Abu Zur’ah dan Ibnu Waarah mendustakan Ibnu Humaid, maka Shaalih bin Ahmad bin Hanbal berkata : “Sejak saat itu aku melihat ayahku jika disebutkan Ibnu Humaid, beliau mengibaskan tangannya” [Al-Majruuhiin, 2/321]. Inilah pendapat terakhir Ahmad (yaitu menyepakati jarh Abu Zur’ah dan Ibnu Waraah). Ibnu Ma’iin dan Ja’far bin Abi ‘Utsmaan Ath-Thayaalisiy men-tsiqah-kannya.&lt;br /&gt;Perkataan yang tepat tentang diri Muhammad bin Humaid adalah ia perawi yang sangat lemah. Ia dikritik dari ulama baik dari segi hapalannya maupun ‘adalah-nya.&lt;br /&gt;Kedua mutaba’ah di atas tidak bisa dipakai sebagai mutaba’ah.&lt;br /&gt;Dikatakan :&lt;br /&gt;Secara keseluruhan riwayat Salamah bin Kuhail dari Abu Thufail dari Zaid bin Arqam kedudukannya hasan lighairihi karena riwayat Muhammad bin Salamah bin Kuhail dikuatkan oleh riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam serta riwayat Habib bin Abi Tsabit dari Zaid bin Arqam.&lt;br /&gt;Riwayat Abu Dluhaa adalah shahih, namun riwayat yang ia bawakan berbeda dengan riwayat Muhammad bin Salamah bin Kuhail, bahkan lebih ringkas. Adapun riwayat Habiib bin Abi Tsaabit, ia hasan, namun lafadhnya juga berbeda dengan yang dibawakan Muhammad bin Salamah bin Kuhail.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, lafadh yang dipertimbangkan di sini bukan dari sisi lafadh yang dibawakan oleh Muhammad bin Salamah bin Kuhail.&lt;br /&gt;[6]      Sanad riwayat ini hasan. Katsiir bin Zaid, ia adalah Al-Aslamiy As-Sahmiy, Abu Muhammad Al-Madiniy. Para ulama telah berselisih pendapat mengenainya. Yang raajih, ia adalah perawi yang hasan haditsnya selama tidak ada penyelisihan. &lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Sangat berlebihan sebagian orang yang menyatakan ke-tsiqah-an Katsiir bin Zaid ini secara mutlak sehingga menghukumi haditsnya adalah shahih. Para ulama telah mengkritik sisi hapalannya (dlabth), diantaranya : &lt;br /&gt;Telah berkata Ibnu Abi Khaitsamah dari Yahyaa bin Ma’iin : “Tidak kuat (laisa bi-dzaakal-qawiy)” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 7/151; sanad riwayat ini shahih]. Abu Haatim berkata : “Shaalih, tidak kuat, namun ditulis haditsnya” [idem]. Abu Zur’ah berkata : “Shaduuq, padanya ada kelemahan (layyin)” [idem]. Telah lewat penjelasan tentang makna layyin. &lt;br /&gt;Adapun ulama yang mendla’ifkannya secara umum adalah An-Nasaa’iy dan Ath-Thabariy. &lt;br /&gt;Jarh yang diberikan adalah jenis mufassar. Jenis jarh seperti ini bukanlah jenis jarh yang patut diabaikan. Ada tambahan keterangan – selain dari ulama yang memberikan tautsiq kepadanya - bahwa padanya ada kelemahan dalam masalah hapalan. &lt;br /&gt;Bagaimana bisa dikatakan jarh-jarh tersebut tidak memberikan mudlarat sama sekali sehingga ia dianggap tsiqah secara mutlak layaknya perawi yang tanpa jarh ? Aneh.&lt;br /&gt;Oleh karena itu Ibnu Hajar telah tepat memberikan komentar kepadanya : ‘Shaduuq yukhthi’ (jujur, namun kadang keliru)”. Artinya, haditsnya hasan selama tidak ada penyelisihan.&lt;br /&gt;[7]      Lengkapnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وإسحاق بن إبراهيم جميعا عن حاتم قال أبو بكر حدثنا حاتم بن إسماعيل المدني عن جعفر بن محمد عن أبيه قال دخلنا على جابر بن عبد الله فسأل عن القوم حتى انتهى إلي فقلت أنا محمد بن علي بن حسين فأهوى بيده إلى رأسي فنزع زري الأعلى ثم نزع زري الأسفل ثم وضع كفه بين ثديي وأنا يومئذ غلام شاب فقال مرحبا بك يا بن أخي سل عما شئت فسألته وهو أعمى وحضر وقت الصلاة فقام في نساجة ملتحفا بها كلما وضعها علي منكبه رجع طرفاها إليه من صغرها ورداؤه إلى جنبه على المشجب فصلى بنا فقلت أخبرني عن حجة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال بيده فعقد تسعا فقال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم مكث تسع سنين لم يحج ثم أذن في الناس في العاشرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حاج فقدم المدينة بشر كثير كلهم يلتمس أن يأتم برسول الله صلى الله عليه وسلم ويعمل مثل عمله فخرجنا معه حتى أتينا ذا الحليفة فولدت أسماء بنت عميس محمد بن أبي بكر فأرسلت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف أصنع قال اغتسلي واستثفري بثوب وأحرمي فصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد ثم ركب القصواء حتى إذا استوت به ناقته على البيداء نظرت إلى مد بصري بين يديه من راكب وماش وعن يمينه مثل ذلك وعن يساره مثل ذلك ومن خلفه مثل ذلك ورسول الله صلى الله عليه وسلم بين أظهرنا وعليه ينزل القرآن وهو يعرف تأويله وما عمل به من شيء عملنا به فأهل بالتوحيد لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك وأهل الناس بهذا الذي يهلون به فلم يرد رسول الله صلى الله عليه وسلم عليهم شيئا منه ولزم رسول الله صلى الله عليه وسلم تلبيته قال جابر رضى الله تعالى عنه لسنا ننوي إلا الحج لسنا نعرف العمرة حتى إذا أتينا البيت معه استلم الركن فرمل ثلاثا ومشى أربعا ثم نفذ إلى مقام إبراهيم عليه السلام فقرأ { واتخذوا من مقام إبراهيم مصلى }  فجعل المقام بينه وبين البيت فكان أبي يقول ولا أعلمه ذكره إلا عن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في الركعتين قل هو الله أحد وقل يا أيها الكافرون ثم رجع إلى الركن فاستلمه ثم خرج من الباب إلى الصفا فلما دنا من الصفا قرأ { إن الصفا والمروة من شعائر الله }  أبدأ بما بدأ الله به فبدأ بالصفا فرقي عليه حتى رأى البيت فاستقبل القبلة فوحد الله وكبره وقال لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير لا إله إلا الله وحده أنجز وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده ثم دعا بين ذلك قال مثل هذا ثلاث مرات ثم نزل إلى المروة حتى إذا انصبت قدماه في بطن الوادي سعى حتى إذا صعدتا مشى حتى أتى المروة ففعل على المروة كما فعل على الصفا حتى إذا كان آخر طوافه على المروة فقال لو أني استقبلت من أمري ما استدبرت لم أسق الهدي وجعلتها عمرة فمن كان منكم ليس معه هدي فليحل وليجعلها عمرة فقام سراقة بن مالك بن جعشم فقال يا رسول الله ألعامنا هذا أم لأبد فشبك رسول الله صلى الله عليه وسلم أصابعه واحدة في الأخرى وقال دخلت العمرة في الحج مرتين لا بل لأبد أبد وقدم علي من اليمن ببدن النبي صلى الله عليه وسلم فوجد فاطمة رضى الله تعالى عنها ممن حل ولبست ثيابا صبيغا واكتحلت فأنكر ذلك عليها فقالت إن أبي أمرني بهذا قال فكان علي يقول بالعراق فذهبت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم محرشا على فاطمة للذي صنعت مستفتيا لرسول الله صلى الله عليه وسلم فيما ذكرت عنه فأخبرته أني أنكرت ذلك عليها فقال صدقت صدقت ماذا قلت حين فرضت الحج قال قلت اللهم إني أهل بما أهل به رسولك قال فإن معي الهدي فلا تحل قال فكان جماعة الهدي الذي قدم به علي من اليمن والذي أتى به النبي صلى الله عليه وسلم مائة قال فحل الناس كلهم وقصروا إلا النبي صلى الله عليه وسلم ومن كان معه هدي فلما كان يوم التروية توجهوا إلى منى فأهلوا بالحج وركب رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى بها الظهر والعصر والمغرب والعشاء والفجر ثم مكث قليلا حتى طلعت الشمس وأمر بقبة من شعر تضرب له بنمرة فسار رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا تشك قريش إلا أنه واقف عند المشعر الحرام كما كانت قريش تصنع في الجاهلية فأجاز رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى أتى عرفة فوجد القبة قد ضربت له بنمرة فنزل بها حتى إذا زاغت الشمس أمر بالقصواء فرحلت له فأتى بطن الوادي فخطب الناس وقال إن دماءكم وأموالكم حرام عليكم كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا ألا كل شيء من أمر الجاهلية تحت قدمي موضوع ودماء الجاهلية موضوعة وإن أول دم أضع من دمائنا دم بن ربيعة بن الحارث كان مسترضعا في بني سعد فقتلته هذيل وربا الجاهلية موضوع وأول ربا أضع ربانا ربا عباس بن عبد المطلب فإنه موضوع كله فاتقوا الله في النساء فإنكم أخذتموهن بأمان الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله ولكم عليهن أن لا يوطئن فرشكم أحدا تكرهونه فإن فعلن ذلك فاضربوهن ضربا غير مبرح ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف وقد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به كتاب الله وأنتم تسألون عني فما أنتم قائلون قالوا نشهد أنك قد بلغت وأديت ونصحت فقال بإصبعه السبابة يرفعها إلى السماء وينكتها إلى الناس اللهم اشهد اللهم اشهد ثلاث مرات ثم أذن ثم أقام فصلى الظهر ثم أقام فصلى العصر ولم يصل بينهما شيئا ثم ركب رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى أتى الموقف فجعل بطن ناقته القصواء إلى الصخرات وجعل حبل المشاة بين يديه واستقبل القبلة فلم يزل واقفا حتى غربت الشمس وذهبت الصفرة قليلا حتى غاب القرص وأردف أسامة خلفه ودفع رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد شنق للقصواء الزمام حتى إن رأسها ليصيب مورك رحله ويقول بيده اليمني أيها الناس السكينة السكينة كلما أتى حبلا من الحبال أرخى لها قليلا حتى تصعد حتى أتى المزدلفة فصلى بها المغرب والعشاء بأذان واحد وإقامتين ولم يسبح بينهما شيئا ثم اضطجع رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى طلع الفجر وصلى الفجر حين تبين له الصبح بأذان وإقامة ثم ركب القصواء حتى أتى المشعر الحرام فاستقبل القبلة فدعاه وكبره وهلله ووحده فلم يزل واقفا حتى أسفر جدا فدفع قبل أن تطلع الشمس وأردف الفضل بن عباس وكان رجلا حسن الشعر أبيض وسيما فلما دفع رسول الله صلى الله عليه وسلم مرت به ظعن يجرين فطفق الفضل ينظر إليهن فوضع رسول الله صلى الله عليه وسلم يده على وجه الفضل فحول الفضل وجهه إلى الشق الآخر ينظر فحول رسول الله صلى الله عليه وسلم يده من الشق الآخر على وجه الفضل يصرف وجهه من الشق الآخر ينظر حتى أتى بطن محسر فحرك قليلا ثم سلك الطريق الوسطى التي تخرج على الجمرة الكبرى حتى أتى الجمرة التي عند الشجرة فرماها بسبع حصيات يكبر مع كل حصاة منها حصى الحذف رمى من بطن الوادي ثم انصرف إلى المنحر فنحر ثلاثا وستين بيده ثم أعطى عليا فنحر ما غبر وأشركه في هديه ثم أمر من كل بدنة ببضعة فجعلت في قدر فطبخت فأكلا من لحمها وشربا من مرقها ثم ركب رسول الله صلى الله عليه وسلم فأفاض إلى البيت فصلى بمكة الظهر فأتى بني عبد المطلب يسقون على زمزم فقال انزعوا بني عبد المطلب فلولا أن يغلبكم الناس على سقايتكم لنزعت معكم فناولوه دلوا فشرب منه&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Ishaaq bin Ibraahiim, keduanya dari Haatim ia berkata, - Abu Bakr berkata - : Telah menceritakan kepada kami Haatim bin Ismaa'iil Al-Madaniy, dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya, ia berkata : Kami datang ke rumah Jaabir bin Abdillah, lalu ia menanyai kami satu persatu, siapa nama kami masing-masing. Sampai giliranku, kusebutkan namaku Muhammad bin ‘Aliy bin Husain. Lalu dibukanya kancing bajuku yang atas dan yang bawah. Kemudian diletakkannya telapak tangannya antara kedua susuku. Ketika itu, aku masih muda belia. Lalu dia berkata, "Selamat datang wahai anak saudaraku, tanyakanlah apa yang hendak kamu tanyakan." Maka aku pun bertanya kepadanya. Dia telah buta. Ketika waktu shalat tiba, dia berdiri di atas sehelai sajadah yang selalu dibawanya. Tiap kali sajadah itu diletakkannya ke bahunya, pinggirnya selalu lekat padanya karena kecilnya sajadah itu. Aku bertanya kepadanya : "Terangkanlah kepadaku bagaimana Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam melakukan ibadah haji." Lalu ia bicara dengan isyarat tangannya sambil memegang sembilan anak jarinya. Ia berkata : “Sembilan tahun lamanya beliau menetap di Madinah, namun beliau belum haji. Kemudian beliau memberitahukan bahwa tahun kesepuluh beliau akan naik haji. Karena itu, berbondong-bondonglah orang datang ke Madinah, hendak ikut bersama-sama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk beramal seperti amalan beliau. Lalu kami berangkat bersama-sama dengan beliau. Ketika sampai di Dzulhulaifah, Asmaa` binti ‘Umais melahirkan puteranya, Muhammad bin Abi Bakar. Dia menyuruh untuk menanyakan kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam apa yang harus dilakukannya (karena melahirkan itu). Maka beliau pun bersabda : "Mandi dan pakai kain pembalutmu. Kemudian pakai pakaian ihrammu kembali." Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam shalat dua raka'at di masjid Dzulhulaifah, kemudian beliau naiki untanya yang bernama Qashwa. Setelah sampai di Baida`, kulihat sekelilingku, alangkah banyaknya orang yang mengiringi beliau, yang berkendaraan dan yang berjalan kaki, di kanan-kiri dan di belakang beliau. Ketika itu turun Al Quran (wahyu), dimana Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengerti maksudnya, yaitu sebagaimana petunjuk amal yang harus kami amalkan. Lalu beliau teriakan bacaan talbiyah: "LABBAIKA ALLAHUMMA LABBAIKA LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA LABBAIKA INNALHAMDA WAN NI'MATA LAKA WALMULKU LAA SYARIIKA LAKA (Aku patuhi perintah-Mu ya Allah, aku patuhi, aku patuhi. Tiada sekutu bagi-Mu, aku patuhi perintah-Mu; sesungguhnya puji dan nikmat adalah milik-Mu, begitu pula kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu, aku patuhi perintah-Mu)." Maka talbiyah pula orang banyak seperti talbiyah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam itu. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak melarang mereka membacanya, bahkan senantiasa membaca terus-menerus. Niat kami hanya untuk mengerjakan haji, dan kami belum mengenal umrah. Setelah sampai di Baitullah, beliau cium salah satu sudutnya (Hajar Aswad), kemudian beliau thawaf, lari-lari kecil tiga kali dan berjalan biasa empat kali. Kemudian beliau terus menuju ke Maqam. Ibrahim 'Alais Salam, lalu beliau baca ayat: "Jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat..." (Al Baqarah: 125). Lalu ditempatkannya maqam itu diantaranya dengan Baitullah. Sementara itu ayahku berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam membaca dalam shalatnya : "QUL HUWALLAHU AHAD…" (Al Ikhlas: 1-4). Dan: "QUL YAA AYYUHAL KAAFIRUUN.." (Al Kafirun: 1-6). Kemudian beliau kembali ke sudut Bait (hajar Aswad) lalu diciumnya pula. Kemudian melalui pintu, beliau pergi ke Shafa. Setelah dekat ke bukit Shafa beliau membaca ayat: "Sesungguhnya Sa'i antara Shafa dan Marwah termasuk lambang-lambang kebesaran Agama Allah..." (Al Baqarah: 1589). Kemudian mulailah dia melaksanakan perintah Allah. Maka dinaikinya bukit Shafa. Setelah kelihatan Baitullah, lalu beliau menghadap ke kiblat seraya mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya. Dan beliau membaca: "LAA ILAAHA ILAALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA 'ALAA KULLI SYAI`IN QADIIR LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU ANJAZA WA'DAHU WANASHARA 'ABDAHU WAHAZAMAL AHZABA WAHDAH (Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kerajaan dan segala puji, sedangkan Dia Maha Kuasa atas segala-galanya. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah satu-satu-Nya, Yang Maha Menepati janji-Nya dan menolong hamba-hamba-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya sendiri-Nya)." Kemudian beliau berdo'a. Ucapan tahlil itu diulanginya sampai tiga kali. Kemudian beliau turun di Marwa. Ketika sampai di lembah, beliau berlari-lari kecil. Dan sesudah itu, beliau menuju bukit Marwa sambil berjalan kembali. setelah sampai di bukit Marwa, beliau berbuat apa yang diperbuatnya di bukit Shafa. Tatkala beliau mengakhiri sa'i-nya di bukit Marwa, beliau berujar: "Kalau aku belum lakukan apa yang telah kuperbuat, niscaya aku tidak membawa hadya dan menjadikannya umrah." Lalu Suraqah bin Malik bin Ju'tsyum, "Ya, Rasulullah! Apakah untuk tahun ini saja ataukah untuk selama-lamanya?" Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memperpanjangkan jari-jari tangannya yang lain seraya bersabda : "Memasukkan umrah ke dalam haji. Memasukkan umrah ke dalam haji, tidak! Bahkan untuk selama-lamanya”. Sementara itu ‘Aliy datang dari Yaman membawa hewan kurban Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Didapatinya Fathimah termasuk orang yang tahallul; dia mengenakan pakaian bercelup dan bercelak mata. ‘Aliy melarangnya berbuat demikian. Fathimah menjawab : "Ayahku sendiri yang menyuruhku berbuat begini". ‘Aliy berkata : ‘Maka aku pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta fatwa terhadap perbuatan Fathimah tersebut. Kujelaskan kepada beliau bahwa aku mencegahnya berbuat demikian. Beliau pun bersabda : "Fathimah benar." Kemudian beliau bertanya : "Apa yang kamu baca ketika hendak menunaikan haji?". ‘Aliy berkata : Aku menjawab : "Ya Allah, aku aku niat menunaikan ibadah haji seperti yang dicontohkan oleh Rasul-Mu." Kemudian ‘Aliy bertanya : "Tetapi aku membawa hewan kurban, bagaimana itu?". Beliau menjawab : "Kamu jangan tahallul". Ja'far berkata : “Jumlah hadyu yang dibawa ‘Aliy dari Yaman dan yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ada seratus ekor. Para jama'ah telah tahallul dan bercukur semuanya, melainkan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang membawa hadyu beserta beliau. Ketika hari Tarwiyah (delapan Dzulhijjah) tiba, mereka berangkat menuju Mina untuk melakukan ibadah haji. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menunggang kendaraannya. Di sana beliau shalat Zhuhur, 'Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh. Kemudian beliau menanti sebentar hingga terbit matahari; sementara itu beliau menyuruh orang lebih dahulu ke Namirah untuk mendirikan kemah di sana. Sedangkan Orang Quraisy mengira bahwa beliau tentu akan berhenti di Masy'aril Haram (sebuah bukit di Muzdalifah) sebagaimana biasanya orang-orang jahililiyah. Tetapi ternyata beliau terus saja menuju ‘Arafah. Sampai ke Namirah, didapatinya tenda-tenda telah didirikan orang. Lalu beliau berhenti untuk istirahat di situ. Ketika matahari telah condong, beliau menaiki untanya meneruskan. Sampai di tengah-tengah lembah beliau berkhutbah : "Sesungguhnya menumpahkan darah, merampas harta sesamamu adalah haram sebagaimana haramnya berperang pada hari ini, pada bulan ini, dan di negeri ini. Ketahuilah, semua yang berbau Jahiliyah telah dihapuskan di bawah undang-undangku, termasuk tebusan darah masa jahilijyah. Tebusan darah yang pertama-tama kuhapuskan adalah darah Ibnu Rabi'ah bin Harits yang disusukan oleh Bani Sa'ad, lalu ia dibunuh oleh Huzail. Begitu pula telah kuhapuskan riba jahiliyah; yang mula-mula kuhapuskan ialah riba yang ditetapkan Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya riba itu kuhapuskan semuanya. Kemudian jangalah dirimu terhadap wanita. Kamu boleh mengambil mereka sebagai amanah Allah, dan mereka halal bagimu dengan mematuhi peraturan-peraturan Allah. Setelah itu, kamu punya hak atas mereka, yaitu supaya mereka tidak membolehkan orang lain menduduki tikarmu. Jika mereka melanggar, pukullah mereka dengan cara yang tidak membahayakan. Sebaliknya mereka punya hak atasmu. Yaitu nafkah dan pakaian yang pantas. Sungguh telah aku tinggalkan kepada kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan tersesat : Kitabullah. Kalian semua akan ditanya mengenai diriku, lalu bagaimana nanti jawab kalian?". Mereka menjawab : "Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar telah menyampaikan risalah, engkau telah menunaikan tugas dan telah memberi nasehat kepada kami". Kemudian beliau bersabda sambil mengangkat jari telunjuknya ke atas langit dan menunjuk kepada orang banyak : "Ya, Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah”. Sesudah itu, beliau adzan kemudian iqamat, lalu shalat Zhuhur. Lalu iqamat lagi dan shalat Ashar tanpa shalat sunnah antara keduanya. Setelah itu, beliau meneruskan perjalanan menuju tempat wukuf. Sampai di sana, dihentikannya unta Qashwa di tempat berbatu-batu dan orang-orang yang berjalan kaki berada di hadapannya. Beliau menghadap ke kiblat, dan senantiasa wukuf sampai matahari terbenam dan mega merah hilang. Kemudian beliau teruskan pula perjalanan dengan membonceng Usamah di belakangnya, sedang beliau sendiri memegang kendali. Beliau tarik tali kekang Unta Qashwa, hingga kepalanya hampir menyentuh bantal pelana. Beliau bersabda dengan isyarat tangannya : "Saudara-saudara, tenanglah, tenanglah”. Setiap beliau sampai di bukit, beliau dikendorkannya tali unta sedikit, untuk memudahkannya mendaki. Sampai di Muzdalifah beliau shalat Maghrib dan Isya`dengan satu kali adzan dan dua qamat tanpa shalat sunnah antara keduanya. Kemudian beliau tidur hingga terbit fajar. Setelah tiba waktu Shubuh, beliau shalat Shubuh dengan satu adzan dan satu iqamat. Kemudian beliau tunggangi pula unta Qashwa meneruskan perjalanan sampai ke Masy'aril Haram. Sampai di sana beliau menghadap ke kiblat, berdo'a, takbir, tahlil dan membaca kaliamat tauhid. Beliau wukuf di sana hingga langit kekuning-kuningan dan berangkat sebelum matahari terbit sambil membonceng Fadhl bin Abbas. Fadhl adalah seorang laki-laki berambut indah dan berwajah putih. Ketika beliau berangkat, berangkat pulalah orang-orang besertanya. Fadhl menengok pada mereka, lalu mukanya ditutup oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan tangannya. Tetapi Fadlal menoleh ke arah lain untuk melihat. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menutup pula mukanya dengan tangan lain, sehingga Fadhl mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Sampai di tengah lembah Muhassir, dipercepatnya untanya melalui jalan tengah yang langsung menembus ke Jumratul Kubra. Sampai di Jumrah yang dekat dengan sebatang pohon, beliau melempar dengan tujuh buah batu kerikil sambil membaca takbir pada setiap lemparan. Kemudian beliau terus ke tempat penyembelihan kurban. Di sana beliau menyembelih enam puluh tiga hewan kurban dengan tangannya dan sisanya diserahkannya kepada Ali untuk menyembelihnya, yaitu hewan kurban bersama-sama dengan anggota jama'ah yang lain. Kemudian beliau suruh ambil dari setiap hewan kurban itu sepotong kecil, lalu disuruhnya masak dan kemudian beliau makan dagingnya serta beliau minum kuahnya. Sesudah itu, beliau naiki kendaraan beliau menuju ke Baitullah untuk tawaf. Beliau shalat Zhuhur di Makkah. Sesudah itu, beliau datangi Bani Abdul Muthalib yang sedang menimba sumur zamzam. Beliau bersabda kepada mereka : "Wahai Bani Abdul Muthalib, berilah kami minum. Kalaulah orang banyak tidak akan salah tangkap, tentu akan kutolong kamu menimba bersama-sama". Lalu mereka timbakan seember, dan beliau pun minum daripadanya” [selesai].&lt;br /&gt;[8]      Dan sesuai pula dengan riwayat ringkas Yaziid bin Hayyaan dari Zaid bin Arqam :&lt;br /&gt;أخبرنا الحسن بن سفيان حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا عفان حدثنا حسان بن إبراهيم عن سعيد بن مسروق عن يزيد بن حيان عن زيد بن أرقم قال دخلنا عليه فقلنا له لقد رأيت خيرا صحبت رسول الله صلى الله عليه وسلم وصليت خلفه فقال نعم وإنه صلى الله عليه وسلم خطبنا فقال إني تارك فيكم كتاب الله هو حبل الله من اتبعه كان على الهدى ومن تركه كان على الضلالة&lt;br /&gt;Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Hassaan bin Ibraahiim, dari Sa’iid bin Masruuq, dari Yaziid bin Hayyaan, dari Zaid bin Arqam. Yaziid berkata : Kami masuk menemuinya (Zaid) dan berkata : “Sungguh engkau telah melihat kebaikan, telah bershahabat dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan juga telah shalat di belakang beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Ia menjawab : Ya, benar. Sesungguhnya beliau pernah berkhutbah kepada kami dan bersabda : ‘Sesungguhnya aku akan meninggalkan kepada kalian Kitabullah. Ia adalah tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya, maka ia berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia berada dalam kesesatan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban no. 123; sanad hadits ini hasan].&lt;br /&gt;Sesuai pula dengan riwayat ringkas dari Abu Syuraih Al-Khuzaa’iy :&lt;br /&gt;أخبرنا الحسن بن سفيان حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أبو خالد الأحمر عن عبد الحميد بن جعفر عن سعيد بن أبي سعيد المقبري عن أبي شريح الخزاعي قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أبشروا وأبشروا أليس تشهدون أن لا إله إلا الله وأني رسول الله قالوا نعم قال فإن هذا القرآن سبب طرفه بيد الله وطرفه بأيديكم فتمسكوا به فإنكم لن تضلوا ولن تهلكوا بعده أبدا&lt;br /&gt;Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari ‘Abdul-Hamiid bin Ja’far, dari Sa’iid bin Abi Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Syuraih Al-Khuzaa’iy, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami dan bersabda : “Berilah kabar gembira, berilah kabar gembira. Bukankah kalian bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasannya aku adalah utusan Allah ?”. Mereka menjawab : “Benar”. Beliau melanjutkan : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali yang salah satu ujungnya ada di tangan Allah dan ujung yang lain di tangan kalian. Berpegang-teguhlah kalian dengannya, karena kalian tidak akan tersesat dan binasa selamanya sepeninggalku nanti (jika kalian melaksanakannya)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 122. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah 10/481; sanadnya hasan sesuai dengan persyaratan Muslim]. &lt;br /&gt;Al-Hasan bin Sufyaan; menurut Ibnu Abi Haatim, shaduuq, sedangkan menurut Ibnu Ma’iin dan Al-‘Uqailiy majhuul. Namun perkataan Ibnu Ma’iin dan Al-‘Uqailiy ini tidak memudlaratkan karena tautsiq Abu Haatim mengangkat status kemajhulannya. Ibnu Abi Syaibah, seorang imam masyhur. Abu Khaalid Al-Ahmar, ia perawi dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya; sedikit dipermasalahkan dalam hapalannya, namun tidak turun dari derajat hasan. ‘Abdul-Hamiid bin Ja’far, ia seorang perawi yang dipakai Muslim dalam Shahih-nya. Telah ditsiqahkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’iin, Yahyaa bin Sa’iid (Al-Qaththaan), dan yang lainnya. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, kadang keliru”. Adz-Dzahabiy berkata : “Tsiqah”. Sa’iid bin Abi Sa’iid Al-Maqburiy adalah perawi yang dipakai Al-Bukhariy dan Muslim dalam Shahih-nya. Abu Syuraih Al-Khuzaa’iy adalah salah seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;[9]      Riwayat yang menggunakan kata ‘bihimaa’ (بهما) adalah lemah. &lt;br /&gt;[10]     Ada lagi yang mengatakan :&lt;br /&gt;Seandainyapun kita diharuskan mentarjih salah satu riwayat maka riwayat Abu Dhuha dari Zaid bin Arqam lebih didahulukan dibanding riwayat Yazid bin Hayyan dari Zaid dengan alasan&lt;br /&gt;a.    Abu Dhuha lebih tsiqat dan tsabit dibanding Yazid bin Hayyan. Abu Dhuha atau Muslim bin Shubaih telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Ibnu Hibban, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Al Ijli [At Tahdzib juz 10 no 237]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat fadhl” [At Taqrib 2/179]. Sedangkan Yazid bin Hayyan dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i dan Ibnu Hibban saja [At Tahdzib juz 11 no 520]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/323]&lt;br /&gt;b.    Riwayat Abu Dhuha dari Zaid telah dikuatkan oleh riwayat Jabir, Abu Sa’id dan Imam Ali seperti yang telah kami bahas di atas.&lt;br /&gt;Permasalahan di sini bukan masalah tarjih sanad. Sudah jelas bahwa Yaziid bin Hayyaan adalah tsiqah dan haditsnya shahih dengan kesepakatan para ulama. Ditambah lagi, tidak ada ta’arudl antara hadits Yaziid dan Abudl-Dluhaa. Maka, tidak nyambung jika bergegas pergi ke tarjih sanad. &lt;br /&gt;Haditsnya satu, yang satu lafadhnya lebih lengkap, yang lain lebih ringkas. Mana di antara keduanya yang dilalah hukumnya lebih jelas. Jika sedang bicara dilalah hukum, maka yang dilihat adalah matan haditsnya, bukan lagi sanadnya.&lt;br /&gt;Anggapan bahwa riwayat Abudl-Dluhaa dari Zaid itu dikuatkan oleh riwayat Jaabir, Abu Sa’iid, dan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum, maka ini sebatas sanad saja. Itupun tidak tepat-tepat betul. Adapun riwayat Jaabir, yang shahih darinya hanyalah perintah untuk berpegang pada Kitabullah – sebagaimana riwayat Muslim. Justru ini menguatkan dilalah hukum dari hadits Yaziid bin Hayyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-2937413490683695528?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/2937413490683695528/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=2937413490683695528' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/2937413490683695528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/2937413490683695528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/hadits-tsaqalain-ahlul-bait-jaminan.html' title='Hadits Tsaqalain : Ahlul-Bait Jaminan Keselamatan Dunia dan Akhirat'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-8401876660616114060</id><published>2010-05-07T12:22:00.001-07:00</published><updated>2010-05-07T12:22:37.583-07:00</updated><title type='text'>Kisah Sang Pengemis : Al-Imam Baqiy bin Makhlad Al-Andalusiy</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG&lt;br /&gt;Abu Al-Jauzaa' &lt;br /&gt;Beliau adalah seorang imam, faqiih, zuhud, lagi wara’; salah satu murid Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terkemuka dari negeri Andalus.&lt;br /&gt;Ada satu cerita menarik dari beliau - yang pada kesempatan ini akan saya tuliskan – yaitu bagaimana perjuangan beliau untuk mendapatkan ilmu sehingga ‘memaksa’-nya menjadi seorang ‘pengemis’. Tapi jangan berpersepsi negatif dahulu sebelum membacanya. Okey ?!&lt;br /&gt;Baqiy bin Makhlad pernah melakukan perjalanan keluar dari negerinya, Andalus, menuju Baghdad dengan berjalan kaki. Ia seberangi lautan, menjelajah gurun yang tandus, dan gunug-gunung. Umurnya ketika itu adalah 20 tahun. Saat itu yang ditujunya adalah menemui Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan mendengarkan hadits dari beliau. Setelah dekat dengan Baghdad, ia mendengar cobaan yang menimpa Al-Imam Ahmad bin Hanbal yang berkaitan dengan fitnah Khalqul-Qur’aan. Sampai pula khabar kepadanya bahwa beliau dilarang untuk keluar rumah dan menyampaikan pelajaran kepada manusia. Baqiy berkata :&lt;br /&gt;فاغتممت غما شديدا&lt;br /&gt;“Aku pun merasa sedih dengan kesedihan yang sangat (saat mendengarnya)”.&lt;br /&gt;Akan tetapi ia tetap meneruskan perjalanannya ke Baghdad. Setelah sampai, ia letakkan perbekalannya, kemudian pergi ke Masjid Jaami’ Baghdad. Ia pun bertemu dengan orang-orang di sana. Bertemu dengan Ibnu Ma’iin dan bertanya beberapa hal kepadanya tentang orang-orang yang pernah ditemuinya (yaitu tentang al-jarh wat-ta’dill). Di akhir pembicaraan ia bertanya tentang Al-Imam Ahmad bin Hanbal, yang kemudian dijawab :&lt;br /&gt;ذاك إمام المسلمين، وخيرهم وفاضلهم.&lt;br /&gt;“Ia adalah imam kaum muslimin. Orang yang paling baik dan utama di kalangan mereka”.&lt;br /&gt;Setelah itu Baqiy pergi mencari rumah Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Maka ia ditunjukkan rumahnya. Ia pun mengetuk pintu, yang kemudian Al-Imam Ahmad bin Hanbal keluar menemuinya. Baqiy berkata :&lt;br /&gt;يا أبا عبد الله: رجل غريب، نائي الدار، هذا أول دخولي هذا البلد، وأنا طالب حديث ومقيد سنة، ولم تكن رحلتي إلا إليك&lt;br /&gt;“Wahai Abu ‘Abdillah, aku adalah laki-laki asing, jauh dari rumah. Ini adalah kali pertama aku datang ke negeri ini. Dan aku adalah seorang pencari hadits. Tidak ada yang lain dari perjalananku ini kecuali hanya untuk menemuimu”.&lt;br /&gt;Ia pun dipersilakan masuk oleh beliau ke dalam rumahnya. Beliau berkata kepada Baqi’ : “Dari mana asalmu ?”. Baqi’ menjawab : “Dari Barat Jauh (Andalus). Beliau bertanya : “Dari Afrika ?”. Ia menjawab : “Bukan, negeri setelah Afrika. Aku menyeberang lautan dari negeriku ke Afrika. Negeriku adalah Andalus”. Beliau (Al-Imam Ahmad) berkata :&lt;br /&gt;إن موضعك لبعيد، وما كان شئ أحب إلي من أن أحسن عون مثلك، غير أني ممتحن بما لعله قد بلغك.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya negerimu sangat jauh. Tidak ada sesuatu yang lebih aku senangi daripada memberikan bantuan kepadamu. Akan tetapi sekarang ini aku sedang ditimpa ujian dengan sesuatu yang barangkali hal itu telah sampai kepadamu”.&lt;br /&gt;Baqiy menjawab :&lt;br /&gt;بلى، قد بلغني، وهذا أول دخولي، وأنا مجهول العين عندكم، فإن أذنت لي أن آتي كل يوم في زي السؤال، فأقول عند الباب ما يقوله السؤال، فتخرج إلى هذا الموضع، فلو لم تحدثني كل يوم إلا بحديث واحد، لكان لي فيه كفاية.&lt;br /&gt;“Benar, hal itu telah sampai kepadaku. Ini adalah kali pertama aku datang (ke negeri ini), dan aku seorang yang tidak dikenal oleh orang-orang di negerimu. Jika engkau ijinkan, aku akan mendatangimu setiap hari seperti orang yang meminta-minta (pengemis). Lalu aku akan berkata di depan pintu sebagaimana yang dikatakan oleh peminta-minta. Lalu engkau keluar di tempat ke tempat ini. Seandainya engkau tidak menyampaikan kepadaku setiap harinya kecuali hanya satu hadits, maka itu sudah cukup bagiku”.&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad berkata : &lt;br /&gt;نعم، على شرط أن لا تظهر في الحلق، ولا عند المحدثين.&lt;br /&gt;“Baiklah. Namun dengan satu syarat agar engkau tidak menampakkan diri pada halaqah-halaqah (ilmu) dan juga pada kalangan muhadditsiin (ahli hadits)”.&lt;br /&gt;Syarat itu pun diterima. &lt;br /&gt;Lalu Baqiy mengambil sebatang kayu di tangannya dan ia lilitkan kain di kepalanya (sehingga nampak seperti seorang peminta-minta). Lalu ia mendatangi pintu rumah beliau sambil berkata : “al-ajr, rahimakallaah (pahala, semoga Allah merahmati engkau)”. &lt;br /&gt;Mendengar itu, Al-Imam Ahmad keluar kepadanya dan menutup pintu rumah, lalu menyampaikan kepadanya dua atau hadits, atau lebih banyak dari itu. Hal itu terus berlangsung hingga ujian yang menimpa Al-Imam Ahmad berakhir dan beliau kembali diijinkan membuka halaqah-halaqah ilmu di masjid. &lt;br /&gt;Semenjak itu, jika Baqiy bin Makhlad mendatangi halaqah Al-Imam Ahmad, maka beliau selalu melapangkan majelisnya untuknya. Beliau lalu menceritakan kisah Al-Baqiy tersebut di depan para ahli hadits. Beliau memuji dan menyanjungnya. &lt;br /&gt;Itulah Al-Imam Baqiy bin Makhlad bin Yaziid, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Andalusiy Al-Qurthubiy. Adz-Dzahabiy menyebutkan biografinya dalam kitab Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 13/285 no. 137-dst.. Selengkapnya silakan merujuk ke sana.&lt;br /&gt;Semoga Allah ta’ala merahmati beliau. Dan yang lebih penting dari itu, kita dapat mengambil hikmah dari sekelumit kisah beliau di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-8401876660616114060?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/8401876660616114060/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=8401876660616114060' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/8401876660616114060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/8401876660616114060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/kisah-sang-pengemis-al-imam-baqiy-bin.html' title='Kisah Sang Pengemis : Al-Imam Baqiy bin Makhlad Al-Andalusiy'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-6973431941797818295</id><published>2010-05-02T15:54:00.000-07:00</published><updated>2010-05-02T15:55:20.926-07:00</updated><title type='text'>Bid'ah dan Ahlul Bid'ah</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ditulis Oleh: Ustadz Abu Nu?aim Muhammad Faishal Jamil     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Zaman terus berlangsung dan masa terus bergulir, tanpa terasa kurang lebih 1400 Tahun yang lalu Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam meninggalkan umat ini dalam keadaan malamnya seperti siangnya (terang benderang-red). Beliau Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam meninggalkan dan mewariskan kepada umat ini dua warisan yang sangat berharga daripada kebutuhan lainnya, apabila manusia terus berpegang teguh dan berhukum dengannya maka ia tidak akan sesat selama lamanya. Sebagaimana yang Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam sabdakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik-rahimahullah- di dalam kitabnya Al Muwatha’ ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku meninggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR Imam Malik ) {catatan: Syaikh Al Albani-rahimahulloh-menyatakan hadist ini mu’dhal, akan tetapi memiliki syahid (pendukung) yang kuat dari hadist Ibnu Abbas dengan sanad hasan dan dari hadist Abu Hurairah yang keduanya diriwayatkan oleh Al Hakim {Lihat Misykatul Mashabih Juz 1 hal 66 dan Ash Shahihah Jilid 4 hal 361}]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kitabulloh dan Sunnah RosulNya adalah dua perkara yang Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tinggalkan untuk umatnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali sesat dan binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Apa yang telah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam sabdakan pasti benar dan mesti terbukti, sebagaimana yang kita dapati di dalam kitab-kitab sejarah yang menceritakan tentang para Shohabat rodliallohu anhum sepeninggal Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam yang terus berada di atas jalan yang lurus. Demikian pula tabi’in, dan generasi tabiut tabiin, mereka berpegang teguh kepada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Akan tetapi Alloh Azza wa Jalla menguji umat ini dengan adanya musuh terhadap dua perkara ini, yakni musuh yang siap membawa umat kepada jurang kehancuran dan kebinasaan dan yang terus membayang-bayangi umat dalam beramal dengan sunnah agar menyimpang darinya. Itulah bid’ah yang terus semarak dan terus berkembang sejalan dengan makin bodohnya umat terhadap ajaran agamanya sendiri dengan lontaran syubhat ketengah umat oleh para ahli bid’ah., Sehingga Bid’ah dianggap sebagai Sunnah dan sebaliknya Sunnah dianggap sebagai Bid’ah dan aneh. Ini semua karena jauhnya umat dari ajaran agama yang haq yang diwariskan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Bid’ah Menurut arti bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Bid’ah secara lughoh/bahasa memiliki beberapa makna, sebagaimana yang dijelaskan dalam kamus-kamus bahasa Arab, seperti Lisanul Arabi [dapatkan di katalog www.al-aisar.com) dan yang lainnya. Diantara maknanya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Permulaan dan pengadaan, sebagaimana yang disebutkan dalam Lisanul Arab 8/6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Yang pertama ;sesuatu yang pertama: seperti dalam contoh firman Alloh  QS Al Ahqof 9,”…aku bukanlah orang yang pertama dari kalangan para rosul…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Menciptakan tanpa contoh sebelumnya, seperti dalam contoh firman Allah QS AlBaqoroh 117, “Allah pencipta langit dan bumi…” Makna pencipta disini adalah menciptakan tanpa ada contoh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan ada beberapa makna lagi yang menjelaskan arti bid’ah secara bahasa {Lihat Kitab : Lisanul Arab, Ash Shahihah, Mu’jam maqoyisil Lughoh dan Al ‘Ain serta Al Qomus Al Muhith}&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Bidah Menurut Syariat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Bid’ah menurut istilah syariah adalah suatu perkara yang menyelisihi Sunnah. Jika dikatakan :”Seseorang berbuat suatu bid’ah”, maka maksudnya adalah ia membuat amalan dalam Islam yang tidak ada contoh sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullah- memberikan definisi bid’ah, “Bid’ah didalam agama (syariat) adalah apa yang tidak disyariatkan Alloh dan RosulNya, yaitu apa yang tidak diperintahkan untuk berbuat dan beramal dengannya, tidak perintah wajib tidak pula perintah Sunnah.”{Lihat: majmu fatwa 4/107-108).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beliau berkata lagi,” Bid’ah adlah apa-apa yang menyelisihi Al Qur’an, As-Sunnah dan kesepakatan pendahulu ummat (ijma’) berupa perkara I’tiqod dan ibadah-ibadah seperti perkataan Khawarij, Rafidhah, Qodariyyah, Jahmiyah, dan orang-orang yang beribadah dengan menari, bermain alat musik di masjid-masjid, beribadah dengan meuckur jenggot, memakan tanaman yang memabukkan (seperti ganja dan semisalnya-red). Seluruhnya perkara bid’ah yang dijadikan sarana untuk beribadah oleh segolongan orang yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah.” [lihat Majmu fatawa 18/246]. Dan perkataan Syaikhul Islam lainnya,”…Maka sesungguhnya bid’ah adalah apa yang tidak disyariatkan Alloh dari perkara agama ini, maka setiap yang tunduk pada suatu yang tidak disyariatkan Alloh adalah bid’ah.”[lihat : Al Istiqamah 1/42]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin-rahimahullah- menyebutkan definisi bid’ah,”Apa yang dibuat-buat pada urusan agama ini yang menyelisihi Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dan para Shohabat rodliallohu anhum dari perkara aqidah maupun amalan.[Lihat: Syarh Lu’matul Itiqod ,23], Demikian pula definisi bid’ah yang dinyatakan oleh Imam Syatibi-rahimahulloh-,”Bid’ah adalah suatu jalan yang dibuat-buat dalam urusan agama ini yang menyerupai syariat dan dijalankan dengan maksud bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Alloh Azza wa Jalla .”[lihat : Al I’tishom 1/50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Imam Ibnu Rajab-rahimahullah-yang mendefinisikan bid’ah ,” adalah apa-apa yang dibuat/diadakan tanpa ada asalnya di dalam syariat yang menunjukkan perbuatan tersebut . Adapun yang ada asalnya dari syariat menunjukkan perbuatan tersebut bukan bukanlah suatu bid’ah menurut syari’at walaupun dikatakan bid’ah secara bahasa.” [lihat : Jamiul Uluw Wal Hikam hal 265]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Imam Suyuthi berkata tentang definisi bid’ah,” Bid’ah adalah pengungkapan dari suatu perbuatan yang menolak syariat dengan cara menyelisihinya atau menyebabkan pertentangan dengan syariat, baik dengan penambahan maupun dengan pengurangan.”[Lihat : Al Amru bil ittiba’ wa An Nahyu ‘Anil Ibtida ‘bid’ah hal 88]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari definisi-definisi tersebut dapat diketahui bahwa bid’ah secara bahasa lebih lebih umum daripada bid’ah secara syariat. Bid’ah secara bahasa adalah apa yang dibuat-buat dan diada-adakan  tanpa ada contoh sebelumnya, Sedangkan bid’ah secara syariat adalah mengada suatu urusan/perkara di dalam agama yang tidak ditunjukkan atau dijelaskan oleh nash-nash dan kaidah-kaidah syari’at. Kadang-kadang suatu perkara menjadi bid’ah secara bahasa, namun bukan bid’ah secara syariat. Seperti adanya suatu nash yang menganjurkan utnuk berbuat suatu perbuatan, namun kita tidak dapat mewujudkan perbuatan tersebut, kecuali setelah terputusnya (selesainya) pensyariatan dan setelah wafatnya Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam , apakah karena susah mengamalkannya atau ada penghalang yang menghalangi untuk mengerjakannya pada masa-masa penyariatan. Maka barangsiapa yang melakukannya pertama kali, berarti ia mengadakan suatu bid’ah menurut bahasa, karena ia mengadakan suatu perbuatan tanpa ada contoh sebelumnya, namun tidaklah ia berbuat bid’ah secara syariat, akrena adanya nash-nash/dalil yang menunjukkan disyariatkannya perbuatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Contoh bid’ah menurut bahasa ini dari perbuatan para Shohabat rodliallohu anhum banyak sekali, seperti pengumpulan Al Qur’an pada masa Abu Bakar –rodliallhu anhu-, Sholat taraweh berjama’ah pada masa Umar Bij Khattab-radliallohu anhu- dan pembentukan undang-undang pada msa Umar. Ini semua bukanlah termasuk bid’ah dalam syari’at, karena termasuk pada kaidah-kaidah syari’at, akan tetapi hal ini benar jika dikatakan sebagai bid’ah secara bahasa. Karena itulah Umar-rodhiallohu anhu- menamakan bid’ah berkumpulnya manusia pada saat sholat taraweh/qiyam Ramadhan dengan satu Imam, Belia berkata  ketika melihat hal demikian,”Ini adalah sebaik-baiknya bid’ah.”, yang beliau maksud bid’ah disini adlah bid’ah secara bahasa bukan secara syariat [Lihat : Muaqif Ahlus Sunnah wal jama’ah Min Ahlil Ahwa Wal Bida’ Juz 1 hal 90-93]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan dari perkara/urusan kami, maka tertolak.”[HR Muslim]. Dalam riwayat lain beliau bersabda,” barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan kami ini yang bukan berasal darinya, maka tertolak.” {HR Bukhori &amp; Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Awal muncul dan lahirnya bid’ah-bid’ah adalah pada masa kurun kedua dan para Shohabat rodliallohu anhum masih hidup, sebagaimana yang dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu fatwa 10/354,”Ketahuilah bahwa keumuman bid’ah yang berkaitan dengan ilmu-ilmu dan ibadah terjadi pada umat ini pada masa akhir-akhir kekhilafahan khulafaur rashidin, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam  dalam haditsnya,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rashidin sesudahku…” {HR Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Al hakim, Baihaqi dan Ibnu Hibban dari jalan Khalid bin Mi’dan}[Syaikh Salim Al Hilali mengomentari hadits ini :” Hadits Shahih.” Lihat Al Itishom juz 1 hal 64]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bid’ah yang pertama yang terjadi dan nampak adalah bid’ah qadariyah, bid’ah Irja’ (mur’jiah) dan Bid’ah tasyayyu’ (Syiah) serta Khawarij. Inilah bid’ah-bid’ah yang muncul pada kurun kedua ketika para Shohabat rodliallohu anhum masih hidup. Sungguh para Shohabat rodliallohu anhum mengingkari pelaku-pelaku bid’ah tersebut. Setelah itu muncul bid’ah I’tizal (mu’tazilah) yang mengakibatkan fitnah di kalangan kaum muslimin hingga perselisihan pendapat dan pemikiran menjurus kepada hawa nafsu dan bid’ah berikutnya. Ditengah semaraknya fitnah ini, muncul lagi suatu bid’ah yakni tasawwuf dan bid’ah membangun bangunan diatas kubur. Hal ini terjadi setelah berlalunya kurun yang utama {lihat : Al Bid’ah Ta’rifuha Anwa’uha Ahkamuha, Syaikh Al Fauzan hal 11-12}. Demikianlah, kaum muslimin terus dirongrong oleh bid’ah dans etiap kali bertambah masa dan zaman bertambah pula bid’ah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas-radliallohu anhu- :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada suatu tahun, kecuali akan nyata padanya satu bid’ah dan akan mati satu   Sunnah, hingga nyatalah bid’ah-bid’ah dan matinya sunnah-sunnah.” (Riwayat At Thabrani dan Ibnu Wadlah di dalam Al Bida’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Demikianlahselanjutnya dari waktu ke waktu, setiap kali hidup satu bid’ah ketika itu pula akan mati satu sunnah. Akan tetapi kebid’ahan tidak akan muncul kecuali dengan sebab-sebab yang melahirkan bid’ah tersebut. Oleh karena itu sudah menjadi suatu kewajiban bagi seorang muslim untuk menghindari bid’ah dan sebab-sebab yang membawa kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebab Munculnya Bid’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Tidak diragukan lagi bahwa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan As-Sunnah adalah jalan selamat dari terjatuh pada bid’ah dan kesesatan. Alloh Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bahwa (yang Kami perintahkan)ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan ini mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.” [QS Al An’am 153].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam telah menjelaskan pengertian ayat ini didalam haditsnya yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radliallohu anhu dan dikeluarkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Al Hakim dan yang lainnya, ia berkata:” Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam membuat suatu garis bagi kami dan beliau bersabda,” Inilah jalan Alloh” Kemudian beliau membuat garis-garis dikanan dan kirinya dan bersabda,” Ini adalah jalan-jalan dimana pada setiap jalan ini ada setan yang menyeru kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat pada QS Al An’am 153.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maka barangsiapa yang berpaling dari Al Kitab dan As-Sunnah, ia akan terseret ke jalan-jalan yang sesat dan bid’ah-bid’ah yang diada-adakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Suatu hal yang tidak tersembunyi lagi bagi seorang yang berakal bahwa setiap perkara yang baru terjadi tentu ada sebabnya yang dapat diketahui benar atau tidaknya, apabila kita benar-benar memperhatikannya. Adapun munculnya kebid’ahan pada masyarakat muslim yang telah tegak padanya aqidah as shahihah yang diambil dari Al Qur’an dan As-Sunnah, bukanlah perkara yag biasa. Tetapi  munculnya kebid’ahan adalah suatu perkara yang ganjil dan asing yang butuh kepada keterangan utnuk mengetahui sebab-sebabnya (lihat: Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Imam Al Lalikai Jilid 1, juz 1/37.), Diantara sebab munculnya bid’ah yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Bodoh/tidak berilmu tentang hukum-hukum agama dan sumber-sumbernya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Adapun sumber-sumber hukum Islam adalah Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan apa yang digabungkan pada keduanya yakni ijma’. Setiap kali zaman terus berjalan dan manusia bertambah jauh dari ilmu yang haq, maka semakin sedikit ilmu dan tersebarlah kebodohan, sebagaimana yang Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam sabdakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu/mengambil ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hambaNya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama’, sehingga apabila tidak da lagi dimuka bumi ini seorang yang berilmu manusia akan mengambil tokoh-tokoh yang mana apabila mereka ditanya mereka akan berfatwa tanpa ilmu, Mereka sesat dan menyesatkan.” [HR Bukhori, Muslim, Lihat : Jami’u bayan Al Ilmi wa fadlihi, Imam Ibnu Abdul Barr, 1/180]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maka tidak ada yang mampu menentang dan melawan bid’ah, kecuali ilmu dan ahli ilmu yakni ulama’.Apabila ilmu dan ulama sudah tiada lagi, maka bid;ah akan merebak dan mendapat kesempatan dan berpeluang besar untuk muncul dan berjaya serta menebarkan tokoh-tokohnya untuk menyeret umat ke pintu kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Mengikuti hawa nafsu dalam masalah hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sumber segalanya dengan menyeret/membawa dalil-dalil dari Al Qur’an dan As-Sunnah untuk mendukungnya, dalil-dalil tersebut dihukumi dengan hawa nafsunya. Ini adalah perusakan terhadap syariat dan tujuannya. Mengikuti hawa nafsu adalah penyimpangan dari jalan yang lurus, barangsiapa yang menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah berarti ia mengikuti hawa nafsunya, sebagaimana yang Alloh Azza wa Jalla firmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mengikuti petunjuk dari Allah sedikitpun..” (QS Al Qoshosh 50) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah (sesembahan)nya. Dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan penutup atas penglihatannya, maka siapakah yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)…{QS Al Jatsiyah 23}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat bid’ah dengan hawa nafsu adalah dosa besar disisi Allah, berapa banyak syariat Islam yang shahih yang telah diselewengkan oleh hawa nafsu berapa banyak pula manusia jatuh ke dalam jurang dan lembah kesesatan karena hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Fanatik buta terhadap pemikiran-pemikiran orang tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Fanatik buta terhadap pemikiran orang-orang tertentu akan memisahkan antara seorang manusia dari dalil dan mengenal al haq, Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan apabila dikatakan kepada mereka:’Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’, Mereka menjawab,’(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami…’[QS Al Baqarah 170]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Inilah keadaan orang-orang yang fanatik buta di zaman sekarang ini, yang mayoritas terdiri atas pengikut sebagian madzab-madzab, sufiyyah dan quburriyin, yang jika mereka diseru untuk mengikuti Al Qur’an dan As-Sunnah mereka menolaknya. Dan mereka menolak apa-apa yang menyelisihi pendapat mereka. Mereka berhujjah dengan madzab-madzab, Syaikh-syaikh, kiai-kiai, bapak-napak dan kakek mereka. Ini adalah pintu dari sekian banyak pintu masuknya bid’ah ke dalam agama Islam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Ghuluw (berlebih-lebihan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Yaitu  berlebih-lebihan dalam agama, seperti halnya bid’ah Khawarij dan Syiah. Khawarij, merka ghuluw dalam memahami ayat-ayat peringatan dan ancaman. Mereka berpaling dari ayat-ayat roja’ (pengharapan), janji pengampunan dan taubat, sebagaimana Alloh Azza wa Jalla  berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesunggunya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik)ini, bagi siapapun yang dikehendaki-Nya…” (An Nisa 48, 116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sedangkan Syi’ah, mereka berbuat ghuluw hingga mereka mengangkat imam-imam mereka pada derajat kenabian bahkan derajat uluhiyyah (ketuhanan). Wal ‘Iyyadzu billah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Tasyabuh dengan kaum kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Tasyabuh (menyerupai) kaum kafir adalah sebab yang paling menonjol terjatuhnya  seseorang ke dalam bid’ah, sebagaimana riwayat tentang adanya seorang shohabat yang baru masuk Islam (ketika fathul makkah-red) kepada Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam dia meminta utnuk menjadikan suatu tempat digantungkannya senjata-senjata mereka dan mereka tinggal padanya, hal ini karena dia melihat kaum musyrikin biasa mengantungkan senjata perang mereka di atas pohon (dzatul anwath) , maka ketika Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam mendengar permintaan ini, maka beliau berkata,” Allahu Akbar !, Ini adalah suatu perbuatan orang-orang sebelum kalian, sebagaimana yang dikatakan bani Israil kepada Musa,”…bani Israil berkata:’Hai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka memeliki beberapa ilah.” (QS Al Araf 138). Kemudian Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,”Sungguh, kalian akan melakukan sunnah (perbuatan orang-orang) sebelum kalian .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pada hadits tersebut Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam menjelaskan bahwa penyerupaan dengan orang-orang kafir adalah penyebab utama yang menjadikan bani israil dan sebagian shohabat yang baru masuk islam tersebut meminta permintaan yang sangat hina ini kepada nabinya, taitu menjadikan bagi mereka sesembahan yang mereka beribadah kepadanya dan bertabaruk (mencari berkah padanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hal ini pula yang terjadi saatz aman sekarang ini, karena kebanyakan msulimin yang bodoh dengan agamanya berbuat taqlid mengikuti kaum kafir pada amalan-amalan bid’ah dan syirik, seperti perayaan-perayaan ulang tahun, maulid, dan mengadakan hari-hari untuk amalan-amalan khusus dan perayaan serta peringatan hari-hari yang dianggap bersejarah menurut anggapan mereka dan dinggap sebagai amalan ibadah seperti peringatan mauled nabi, nuzulul qur’an, isra mi’raj, haul kematian ulama/kyai/tokoh seperti halnya perbuatan yang dilakukan kaum kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Menolak Bid’ah dengan bid’ah yang semisalnya atau yang lebih rusak darinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya yakni kaum murji’ah, mu’tazilah, musyabihah dan Jahmiyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kaum Murji’ah memulai bid’ahnya dalam mensikapi orang-orang khawarij yang mengkafirkan Ali bin Abi Thalib radliallohu anhu dan orang-orang yang bersmanya. Mereka berkata :” Kita tidak menghukumi mereka dan kita kembalikan urusnnya kepda Alloh Azza wa Jalla .” Hingga akhirnya mereka sampai pada pendapat bahwa maksiat tidak me-mudharat-kan/membahayakan iman, sebagaimana tidak berfaedah ketaatan bersama kekufuran. Al Baghdadi berkata;” mereka dinamakan mur’jiah karena mereka memisahkan antara amal dan keimanan.” [Lihat Al farqu bainal Firaq 202]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kemudian muncul pula Mu’tazilah dengan bid’ahnya yaitu mereka mengatakan,”Al manzilatu bainal manzilataini.”, sebagaimana perkataan pemimpin mu’tazilah yakni Wasil bin Atha’ pada seorang penanya yang melemparkan pertanyaan di majelis Imam Hasan Al basri-rahimahullah- dan menyebutkan sikap khawarij dan murji’ah terhadap seseorang pelaku dosa besar. Kemudian orang tersebut meminta keterangan tentang keyakinan yang benar dalam mensikapi pelaku dosa besar kepada imam Hasan al Basri, akan tetapi tiba-tiba Wasil bin Atha’ yang juga hadir dalam majelis itu mendahului menjawab bahwa pelaku dosa besar berda dalam posisi diantara dua kedudukan. Dan ini adalah menolak dan membantah bid’ah dengan bid’ah baru, karena jawaban al manzilatu baina manzilataini ini tidak dikenal dalam Islam baik oleh Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam ,para Shohabat rodliallohu anhum dan tabi’in-rahimakumullah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Adapun musyabihah, mereka membantah perbuatan-perbuatan penafi’ (peniadaan) sifat dari kalangan jahmiyah yang berada di dalam satu negeri dengan mereka (yakni kota Balkh) tempat Jahm bin Shafwan menampaknya pemikiran sesatnya dalam meniadakan/mengingkari sifat-sifat Alloh Azza wa Jalla. Maka Muqotil bin Sulaiman membantahnya dengan berlebih-lebihan sampai kepada penyerupaan Alloh Azza wa Jalla dengan makhlukNya, Ia ingin membantah suatu bid’ah namun ia malah membuat bid’ah baru yang tidak kalah rusaknya dari bid’ah yang dibantahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sedangkan jahmiyah, mereka menolak bid’ah qadariyah (yang meniadakan taqdir Allah) dengan bid’ah lainnya , yaitu dengan menyatakan al-jabr. Sebagaimana qadariyah yang mengira bahwa hamba adalah pencipta amalan mereka sendiri dan Allah yang menciptakan hamba tersebut. Maka Jahm menolak bid’ah ini dan membantahnya dengan bertolak belakang dengannya yaitu Allah dalah pencipta dan yang mengadakan, sedangkan hamba dipaksa dalam perbuatannya, tidak ada kemampuan dan tidak ada ikhtiyar (pilihan) bagi seorang hamba dalam beramal, bahkan hamba seperti pelepan kurma yang dihembus angin kesana kemari. Ini adalah menolak bid’ah denagn bid’ah yang tidak kalah sesatnya dengan yang ditolak karena bid’ah ini berujung pada peniadaan pembebanan syariat terhadap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Ahlul Bid’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Setelah kta pahami pendapat par ulama tentang definisi bid’ah, maka perlu dibahas siapakah yang dikatakan ahlul bid’ah agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menghukumi seseorang sebagai ahlul bid’ah. Karena ini adalah suatu perkara yang amat sangat penting yang harus diketahui, karena dengan mengetahui siapa ahlul bid’ah kita dapat mensikapi mereka sebagaimana yang dicontohkan oleh Salafush Shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Telah ada nash-nash dalil dan perkataan yang menunjukkan pencelaan terhadap ahlul bid’ah, serat kewajiban untuk mengindari dan memperingatkan manusia dari mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata:” Bid’ah yang dengannya seseorang dianggap sebabagi ahlul ahwa’ ialah bid’ah yang sudah dikenal di kalangan ahlul ilmu tentang penyelisihannya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah seperti bid;ah khawarij, rafidhah, qadariyyah, murji’ah.”{lihat : majmu fatawa 35/414).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi tentang ahlul ahwa’ dan ahlul bid’ah ini sangat tepat, ditinjau dari dua segi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Hawa/ahwa adalah lawan dari mengikuti nash, sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla ,”maka jika mereka tidak menyambut (ajakanmu),ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka)..” [QS AL Qoshosh 50]. Dan firman Nya,”Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka..[QS Asy Syuro 15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Allah telah menjadikan mengikuti hawa nafsu sebagai lawan dari mengikuti perintahNya. Tatkala orang-orang yang mengikuti dan melaksanakan perintah Allah adalah orang-orang yang mengikuti Al Quran dan As Sunnah,maka orang yang mengikuti hawa nafsu adalah orang yang menyelisihi keduanya. Inilah yang disebutkan Syaikhul Islam Ibnu taimiyah, akan tetapi beliau rahimahullah menegaskan bahwa penyelisihan yang dapat menyebabkan pelakunya menjadi ahlul bid’ah adalah penyelisihan yang terjadi pada suatu masalah yang sudah masyhur (terkenal) dikalangan ulama bahwa yang demikian menyelisihi Al Qur’an danAs Sunnah. Ini perlu ditekankan karena ada juga beberapa perkara yang mendetail yang tersembunyi dari sebagian manusia bahwa masalah ini menyelisihi Al Qur’an dan As Sunah. Maka barangsiapa yang terjerumus kedalam masalah ini tidaklah ia dianggap sebagai pengikut hawa nafsu, tetapi ia adalah mujtahid, karena ijtihadnya yang salah sehingga ia terjatuh pada masalah tersebut. Orang yang demikian keluar dari kategori ahlul bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Membuat bid’ah pada suatu perkara yang sudah terkenal bahwa hal tersebut adalah menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah terjadi kecuali didorong oleh haw nafsu, Maka barangsiapa yang berbuat demikian ia termasuk dari kategori ahlul ahwa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dari definisi tersebut maka dpat disimpulkan bahwa Ahlul bid’ah adalah sebutan bagi orang yang kebid’ahannya termasuk dari perkara-perkara yang sudah terkenal di kalangan ulama tentang penyelisihannya dari Al Qur’an dan As Sunnah, bukan pada masalah-masalah yang mendetail yang tersembunyi dari sebagian manusia. Tidak ada perbedaan dalam masalah ini antara orang yang berilmu maupun orang awwam. Ini adalah hukum di dunia. Adapun kelak di akherat seorang mubtadi’ disisi Allah adalah mubtadi’ yang batinnya sengaja melakukan perbuatan bid’ah, adapun mereka yang tidak sengaja maka Allah Maha pengampun. Hal ini karena kita membangun hukum didunia ini dengan berdasarkan apa yang nampak dari kita karena kita tidak tahu apa yang ada di dalam batin seseorang, adapun di akherat Allah kelak yang akan membalas apa yang disembunyikan hati-hati mereka [lihat: Muaqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Hawa wal Bida’, Syaikh Dr Ar Ruhaili hal 118]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Dari sinilah wajib atas setiap penuntut ilmu dan para da’I yang sibuk membimbing ummat, para pengajar dan yang lainnya untuk memantapkan perkara pokok yang besar ini terhadap kaum muslimin, maka janganlah ia menghukumi seorang muslim dengan kekufuran, kefasikan, atau kebid’ahan, kecuali atas apa-apa yang sudah jelas dan pasti dari perkara tersebut (secara dhahir-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu kelak akan dimintai pertangungjawbannya.”{QS Al Isra 36}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya menghukumi manusia dengan semata-mata prasangka dan hawa nafsu tanpa ada bukti nyata dari perkataan manusia tersebut adalah termasuk berkata tentang Allah tanpa ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu ta’ala ‘alam bi shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ustadz Abu Nu’aim Muhammad  Faishal Jamil, dalam Salafy edisi XI/Jumadil Akhir 1417 H , dilarang keras menghkopi kecuali menyertakan wwwl al-aisar.com sebagai sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-6973431941797818295?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/6973431941797818295/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=6973431941797818295' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/6973431941797818295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/6973431941797818295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/05/bidah-dan-ahlul-bidah.html' title='Bid&apos;ah dan Ahlul Bid&apos;ah'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-8116282285214850323</id><published>2010-04-29T14:34:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T14:35:42.025-07:00</updated><title type='text'>PENJELASAN RINGKAS IMAM AHLUS-SUNNAH TENTANG HADITS DATANGNYA MALAIKAT MAUT KEPADA NABI MUSA ‘ALAIHIS-SALAAM</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG&lt;br /&gt;Abu Al-Jauzaa'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah hadits masyhur yang sering menjadi sasaran kritik oleh sebagian kalangan. Hadits tersebut adalah hadits yang menceritakan tentang Nabi Musa ’alaihis-salaam yang menampar malaikat maut ketika hendak mencabut nyawanya. Pada kesempatan ini saya akan menuliskan beberapa penjelasan ringkas (yang insyaAllah padat) dari kalangan imam Ahlus-Sunnah tentang pemahaman hadits dimaksud. Harapannya, tulisan ini dapat menjadi sumbangan amal kebajikan dalam rangka saling memberikan nasihat kepada kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أَبي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ لَهُ أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا. قَالَ : فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فَقَالَ : إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي. قَالَ فَرَدَّ اللَّهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ الْحَيَاةَ تُرِيدُ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً قَالَ ثُمَّ مَهْ قَالَ ثُمَّ تَمُوتُ قَالَ فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ رَبِّ أَمِتْنِي مِنْ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abi Hurairah radliyallaahu ta’ala ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Malaikat Maut mendatangi Nabi Musa ’alaihis-salaam. Maka ia (Malaikat Maut) berkata berkata kepadanya : ’Penuhilan panggilan Tuhanmu !’. Maka Nabi Musa ’alaihis-alaam pun menampar muka Malaikat Maut sehingga matanya keluar. Kemudian Malaikat Maut kembali kepada Allah ta’ala dan berkata : ’Sesungguhnya Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian. Ia telah membuat mataku keluar’. Maka Allah ta’ala mengembalikan mata Malaikat Maut dan berfirman : ’Kembalilah kepada hamba-Ku (yaitu Musa) kemudian katakan kepadanya : Apakah engkau masih ingin hidup ?. Jika engkau masih ingin hidup, maka letakkan tanganmu di atas punggung sapi jantan. Setiap bulu yang dapat engkau tutupi dengan tanganmu, maka kamu hidup (bertambah umur) setahun’. Musa bertanya : ’Kemudian apa ?’. Allah berfirman : ’Kemudian engkau mati’. Maka Musa pun berkata : ’Jika demikian, sekarang (waktunya)! Wahai Rabb-ku, rupa-rupanya ajalku telah dekat. Maka dekatkanlah aku ke tanah suci sejauh jarak lemparan dengan menggunakan batu”. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Demi Allah, seandainya aku beradadi dekatnya, tentu aku tunjukkan kepadamu kuburnya yang terletak di sebelah jalan di sisi bukit pasir merah” [HR. Al-Bukhari no. 1274, 3226; Muslim no. 2372; An-Nasa’i no. 2089; Ahmad no. 7634, 8157, 8601, 10917; Ibnu Hibban no. 6223, 6224; dan yang lainnya. Ini adalah lafadh Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemusykilan hadits tersebut dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنكر بعض أهل البدع والجهمية هذا الحديث وقالوا لا يخلو أن يكون موسى عليه الصلاة والسلام عرف ملك الموت أو لم يعرفه فإن كان عرفه فقد استخف به وأن كان لم يعرفه فرواية من روى أنه كان يأتي موسى عيانا لا معنى لها ثم إن الله تعالى لم يقتص لملك الموت من اللطمة وفقء العين والله تعالى لا يظلم أحدا.قال ابن خزيمة وهذا اعتراض من أعمى الله بصيرته ومعنى الحديث صحيح وذلك أن موسى لم يبعث الله إليه ملك الموت وهو يريد قبض روحه حينئذ وإنما بعثه اختبارا وبلاءً كما أمر الله تعالى خليله بذبح ولده ولم يرد إمضاء ذلك ولو أراد أن يقبض روح موسى عليه الصلاة والسلام حين لطم الملك لكان ما أراد وكانت اللطمة مباحة عند موسى إذ رأى آدميا دخل عليه ولا يعلم أنه ملك الموت وقد أباح الرسول عليه الصلاة والسلام فقأ عين الناظر في دار المسلم بغير إذن ومحال أن يعلم موسى أنه ملك الموت ويفقأ عينه وقد جاءت الملائكة إلى إبراهيم عليه الصلاة والسلام فلم يعرفهم ابتداء ولو علمهم لكان من المحال أن يقدم إليهم عجلاً لأنهم لا يطعمون وقد جاء الملك إلى مريم فلم تعرفه ولو عرفته لما استعاذت منه وقد دخل الملكان على داود عليه الصلاة والسلام في شبه آدميين يختصمان عنده فلم يعرفهما وقد جاء جبريل عليه الصلاة والسلام إلى سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وسأله عن الإيمان فلم يعرفه وقال ما أتاني في صورة قط إلا عرفته فيها غير هذه المرة فكيف يستنكر أن لا يعرف موسى الملك حين دخل عليهوأما قول الجهمي إن الله تعالى لم يقتص للملك فهو دليل على جهله من الذي أخبره أن بين الملائكة والآدميين قصاصا و من أخبره أن الملك طلب القصاص فلم يقتص له وما الدليل على أن ذلك كان عمدا وقد أخبرنا نبينا صلى الله عليه وسلم أن الله تعالى لم يقبض نبيا قط حتى يريه مقعده في الجنة ويخبره فلم ير أن يقبض روحه قبل أن يريه مقعده من الجنة ويخبره&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebagian ahli bid’ah dan golongan Jahmiyah telah mengingkari hadits ini seraya berkata : ’Tidak peduli entah Musa mengenal Malaikat Maut tersebut atau tidak. Apabila mengenalnya, berarti Musa telah melecehkan kedatangannya. Dan bila tidak mengenalnya, maka riwayat yang menyebutkan bahwa malaikat tersebut datang kepada Musa dalam bentuk yang dapat dilihat mata, tidaklah berarti apa-apa sedikitpun. Tambah lagi, Allah tidak menegakkan hukum qishash bagi Malaikat tersebut, karena perilaku Musa. Padahal Allah tidak pernah mendhalimi siapapun’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Menanggapai perkataan ini), Ibnu Khuzaimah menjelaskan : ”Ini adalah hujatan orang yang telah dibutakan pandangannya oleh Allah. Makna hadits ini sudah benar. Allah tidak mengutus Malaikat Maut untuk mencabut nyawa Musa ’alaihis-salaam saat itu juga, tetapi Allah mengutusnya sebagai ujian dan cobaan sebagaimana Allah memerintahkan kekasih-Nya (Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam) untuk menyembelih putranya, namun tidak mewujudkannya. Seandainya Malaikat itu bertujuan mencabut nyawa saat itu, tentu dia akan melaksanakannya ketika Musa menamparnya. Tamparan tersebut diperbolehkan bagi diri Nabi Musa ’alaihis-salaam, karena beliau melihat orang asing yang memasuki rumahnya. Sementara waktu itu beliau tidak mengetahui kalau yang datang tersebut adalah Malaikat Maut. Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam telah memperbolehkan untuk mencongkel mata orang yang mengintip rumah orang tanpa ijin. Sungguh mustahil bila Musa mengetahui bahwa dia adalah Malaikat Maut lalu menamparnya hingga matanya keluar. Sungguh telah datang beberapa malaikat kepada Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam sedang beliau awal kalinya tidak mengenal mereka. Seandainya tahu, tidak mungkin beliau menyuguhkan daging panggang kepada mereka, karena malaikat tidaklah makan. Demikian pula seorang malaikat yang pernah datang kepada Maryam dan ia tidak mengenalnya. Seandainya tahu, tidak mungkin Maryam berlindung darinya. Demikian pula dua malaikat pernah datang kepada Nabi Dawud ’alaihis-salaam dalam bentuk manusia yang sedang bersengketa di sisinya, sedang beliau tidak mengenalnya. Demikian pula datang Jibril kepada Nabi Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan bertanya kepada beliau tentang iman, sedang beliau shallallaahu ’alaihi wasallam tidak mengenalnya. Beliau bersabda : ”Jibril tidak pernah datang dalam bentuk rupa apapun melainkan aku mengetahuinya, kecuali kali ini”. Dengan demikian, lantas mengapa dianggap mustahil bila Musa tidak mengenal Malaikat Maut yang masuk ke rumahnya ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ucapan orang Jahmiyyah bahwa Allah tidak menegakkan hukum qishash bagi malaikat, maka ini menunjukkan kebodohannya, karena siapa yang mengkhabarkan (baca : mana dalilnya) dalam hal ini bahwasannya antara Malaikat dengan manusia itu ditegakkan hukum qishash ? Siapa yang mengkhabarkan kepadanya bahwa malaikat meminta qishash lalu Allah tidak memenuhinya ? Apa buktinya bahwa perilaku Nabi Musa tersebut didasari oleh unsur kesengajaan ? Nabi kita shallallaahu ’alaihi wasallam telah mengkhabarkan pada kita bahwa Allah tidaklah mencabut nyawa seorang nabi pun sebelum Dia memperlihatkan tempat duduknya di surga lalu memberitahukannya. Sehingga Allah juga tidak ingin mencabut nyawa Nabi Musa ’alaihis-salaam sebelum memperlihatkan tempat duduknya di surga dan mengkhabarkannya” [selesai – ’Umdatul-Qaari’ Syarh Shahih Al-Bukhari oleh Al-’Allamah Badruddin Al-’Aini rahimahullah juz 8 hal. 147–148; Multaqaa Ahlil-Hadiits – http://www.ahlalhdeeth.com/].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah (murid Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah) berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الله جل وعلا بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم معلما لخلقه فأنزله موضع الإبانة عن مراده فبلغ صلى الله عليه وسلم رسالته وبين عن آياته بألفاظ مجملة ومفسرة عقلها عنه أصحابه أو بعضهم وهذا الخبر من الأخبار التي يدرك معناه من لم يحرم التوفيق لإصابة الحق وذاك أن الله جل وعلا أرسل ملك الموت إلى موسى رسالة ابتلاء واختبار وأمره أن يقول له أجب ربك أمر اختبار وابتلاء لا أمرا يريد الله جل وعلا إمضاءه كما أمر خليله صلى الله على نبينا وعليه بذبح ابنه أمر اختبار وابتلاء دون الأمر الذي أراد الله جل وعلا إمضاءه فلما عزم على ذبح ابنه وتله للجبين فداه بالذبح العظيم وقد بعث الله جل وعلا الملائكة إلى رسله في صور لا يعرفونها كدخول الملائكة على رسوله إبراهيم ولم يعرفهم حتى أوجس منهم خيفة وكمجيء جبريل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وسؤاله إياه عن الإيمان والإسلام فلم يعرفه المصطفى صلى الله عليه وسلم حتى ولى فكان مجيء ملك الموت إلى موسى على غير الصورة التي كان يعرفه موسى عليه السلام عليها وكان موسى غيورا فرأى في داره رجلا لم يعرفه فشال يده فلطمه فأتت لطمته على فقء عينه التي في الصورة التي يتصور بها لا الصورة التي خلقه الله عليها ولما كان المصرح عن نبينا صلى الله عليه وسلم في خبر بن عباس حيث قال أمنى جبريل عند البيت مرتين فذكر الخبر وقال في آخره هذا وقتك ووقت الأنبياء قبلك كان في هذا الخبر البيان الواضح أن بعض شرائعنا قد تتفق ببعض شرائع من قبلنا من الأمم ولما كان من شريعتنا أن من فقأ عين الداخل داره بغير إذنه أو الناظر إلى بيته بغير أمره من غير جناح على فاعله ولا حرج على مرتكبه للأخبار الجمة الواردة فيه التي أمليناها في غير موضع من كتبنا كان جائزا اتفاق هذه الشريعة بشريعة موسى بإسقاط الحرج عمن فقأ عين الداخل داره بغير إذنه فكان استعمال موسى هذا الفعل مباحا له ولا حرج عليه في فعله فلما رجع ملك الموت إلى ربه وأخبره بما كان من موسى فيه أمره ثانيا بأمر آخر أمر اختبار وابتلاء كما ذكرنا قبل إذ قال الله له قل له إن شئت فضع يدك على متن ثور فلك بكل ما غطت يدك بكل شعرة سنة فلما علم موسى كليم الله صلى الله على نبينا وعليه أنه ملك الموت وأنه جاءه بالرسالة من عند الله طابت نفسه بالموت ولم يستمهل وقال فالآن فلو كانت المرة الأولى عرفه موسى أنه ملك الموت لاستعمل ما استعمل في المرة الأخرى عند تيقنه وعلمه به ضد قول من زعم أن أصحاب الحديث حمالة الحطب ورعاة الليل يجمعون ما لا ينتفعون به ويروون ما لا يؤجرون عليه ويقولون بما يبطله الإسلام جهلا منه لمعاني الأخبار وترك التفقه في الآثار معتمدا منه على رأيه المنكوس وقياسه المعكوس&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah mengutus Rasul-Nya shallallaahu ’alaihi wasallam untuk mengajari makhluk-Nya, lalu Allah menurunkannya sebagai posisi penjelas terhadap kehendak-Nya. Selanjutnya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menyampaikan risalah-Nya dan menerangkan ayat-ayat-Nya dengan lafadh-lafadh yang global maupun terperinci, yang dapat dipahami oleh para shahabatnya atau sebagian dari mereka. Dan hadits ini termasuk dari berita-berita Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang bisa ditangkap maknanya oleh orang yang tidak diharamkan mendapat taufik untuk mencapai yang hak. Demikianlah, bahwasannya Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah mengutus Malaikat Maut kepada Nabi Musa ‘alaihis-salaam dengan sebuah risalah sebagai ujian dan cobaan. Adapun perintah Allah untuk Malaikat Maut agar mengatakan kepada Nabi Musa : ”Penuhilan panggilan Tuhanmu” ; ini merupakan perintah sebagai ujian dan cobaan, dan bukanlah perintah yang Allah inginkan (secara terang-terangan) untuk melaksanakannya. Sebagaimana perintah Allah kepada kekasih-Nya (yaitu Nabi Ibrahim) – semoga shalawat atas Nabi kita dan Nabi Ibrahim – untuk menyembelih putranya merupakan perintah sebagai ujian dan cobaan. Bukan perintah yang Allah inginkan (secara terang-terangan) untuk melaksanakannya. Maka ketika Ibrahim berkeinginan keras untuk menyembelih putranya dan beliau telah membaringkan putranya di atas pelipisnya, Allah pun menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Dan sungguh Allah telah mengutus para malaikat kepada Rasul-Rasul-Nya, dalam wujud yang mereka (para Rasul itu) tidak mengenalnya. Seperti malaikat-malaikat yang menemui Ibrahim, sedangkan ia tidak mengenali para malaikat itu sehingga timbullah rasa takut kepada mereka. Dan juga seperti datangnya Jibril kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan ia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam tentang iman dan Islam, sementara Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam belum mengenalnya hingga Jibril pergi (barulah beliau mengetahuinya). Begitu pula datangnya Malaikat Maut kepada Musa ’alaihis-salaam bukan dengan wujud yang biasa dikenal oleh Musa, sedangkan Musa adalah seorang Nabi yang sangat kokoh (dalam memegang agamnya). Maka ketika melihat di dalam rumahnya ada seorang laki-laki yang tidak dikenalinya (dan menginginkan nyawanya), ia pun mengangkat tangannya lalu menampar malaikat tersebut. Tamparan Musa itu menjadikan mata malaikat itu buta dalam wujud jelmaannya. Bukan dalam wujud asli yang Allah ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun keterangan para malaikat datang terang-terangan kepada Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam terdapat dalam riwayat Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma, dimana Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Jibril mengimamiku di dekat Ka’bah sebanyak dua kali” ; lalu disebutkan riwayatnya. Dan di akhirnya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Ini adalah waktuku dan waktu para nabi sebelumku”. Pada hadits ini terdapat keterangan yang jelas bahwa sebagian syari’at kita memiliki kesamaan dengan sebagian syari’at umat-umat sebelum kita. Dimana termasuk dari syari’at kita adalah : Barangsiapa yang mencungkil mata seseorang yang masuk rumahnya tanpa ijin atau seseorang yang melihat ke dalam rumahnya tanpa perintahnya, maka tidak ada dosa bagi pelakunya dan tidak apa-apa terhadap yang melakukannya. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang menerangkan dalam permasalahan tersebut yang telah kami sampaikan di banyak tempat di dalam kitab-kitab kami. Jadi perbuatan tersebut diperbolehkan. Maka syari’at ini sesuai dengan syari’at Nabi Musa dalam hal tidak berdosanya orang yang mencungkil mata seseorang yang masuk rumahnya tanpa ijin. Dan Nabi Musa melakukan perbuatan tersebut karena diperbolehkan dan tidak ada dosa baginya untuk melakukannya. Ketika Malaikat Maut kembali kepada Rabbnya dan menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dengan Nabi Musa, maka Allah memerintahkannya untuk yang kedua kalinya dengan perintah yang lain, yaitu perintah sebagai ujian dan cobaan, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Allah mengatakan kepadanya : ”Katakan kepada Musa, jika engkau mau, letakkan tanganmu ke punggung sapi jantan. Maka engkau akan mendapatkan penangguhan (kematian) sejumlah bulu (sapi jantan) yang tertutupi tanganmu, dengan setiap bulunya terhitung satu tahun (penangguhan)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Musa Kalimullah – semoga keselamatan atas Nabi kita dan atas Nabi Musa – mengetahui bahwa orang itu adalah Malaikat Maut, dan ia datang membawa risalah dari Allah, maka dirinya merasa lebih baik untuk memilih kematian dan tidak menangguhnya. Nabi Musa berkata : ” Jika demikian, sekarang (waktunya)!”. Seandainya pada saat kedatangan yang pertama Nabi Musa telah mengetahui bahwa orang itu adalah Malaikat Maut, maka malaikat tersebut tidak perlu datang lagi kepada Nabi Musa untuk kedua kalinya dalam rangka untuk meyakinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan ini bertentangan dengan perkataan orang-orang yang menyangka bahwa Ashhaabul-Hadiits adalah para pembawa kayu bakar dan penjaga malam yang mengumpulkan hal-hal yang tidak bermanfaat, dan meriwayatkan hal-hal yang tidak bernilai pahala. Orang-orang tersebut mengatakan sesuatu yang dapat membatalkan keislaman mereka, karena mereka tidak mengetahui makna-makna dari hadits tersebut, serta meninggalkan tafaqquh (memahami agama) dan riwayat-riwayat. Kemudian mereka bersandar kepada akal dan qiyas yang berubah-rubah” [selesai – Shahih Ibni Hibban no. 6223 – Free Program from Islamspirit – http://www.islamspirit.com/].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ الْمَازِرِيّ : وَقَدْ أَنْكَرَ بَعْض الْمَلَاحِدَة هَذَا الْحَدِيث , وَأَنْكَرَ تَصَوُّره , قَالُوا كَيْف يَجُوزُ عَلَى مُوسَى فَقْء عَيْن مَلَك الْمَوْت ؟ قَالَ : وَأَجَابَ الْعُلَمَاء عَنْ هَذَا بِأَجْوِبَةٍ : أَحَدهَا أَنَّهُ لَا يَمْتَنِع أَنْ يَكُونَ مُوسَى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَذِنَ اللَّه تَعَالَى لَهُ فِي هَذِهِ اللَّطْمَة , وَيَكُون ذَلِكَ اِمْتِحَانًا لِلْمَلْطُومِ , وَاَللَّه سُبْحَانه وَتَعَالَى يَفْعَلُ فِي خَلْقه مَا شَاءَ , وَيَمْتَحِنُهُمْ بِمَا أَرَادَ . وَالثَّانِي أَنَّ هَذَا عَلَى الْمَجَاز , وَالْمُرَاد أَنَّ مُوسَى نَاظَرَهُ وَحَاجَّهُ فَغَلَبَهُ بِالْحُجَّةِ , وَيُقَالُ : فَقَأَ فُلَان عَيْن فُلَان إِذَا غَالَبَهُ بِالْحُجَّةِ , وَيُقَالُ : عَوَرْت الشَّيْء إِذَا أَدْخَلْت فِيهِ نَقْصًا قَالَ : وَفِي هَذَا ضَعْفٌ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " فَرَدَّ اللَّه عَيْنه " فَإِنْ قِيلَ : أَرَادَ رَدّ حُجَّته كَانَ بَعِيدًا . وَالثَّالِث أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْلَمْ أَنَّهُ مَلَك مِنْ عِنْد اللَّه , وَظَنَّ أَنَّهُ رَجُلٌ قَصَدَهُ يُرِيدُ نَفْسَهُ , فَدَافَعَهُ عَنْهَا , فَأَدَّتْ الْمُدَافَعَةُ إِلَى فَقْءِ عَيْنِهِ , لَا أَنَّهُ قَصَدَهَا بِالْفَقْءِ , وَتُؤَيِّدُهُ رِوَايَة ( صَكَّهُ ) , وَهَذَا جَوَاب الْإِمَام أَبِي بَكْر بْن خُزَيْمَةَ وَغَيْره مِنْ الْمُتَقَدِّمِينَ , وَاخْتَارَهُ الْمَازِرِيّ وَالْقَاضِي عِيَاض&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Telah berkata Al-Maziri : Sebagian atheis mengingkari hadits ini beserta gambarannya dengan argumen : ”Bagaimana mungkin Nabi Musa mencongkel mata Malaikat Maut ?”. Maka para ulama menjawab syubhat ini dengan beberapa jawaban : Pertama ; Tidak mustahil bila Allah mengijinkan Musa ’alaihis-salaam untuk melakukan tamparan ini sebagai ujian dan cobaan bagi yang ditampar (yaitu Malaikat Maut), karena Allah melakukan pada makhluk-Nya sekehendak-Nya. Juga, menguji makhluk-Nya dengan sekehendak-Nya pula. Kedua ; Hal ini adalah majaz. Maksudnya, Musa hendak mendebat Malaikat dan adu argumentasi dengannya sehingga mengalahkannya. Dikatakan faqa-a fulaanun ’aina fulaanin apabila ia mengalahkan argumen lawannya. Tetapi pendapat ini lemah, karena sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Lalu Allah mengambalikan matanya”. Bila dikatakan bahwa maksudnya adalah ”mengambalikan membantah hujjahnya” ; maka ini adalah jauh sekali. Ketiga ; Musa tidak tahu bahwa yang datang padanya adalah Malaikat utusan Allah. Musa mengira bahwa dia adalah orang asing yang menginginkan nyawanya, sehingga Musa harus membela dirinya dan menamparnya. Pembelaan ini membuat dirinya tanpa sengaja mencungkil matanya. Ini adalah jawaban Al-Imam Abu Bakr bin Khuzaimah dan yang lainnya dari kalangan ulama terdahulu. Pendapat ini juga dipilih oleh Al-Maziri dan Al-Qadli ’Iyadl” [Syarh Shahih Muslim oleh An-Nawawi hal. 1621–1622; Maktabah Al-Misykah – www.almeshkat.net/books].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah berkata (ketika mensyarah kitab Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Lum’atul-I’tiqaad) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا الحديث ثابت في الصحيحين وإنما أثبته المؤلف في العقيدة لأن بعض المبتدعة أنكره معللاً ذلك بأنه يمتنع أن موسى يلطم الملك. ونرد عليهم: بأن الملك أتى موسى بصورة إنسان لا يعرف موسى من هو؟ يطلب منه نفسه، فمقتضى الطبيعة البشرية أن يدافع المطلوب عن نفسه، ولو علم موسى أنه ملك لم يلطمه، ولذلك استسلم له في المرة الثانية حين جاء بما يدل أنه من عند الله، وهو إعطاؤه مهلة من السنين بقدر ما تحت يده من شعر ثور.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hadits ini terdapat dalam kitab Shahihain. Muallif (yaitu Ibnu Qudamah Al-Maqdisi) mencantumkan hadits ini dalam kitab ‘aqidahnya karena sebagian ahlul-bida’ mengingkarinya dengan alasan bahwasannya tidak mungkin Nabi Musa ‘alaihis-salaam menampar seorang malaikat. Maka kita bantah mereka, bahwasannya malaikat itu datang kepada Musa dengan wujud manusia. Dan Nabi Musa tidak mengetahui siapa orang tersebut. Maka tabiat manusia menuntut untuk mempertahankan jiwanya dari kehendak tersebut. Seandainya Musa mengetahui bahwa orang tersebut adalah malaikat, maka ia tidak akan menamparnya. Oleh karena itu, beliau pun mau (dicabut nyawanya) pada kesempatan kedua ketika Malaikat itu datang kembali dengan membawa bukti yang menunjukkan dirinya dari sisi Allah. Yaitu dengan memberi penangguhan (waktu kematian) kepada Nabi Musa bertahun-tahun lagi sesuai dengan banyaknya bulu sapi jantan yang ada di bawah tangannya” [selesai – Syarh Lum’atil-I’tiqaad oleh Fadlilatusy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah hal. 43; Maktabah Al-Misykah – www.almeshkat.net/books].&lt;br /&gt;Dari nukilan penjelasan empat imam Ahlus-Sunnah di atas – segala puji hanya bagi Allah – menjadi teranglah apa yang sebelumnya nampak suram. Oleh karena itu, posisi Ahlus-Sunnah dalam pembahasan hadits ini sangatlah berbeda dengan ahlul-bida’. Selain mengingkari atau menta’wil (dengan ta’wil bathil), ahlul-bida’ – dengan hadits ini – telah berani mencela Nabi Musa ’alaihis-salaam sebagaimana sebagian tokoh mereka ada yang menuduh Nabi Musa ’alahis-salaam sebagai sosok yang cepat naik pitam (emosional). Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam bish-shawwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketik oleh Abul-Jauzaa’ pada bulan Jumadits-Tsani 1429 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-8116282285214850323?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/8116282285214850323/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=8116282285214850323' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/8116282285214850323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/8116282285214850323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/04/penjelasan-ringkas-imam-ahlus-sunnah.html' title='PENJELASAN RINGKAS IMAM AHLUS-SUNNAH TENTANG HADITS DATANGNYA MALAIKAT MAUT KEPADA NABI MUSA ‘ALAIHIS-SALAAM'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-5108627500523338388</id><published>2010-04-29T14:28:00.000-07:00</published><updated>2010-04-29T14:30:06.993-07:00</updated><title type='text'>Riwayat-Riwayat tentang Keutamaan Para Shahabat radliyallaahu ‘anhum</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abu Al-Jauzaa'&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا&lt;br /&gt;“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” [QS. Al-Fath : 26].&lt;br /&gt;وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ&lt;br /&gt;“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS. At-Taubah : 100].&lt;br /&gt;لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka” [QS. At-Taubah : 117].&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ * وَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْ بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَئِكَ مِنْكُمْ وَأُولُو الأرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [QS. Al-Anfaal : 74-75].&lt;br /&gt;Pertama&lt;br /&gt;حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا النَّضْرُ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ سَمِعْتُ زَهْدَمَ بْنَ مُضَرِّبٍ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami An-Nadlr : Telah mengkhabarkan kepada kami Syu’bah, dari Abu Jamrah : Aku mendengar Zahdam bin Mudlarrib : Aku mendengar ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhumaa berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “"Sebaik-baik ummatku adalah yang orang-orang hidup pada jamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka". 'Imraan berkata : "Aku tidak tahu apakah setelah menyebut generasi beliau (yaitu generasi shahabat), beliau menyebut lagi dua generasi atau tiga generasi setelahnya." "Kemudian akan datang setelah kalian suatu kaum yang mereka bersaksi padahal tidak diminta bersaksi dan mereka suka berkhianat (sehingga) tidak dipercaya. Mereka memberi peringatan padahal tidak diminta memberi fatwa, dan nampak dari ciri mereka adalah berbadan gemuk-gemuk".&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3650. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2535, An-Nasaa’iy 7/17, Ahmad 4/426-427, dan Abu Dawud no. 4657.&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ وَكَانُوا يَضْرِبُونَنَا عَلَى الشَّهَادَةِ وَالْعَهْدِ وَنَحْنُ صِغَارٌ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Ibraahiim, dari ‘Ubaidah, dari ‘Abdullah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada jamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya". Ibrahim berkata : "Dahulu, mereka (para shahabat) memukul kami saat masih kecil bila melanggar perjanjian dan persaksian (untuk sebuah pengajaran)".&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3651. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2533, At-Tirmidziy no. 3859, Ibnu Maajah no. 2363, Ahmad 1/378 &amp; 434 &amp; 442, dan Ath-Thayaalisiy no. 299.&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ أَبِي بِشْرٍ ح و حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ سَالِمٍ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا أَبُو بِشْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ أُمَّتِي الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ أَذَكَرَ الثَّالِثَ أَمْ لَا قَالَ ثُمَّ يَخْلُفُ قَوْمٌ يُحِبُّونَ السَّمَانَةَ يَشْهَدُونَ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدُوا &lt;br /&gt;Telah menceritakan kepadaku Ya’quub bin Ibraahiim : Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Abu Bisyr. Dan telah menceritakan kepadaku Ismaa’iil bin Saalim : Telah mengkhabarkan kepada kami Husyaim : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bisyr, dari ‘Abdullah bin Syaqiiq, dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik umatku adalah masa ketika aku diutus kepada mereka, kemudian generasi setelah mereka”. Aku (perawi) tidak tahu apakah beliau menyebutkan generasi setelah beliau tiga kali atau empat kali. Lalu beliau bersabda lagi : “Lalu akan datang suatu kaum (yang mereka berlebih-lebihan makan dan minumnya) hingga menyebabkan mereka gemuk. Mereka bersaksi sebelum diminta untuk bersaksi”.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim no. 2534. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 2/228.&lt;br /&gt;Keempat&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَشُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ وَهُوَ ابْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ السُّدِّيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْبَهِيِّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ ثُمَّ الثَّانِي ثُمَّ الثَّالِثُ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Syuj’aan bin Makhlad – dan lafadh ini adalah lafadh Abu Bakr – mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Husain – ia adalah Ibnu ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Zaaidah, dari As-Suddiy, dari ‘Abdullah Al-Bahiy, dari ‘Aaisyah, ia berkata : “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Manusia manakah yang paling baik ?’. Beliau menjawab : ‘Generasi manusia yang aku masih ada di dalamnya. Kemudian yang kedua (setelahnya), kemudian yang ketiga (setelahnya lagi)”.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim no. 2536. Diriwayatkan pula oleh Ahmad 6/156.&lt;br /&gt;Kelima&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ مُجَمَّعِ بْنِ يَحْيَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ قَالَ فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ مَا زِلْتُمْ هَاهُنَا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaaq bin Ibraahiim, ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, semuanya dari Husain. Telah berkata Abu Bakr : Telah menceritakan kepada kami Husain bin ‘Aliy Al-Ju’fiy, dari Mujammi’ bin Yahyaa, dari Sa’iid bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari ayahnya, ia berkata : “Kami pernah melaksanakan shalat Maghrib berjama'ah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian kami berkata :  'Sebaiknya kami duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sambil menunggu waktu shalat ‘Isya'. Ayah Abu Burdah berkata : 'Kami duduk-duduk di masjid, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi kami seraya bertanya : 'Kalian masih di sini?'. Kami menjawab : ‘Benar ya Rasulullaah! Kami telah melaksanakan shalat Maghrib berjamaah bersama engkau. Oleh karena itu kami memilih untuk duduk-duduk di masjid sambil menunggu shalat ‘Isya’ berjamaah dengan engkau’. Rasulullah pun berkata : ‘Kalian benar-benar telah melakukan kebaikan.’ Lalu Rasulullah mengangkat kepalanya ke atas dan berkata : 'Bintang-bintang ini merupakan amanah/penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah amanah/penjaga para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah amanah/penjaga umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka”.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim no. 2531. Diriwayatkan pula oleh Ahmad 4/398-399.&lt;br /&gt;Keenam&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيَقُولُونَ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ ثُمَّ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ فَيَغْزُو فِئَامٌ مِنْ النَّاسِ فَيُقَالُ هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيُفْتَحُ لَهُمْ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdillah : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Amr, ia berkata : Aku mendengar Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhumaa berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Akan datang kepada manusia suatu jaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang berperang lalu orang-orang bertanya kepada mereka : ‘Apakah diantara kalian ada orang yang bersahabat (mendampingi) Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam?". Kelompok itu menjawab : ‘Ya ada’. Maka mereka diberi kemenangan. Kemudian akan datang lagi kepada manusia suatu jaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang berperang lalu ditanyakan kepada mereka : ‘Apakah diantara kalian ada orang yang bershahabat dengan shahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam?". Mereka menjawab : ‘Ya ada’. Maka mereka diberi kemenangan. Kemudian akan datang lagi kepada manusia suatu jaman yang ketika itu ada sekelompok orang yang berperang lalu ditanyakan kepada mereka : ‘Apakah diantara kalian ada orang yang bershahabat dengan orang yang bershahabat dengan shahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam?’. Mereka menjawab : ‘Ya ada’. Maka mereka diberi kemenangan".&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3649. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2532 dan Ahmad 3/7.&lt;br /&gt;Ketujuh&lt;br /&gt;حدثنا زيد بن الحباب قال : حدثنا عبد الله العلاء أبو الزَّبْر الدمشقي قال : حدثنا عبد الله بن عامر، عن واثلة الأسقع قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَا تَزَالُوْنَ بِخَيْرٍِ مَا دَام عَلَيْكُمْ مَنْ رَآنِيْ وَصَاحَبَنِيْ. وَاللهِ لَا تَزَالُوْنَ بِخَيْرٍِ مَا دَامَ فِيْكُمْ مَنِ رَأى مَنْ رَآنِيْ وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِيْ، وَاللهِ لَا تَزَالُوْنَ بِخَيْرٍِ مَا دَامَ فِيْكُمْ مَنْ رَأَى مَنْ رَأَى مَنْ رَآنِيْ، وَصَاحَبَ مَنْ صَاحَبَ مَنْ صَاحَبَنِيْ.&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Habbaab, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullh Al-‘Alaa’ Abu Zabr Ad-Dimasyqiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Aamir, dari Waatsilah Al-Asqa’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ada di tengah-tengah kalian orang yang pernah melihatku dan bershahabat denganku. Demi Allah, kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ada di tengah-tengah kalian orang yang pernah melihat orang yang pernah melihatku dan bershahabat dengan orang yang pernah bershahabat denganku. Demi Allah, kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ada di tengah-tengah kalian orang yang pernah melihat orang yang pernah melihat orang yang pernah melihatku, dan bershahabat dengan orang yang bershahabat dengan orang yang bershahabat denganku”.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 12/178. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi ‘Aashm dalam As-Sunah no. 1481 serta Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 22/no. 207 dan dalam Musnad Asy-Syaamiyyiin no. 799.[1]&lt;br /&gt;Kedelapan&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Abuz-Zubair, dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak akan masuk neraka seseorang yang pernah berbai'at di bawah pohon”.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3860. Diriwayatkan juga oleh Ahmad 3/350, Abu Dawud no. 4653, Ibnu Hibbaan no. 4802, dan yang lainnya.[2]&lt;br /&gt;Kesembilan&lt;br /&gt;أخبرنا الفضل بن يعقوب الرخامي وهلال بن العلاء قالا : أخبرنا عبد الله بن جعفر قال : أخبرنا عيسى بن يونس عن إسماعيل بن أبي خالد عن ابن أبي أوفى - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : لَنْ يلجَ النَّارَ أحَدٌُ شَهِدَ بَدْرًَا وَالْحُدَيْبِيَّة.&lt;br /&gt;Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Fadhl bin Ya’quub Ar-Rakhaamiy dan Hilaal bin Al-‘Ala’, mereka berdua berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Iisaa bin Yuunus, dari Ismaa’iil bin Abi Khaalid, dari Ibnu Abi Aufaa radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak akan masuk neraka siapa saja yang menyaksikan peperangan Badr dan perjanjian Hudaibiyyah”. &lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahruz-Zakhaar 8/276 no. 3340 dan Kasyful-Astaar 3/287 no. 2760.[3]&lt;br /&gt;Kesepuluh&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كَانَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ الْخَنْدَقِ تَقُولُ نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا عَلَى الْجِهَادِ مَا حَيِينَا أَبَدَا فَأَجَابَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَهْ فَأَكْرِمْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Humaid, ia berkata : Aku mendengar Anas radliyallaahu ‘anhu berkata : “Pada saat perang Khandaq, orang-orang Anshar bersya'ir : ‘Kami adalah orang-orang yang berbai'at kepada Muhammad. Untuk terus berjihad selama kami hidup’. Lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menyambut sya'ir mereka dengan bersya'ir : ‘Ya Allah, tidak ada kehidupan yang sesungguhnya melainkan kehidupan akhirat. Maka muliakanlah Anshar dan Muhajirin’.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2961.&lt;br /&gt;Kesebelas&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ سَمِعْتُ ذَكْوَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Aadam bin Abi Iyaas : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-A’masy, ia berkata : Aku mendengar Dzakwaan menceritakan dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah kalian mencela shahabat-shahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfaqkan emas sebesar bukit Uhud, tidak akan ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorangpun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya".&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3673. Diriwayatkan pula oleh Muslim no. 2541, Ahmad 3/11, Abu Dawud no. 4658, At-Tirmidziy no. 3860, dan Abu Ya’laa no. 1171 &amp; 1198.&lt;br /&gt;Keduabelas&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ الْأَفْرِيقِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan : Telah menceritakan kepada kami Abu Daawud Al-Hafariy, dari Sufyaan Ats-Tsauriy, dari ‘Abdurrahmaan bin Ziyaad Al-Afriiqiy, dari ‘Abdullah bin Yaziid, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Pasti akan datang kepada ummatku, sesuatu yang telah datang pada ani Israaiil seperti sejajarnya sandal dengan sandal, sehingga apabila di antara mereka (bani Israaiil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang terangan maka pasti di antara ummatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan”. Para shahabat bertanya : “Siapakah mereka wahai Rasulullah?".  Beliau menjawab : "Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya".&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2641. Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim 1/218-219 Al-Ajurriy dalam Asy-Syarii’ah 1/127-128 no. 23-24, Ath-Thabaraniy dalam Ash-Shaghiir 2/29-30 no. 724 &amp; Al-Ausath 5/137 no. 4886, dan yang lainnya.[4]&lt;br /&gt;Ketigabelas&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr : Telah menceritakan kepada kami ‘Aashim, dari Zirr bin Hubaisy, dari ‘Abdullah bin Mas’uud, ia berkata : “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia. Maka Allah pilih Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan kepadanya risalah, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya. Maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang kaum muslimin (yaitu para shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah. Dan apa yang mereka (para shahabat Rasul) pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek”.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ahmad 1/379.[5] Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzaar no. 130, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir no. 8582-8583, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 105, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;Itulah keutamaan-keutamaan para shahabat. Kedudukan mereka menjulang tinggi di antara umat Muhammad yang tidak akan tercapai generasi setelahnya. Mereka akan terus mendapatkan aliran pahala dan kebaikan dari umat Islam dengan sebab kebaikan yang telah mereka sampaikan kepada kita. &lt;br /&gt;حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Ayyuub, Qutaibah bin Sa’iid, dan Ibnu Hujr, mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil – yaitu Ibnu Ja’far - , dari Al-‘Alaa’, dari ayhnya, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barangsiapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun".&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim no. 2674.&lt;br /&gt;Jika demikian, apakah mungkin kita akan mengikuti prasangka bathil sebagian orang yang menganggap para shahabat telah kafir[6] dan telah berkhianat terhadap umat ?.[7] Prasangka itu hanyalah prasangka yang tidak ada nilainya walau seujung jarum. Allah ta’ala telah berfirman :&lt;br /&gt;وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا&lt;br /&gt;“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran” [QS. Yuunus : 36].&lt;br /&gt;Allah ta’ala telah memerintahkan kita untuk mendoakan mereka sebagaimana firman-Nya :&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang" [QS. Al-Hasyr : 10].&lt;br /&gt;Itulah salah satu perwujudan rasa syukur kepada Allah ta’ala atas segala nikmat iman dan Islam atas diri kita.&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibraahiim : Telah menceritakan kepada kami Ar-Rabii’ bin Muslim, dari Muhammad bin Ziyaad, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia”.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4811.[8]&lt;br /&gt;Semoga ada manfaatnya. &lt;br /&gt;[abu al-jauzaa’ – perumahan ciomas permai – 1431 H – sebagian isi artikel ini mengambil dari buku Ash-Shahiihul-Musnad min Fadlaailish-Shahaabah karya Mushthafaa bin Al-‘Adawiy hafidhahullah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]      Sanad riwayat ini hasan; sebagaimana dihasankan oleh Al-Haafidh [lihat Fathul-Baariy, 7/5].&lt;br /&gt;[2]      Shahih. Mereka yang berbaiat kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam di bawah pohon dijelaskan pada riwayat berikut :&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرٍو يَعْنِي ابْنَ مُرَّةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى قَالَ كَانَ أَصْحَابُ الشَّجَرَةِ أَلْفًا وَثَلَاثَ مِائَةٍ وَكَانَتْ أَسْلَمُ ثُمْنَ الْمُهَاجِرِينَ&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin Mu’aadz : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Amr – yaitu Ibnu Murrah - : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Abi Aufaa, ia berkata : “"Shahabat yang menyaksikan bai'at di bawah pohon berjumlah seribu tiga ratus orang, dan suku Aslam (jumlahnya) seperdelapan kaum muhajirin".&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Muslim no. 1857.&lt;br /&gt;[3]      Shahih. Para perawinya tsiqaat, kecuali ‘Abdullah bin Ja’far dimana hapalannya berubah di akhir hayatnya. Akan tetapi itu tidak menjatuhkan hadits ini karena Al-Fadhl bin Ya’quub Ar-Rukhaamiy termasuk shahabatnya yang terdahulu, sebagaimana diisyaratkan Ibnu Hajar dalam Hadyus-Saariy – melalui perantaraan kitab Al-Ahaadiitsul-Waaridah fii Fadlaailish-Shahaabah 1/489. Dibawakan Al-Haitsamiy dalam Majma’uz-Zawaaid 9/160. &lt;br /&gt;[4]      Hasan lighairihi. Silakan lihat pembahasan sanadnya di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/08/hadits-maa-ana-alaihi-wa-ashhaabii-apa.html. &lt;br /&gt;[5]      Hasan, dikarenakan ‘Aashim. Ia adalah Ibnu Abun-Nujuud. Adapun selainnya adalah para perawi tsiqaat, termasuk para perawi Shahihain selain Abu Bakr (bin Iyaasy), ia hanya dipakai oleh Al-Bukhaariy saja.&lt;br /&gt;[6]        Seperti sekte Syi’ah yang menganggap para shahabat semuanya kafir kecuali hanya beberapa gelintir saja di antara mereka.&lt;br /&gt;عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أُورَمَةَ عَنِ النَّضْرِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي خَالِدٍ الْقَمَّاطِ عَنْ حُمْرَانَ بْنِ أَعْيَنَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) جُعِلْتُ فِدَاكَ مَا أَقَلَّنَا لَوِ اجْتَمَعْنَا عَلَى شَاةٍ مَا أَفْنَيْنَاهَا فَقَالَ أَ لَا أُحَدِّثُكَ بِأَعْجَبَ مِنْ ذَلِكَ الْمُهَاجِرُونَ وَ الْأَنْصَارُ ذَهَبُوا إِلَّا وَ أَشَارَ بِيَدِهِ ثَلَاثَةً&lt;br /&gt;Sejumlah shahabat kami, dari Sahl bin Ziyaad, dari Muhammad bin Auramah, dari An-Nadlr, dari Yahyaa bin Abi Khaalid Al-Qammaath, dari Humraan bin A’yan, ia berkata : Aku berkata kepada Abu Ja’far (‘alaihis-salaam) : “Demi engkau, betapa sedikitnya jika kita memotong seekor kambing lalu kita habiskan”. Abu Ja’far berkata : “Maukah engkau aku ceritakan dengan sesuatu yang lebih mengherankan dari itu ? Orang-orang Muhaajiriin dan Anshaar telah keluar (dari Islam/murtad) kecuali – dan ia mengisyaratkan dengan tangannya – tiga”.&lt;br /&gt;Dibawakan oleh Al-Kulainiy dalam Al-Kaafiy 2/244. Yang semisal dengan ini dibawakan pula oleh Ath-Thuusiy dalam kitabnya Ikhtiyaar Ma’rifatir-Rijaal 1/6.&lt;br /&gt;Ini satu contoh tentang shahabat dari kitab hadits paling mu’tamad yang mereka miliki. &lt;br /&gt;Kita meyakini bahwa riwayat tersebut telah didustakan orang-orang Syi’ah dengan mengatasnamakan Abu Ja’far. Saya tidak tahu, apakah orang-orang Syi’ah ini hendak menjadikan Abu Ja’far seorang yang bodoh terhadap Kitabullah ? Sudah sangat jelas pujian umum yang diberikan Allah ta’ala kepada generasi pertama Islam ini.&lt;br /&gt;Mungkin orang-orang Syi’ah - yang gemar mengkais-kais riwayat Ahlus-Sunnah yang mereka sangka dapat mengokohkan madzhab pengkafiran dan pemfasikan mereka terhadap para shahabat - berandai-andai……. seandainya riwayat berikut terhapus dari kitab-kitab hadits Ahlus-Sunnah :&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِسْكِينٍ الْيَمَامِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ وَهُوَ ابْنُ بِلَالٍ عَنْ شَرِيكِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَخْبَرَنِي أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ أَنَّهُ تَوَضَّأَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ خَرَجَ فَقَالَ لَأَلْزَمَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَأَكُونَنَّ مَعَهُ يَوْمِي هَذَا قَالَ فَجَاءَ الْمَسْجِدَ فَسَأَلَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا خَرَجَ وَجَّهَ هَاهُنَا قَالَ فَخَرَجْتُ عَلَى أَثَرِهِ أَسْأَلُ عَنْهُ حَتَّى دَخَلَ بِئْرَ أَرِيسٍ قَالَ فَجَلَسْتُ عِنْدَ الْبَابِ وَبَابُهَا مِنْ جَرِيدٍ حَتَّى قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاجَتَهُ وَتَوَضَّأَ فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَإِذَا هُوَ قَدْ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيسٍ وَتَوَسَّطَ قُفَّهَا وَكَشَفَ عَنْ سَاقَيْهِ وَدَلَّاهُمَا فِي الْبِئْرِ قَالَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ فَجَلَسْتُ عِنْدَ الْبَابِ فَقُلْتُ لَأَكُونَنَّ بَوَّابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيَوْمَ فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ فَدَفَعَ الْبَابَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ فَقُلْتُ عَلَى رِسْلِكَ قَالَ ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا أَبُو بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ قَالَ فَأَقْبَلْتُ حَتَّى قُلْتُ لِأَبِي بَكْرٍ ادْخُلْ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُكَ بِالْجَنَّةِ قَالَ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَجَلَسَ عَنْ يَمِينِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ فِي الْقُفِّ وَدَلَّى رِجْلَيْهِ فِي الْبِئْرِ كَمَا صَنَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَشَفَ عَنْ سَاقَيْهِ ثُمَّ رَجَعْتُ فَجَلَسْتُ وَقَدْ تَرَكْتُ أَخِي يَتَوَضَّأُ وَيَلْحَقُنِي فَقُلْتُ إِنْ يُرِدْ اللَّهُ بِفُلَانٍ يُرِيدُ أَخَاهُ خَيْرًا يَأْتِ بِهِ فَإِذَا إِنْسَانٌ يُحَرِّكُ الْبَابَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقُلْتُ عَلَى رِسْلِكَ ثُمَّ جِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ وَقُلْتُ هَذَا عُمَرُ يَسْتَأْذِنُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ فَجِئْتُ عُمَرَ فَقُلْتُ أَذِنَ وَيُبَشِّرُكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ قَالَ فَدَخَلَ فَجَلَسَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقُفِّ عَنْ يَسَارِهِ وَدَلَّى رِجْلَيْهِ فِي الْبِئْرِ ثُمَّ رَجَعْتُ فَجَلَسْتُ فَقُلْتُ إِنْ يُرِدْ اللَّهُ بِفُلَانٍ خَيْرًا يَعْنِي أَخَاهُ يَأْتِ بِهِ فَجَاءَ إِنْسَانٌ فَحَرَّكَ الْبَابَ فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَقُلْتُ عَلَى رِسْلِكَ قَالَ وَجِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ مَعَ بَلْوَى تُصِيبُهُ قَالَ فَجِئْتُ فَقُلْتُ ادْخُلْ وَيُبَشِّرُكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجَنَّةِ مَعَ بَلْوَى تُصِيبُكَ قَالَ فَدَخَلَ فَوَجَدَ الْقُفَّ قَدْ مُلِئَ فَجَلَسَ وِجَاهَهُمْ مِنْ الشِّقِّ الْآخَرِ &lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Miskiin Al-Yamaamiy : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Hassaan : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan – ia adalah Ibnu Bilaal - , dari Syariik bin Abi Namir, dari Sa’iid bin Al-Musayyib : Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Muusaa Al-Asy’ariy : Bahwasanya ia pernah berwudlu di rumahnya. Setelah itu ia keluar dari rumah sambil berkata : "Pada hari ini aku berniat untuk selalu berada di dekat Rasulullah shallallahu 'alaaihi wa sallam." Lalu Abu Muusaa pergi ke masjid dan menanyakan keberadaan Rasulullah kepada para shahabat yang kebetulan sedang berada di sana. Mereka berkata : "Beliau telah pergi ke arah sana”. Kemudian Abu Muusaa pun keluar dan masjid seraya mengikuti jejak Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk menanyakannya hingga beliau tiba di sumur Aris. Abu Muusaa berkata : "Lalu aku duduk di sisi pintu yang terbuat dari pelepah kurma. Setelah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam selesai membuang hajat dan wudlu, maka saya pun berupaya untuk mendekati beliau. Ternyata Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang duduk di atas sumur Aris di tengah alas duduk sambil menyisingkan pakaian pada kedua betisnya dan menjulurkan keduanya ke dalam sumur. Lalu aku ucapkan salam kepada beliau dan kembali duduk di sisi pintu seraya berkata : ‘Hari ini aku akan setia menjadi penjaga pintu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam’. Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar sambil mendorong pintu sumur. Lalu aku bertanya : ‘Siapa itu di luar?’. Ia menjawab : ‘Aku, Abu Bakr’. Aku berkata kepadanya : ‘Tunggu sebentar wahai Abu Bakr!’. Abu Bakr menjawab : ‘Ya’. Aku menghampiri Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sambil berkata : ‘Wahai Rasulullah, ada Abu Bakr yang datang dan minta ijin untuk masuk ke sini ?’. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjawab : ‘Suruh ia masuk dan beritahukan kabar gembira tentang surga kepadanya!’. Lalu aku kembali menemui Abu Bakr dan aku katakan kepadanya : ‘Wahai Abu Bakr, silahkan masuk dan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira tentang surga kepadamu’. Abu Bakr masuk ke dalam dan langsung duduk di sebelah kanan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pada alas duduk yang sama sambil menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan menyingsingkan pakaian di kedua betisnya. Lalu aku duduk kembali di sisi pintu masuk sumur. Ketika itu, sebenarnya aku telah meninggalkan saudaraku yang sedang berwudlu dan akan menyusulku. Aku berkata dalam hati : ‘Apabila Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan mendatangkannya kepadaku'. Tidak lama kemudian, ada seseorang yang menggerak-gerakkan pintu. Lalu aku bertanya kepadanya : ‘Siapa di luar sana?’.  Orang tersebut menjawab : ‘Umar bin Khaththaab’. Aku berkata : ‘Tunggu sebentar wahai ‘Umar!’. Lalu aku menghampiri Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sambil berkata : ‘Wahai Rasulullah, ada ‘Umar di luar dan minta ijin untuk masuk ke dalam’. Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Suruh ia masuk dan beritahukan kabar gembira tentang surga kepadanya!’. Kemudian aku temui seraya berkata : ‘Wahai ‘Umar, Rasulullah mengijinkanmu masuk ke dalam dan menyampaikan berita gembira tentang surga kepadamu’. Maka ‘Umar bin Al-Khaththaab pun masuk ke dalam, lalu duduk di sebelah kiri Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sambil menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Setelah itu aku duduk kembali sambil berkata : ‘Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi saudaraku, niscaya Dia akan mendatangkannya ke sini’. Tak lama kemudian ada seseorang yang datang dan menggerak-gerakkan pintu. Maka aku pun berseru kepadanya : ‘Siapakah di luar sana?’. Orang tersebut menjawab : ‘Utsmaan bin Affaan’. Lalu aku berkata kepadanya : ‘Tunggu sebentar wahai ‘Utsmaan!’. Aku menghampiri Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sambil memberitahukan tentang kedatangan ‘Utsmaan. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pun bersabda : ‘Suruh dia masuk dan beritahukan kepadanya kabar tentang surga kepadanya serta cobaan-cobaan yang akan menimpanya’. Maka aku temui ‘Utsmaan bin ‘Affaan sambil berkata : ‘Silahkan masuk hai ‘Utsmaan dan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira tentang surga kepadamu serta cobaan-cobaan yang akan menimpamu!’. Lalu ‘Utsmaan pun masuk ke dalam tetapi ia mendapati alas duduk telah penuh. Akhirnya ia duduk berhadapan dengan mereka di sisi yang lain” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1868].&lt;br /&gt;Namun taqdir Allah ta’ala tidak berpihak pada andai-andai mereka (Syi’ah). Hadits di atas tetap ada dan abadi sampai waktu yang Allah ta’ala kehendaki. Kedudukan Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan radliyallaahu ‘anhum yang menjadi simbolitas permusuhan mereka terhadap Ahlus-Sunnah (dengan alasan palsu : imamah) tetap tinggi menjulang walau mereka tak letih berdoa dengan doa laknat :&lt;br /&gt;اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك، وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك.....&lt;br /&gt;“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknat bagi dua berhala Quraisy, Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.”.&lt;br /&gt;Tentu saja doa itu tidak akan terkabulkan, sebab :&lt;br /&gt;مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ&lt;br /&gt;“Tidaklah seorang muslim di atas muka bumi berdoa kepada Allah dengan sebuah doa melainkan Allah akan memberikan kepadanya, atau memalingkan keburukan darinya seperti doanya, selama ia tidak berdoa untuk melakukan perbuatan dosa atau memutuskan hubungan kekerabatan”.&lt;br /&gt;Dan laknat itu kembali kepada mereka, sebab laknat itu telah diucapkan kepada orang yang tidak berhak menerimanya :&lt;br /&gt;إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتْ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا&lt;br /&gt;“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat”.&lt;br /&gt;Senjata makan tuan.&lt;br /&gt;Dan kita katakan kepada mereka dengan firman Allah ta’ala :&lt;br /&gt;مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ&lt;br /&gt;“Matilah kamu karena kemarahanmu itu" [QS. Aali ’Imraan : 119].&lt;br /&gt;[7]      Ada riwayat sebagai berikut :&lt;br /&gt; حدثنا هارون بن سفيان قال : نا علي بن قادم قال : نا شريك عن أجلح عن حبيب بن أبي ثابت عن ثعلبة بن يزيد عن أبيه هكذا قال : وأحسبه غلط إنما هو عن علي قال : سمعت عليا يقول على المنبر : واللهِ لعهد النبي الأمي إلى أن الأمة ستغدر بي.&lt;br /&gt;Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Sufyaan, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Qaadim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syariik, dari Ajlah, dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari Tsa’labah bin Yaziid, dari ayahnya – begitulah yang ia katakan, dan aku kira ia telah keliru, karena ia (Tsa’labah) meriwayatkannya dari ‘Aliy – ia berkata : Aku mendengar ‘Aliy berkata di atas mimbar : “Demi Allah, sungguh Nabi yang ummiy shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengamanatkan kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku”.&lt;br /&gt;[Musnad Al-Bazzaar 3/91-92 no. 869 dan Kasyful-Astaar 3/203 no. 2569].&lt;br /&gt;Sanad : &lt;br /&gt;a.     Haaruun bin Sufyaan  (w. 247/251 H) : Al-Khathiib menyebutkan biografinya di Taariikh Baghdaad (16/34-36 no. 7308) tanpa menyebutkan adanya jarh ataupun ta’diil.&lt;br /&gt;b.    ‘Aliy bin Qaadim (w. 113 H) : Yahya bin Ma’iin berkata : “Dla’iif” [Al-Kaamil 6/344 no. 1352]. Ibnu ‘Adiy mengelompokkannya dalam jajaran perawi lemah dengan mengatakan : “Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya” [idem]. Abu Haatim berkata : “Tempatnya kejujuran” [Al-Jarh wat-Ta’diil 6/201 no. 1107]. Ibnu Sa’d berkata : “Munkarul-hadiits, sangat ber-tasyayu’” [Ath-Thabaqaat 6/404]. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Kuffah yang tsiqah” [Ats-Tsiqaat, 2/157 no. 1308]. Ibnu Qani’ berkata : “Orang Kuffah yang shaalih”. As-Saajiy berkata : “Jujur, padanya terdapat kelemahan”. Ibnu Khalfuun memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat [Tahdziibut-Tahdziib,  7/374 no. 605]. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, ber-tasyayyu’” [At-Taqriib, hal. 703 no. 4819]. Basyar ‘Awwad mengatakan : “Bahkan ia lemah, namun dapat digunakan sebagai i’tibar dalam mutaabi’aat dan syawaahid” [Tahriirut-Taqriib, 3/52 no. 4785]. Adz-Dzahabiy berkata : “Shuwailihul-hadiits, namun di-dla’if-kan oleh Ibnu Ma’iin” [Diiwaan Adl-Dlu’afaa’, hal. 285 no. 2954]. Ia juga memasukkannya dalam jajaran perawi lemah pada Al-Mughniy (2/93 no. 4316) dengan menukil perkataan Abu Haatim dan Ibnu Ma’iin. &lt;br /&gt;Kesimpulan : Ia seorang perawi lemah, ber-tasyayyu’, ditulis haditsnya, dan bisa dijadikan i’tibar.&lt;br /&gt;c.     Syariik (w. 178 H) : Ia adalah Ibnu ‘Abdillah An-Nakha’iy Al-Kuufiy. &lt;br /&gt;Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Syariik tsiqah, ia lebih aku senangi daripada Abul-Ahwash dan Jariir” [Taariikh Baghdaad 10/387]. Ada beberapa riwayat lain dari Ibnu Ma’iin yang men-tsiqah-kannya. Abu Haatim berkata : “Syariik, tidak boleh berhujjah dengan haditsnya”. Ibraahiim bin Ya’quub Al-Juuzjaaniy berkata : “Syariik bin ‘Abdillah jelek hapalannya, mudltharibul-hadiits”. Ya’quub bin Syaibah berkata : “Tsiqah, jujur, shahih dalam (periwayatan) kitabnya, namun buruk hapalannya sehingga goncang (mudltharib)”. Abu ‘Aliy Shaalih bin Muhammad berkata : “Jujur. Namun ketika ia menjabat sebagai hakim, goncang hapalannya”  [idem, 10/390].  Yahyaa bin Sa’iid mengatakan bahwa Syariik adalah orang yang tercampur hapalannya. ‘Isaa bin Yuunus berkata : “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih wara’ dalam ilmunya dibandingkan Syariik”. Abu Zur’ah berkata : “Syariik banyak haditsnya, shaahibul-wahm, dan kadang-kadang keliru” [Al-Jarh wat-Ta’diil 4/366]. Abu Haatim berkata : “Jelek hapalannya” [Al-‘Ilal 3/29-30 no. 668]. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Kuffah yang tsiqah, hasanul-hadiits” [Ats-Tsiqaat, 1/453 no. 727].  Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah ma’muun, banyak haditsnya, namun banyak salahnya” [Ath-Thabaqaat, 6/379]. Ibnu Hajar berkata : “Jujur, banyak salahnya”.  [At-Taqriib, hal. 436 no. 2802]. Adz-Dzahabiy memasukkanya dalam jajarah perawi lemah pada bukunya Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ (1/468 no. 2764]. &lt;br /&gt;Kesimpulan : Syariik perawi lemah dari sisi hapalan.&lt;br /&gt;d.    Ajlah (w. 145 H) : Ia adalah Ibnu ‘Abdillah bin Hujiyyah Al-Kuufiy.&lt;br /&gt;Ia seorang rawi yang diperselisihkan. Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan berkata : “Pada dirinya terdapat sesuatu”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Ajlah dan Mujaalid berdekatan kedudukannya dalam hadits”. Dan Mujaalid ini adalah perawi yang lemah. Namun di lain tempat Ahmad mengatakan ia dekat kedudukan dengan Fithr bin Khaliifah, dan ia seorang yang ditsiqahkan oleh Ahmad – Abul-Jauzaa’. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Al-‘Ijliy berkata : “Tsiqah”. Abu Haatim berkata : “Tidak kuat, ditulis haditsnya, dan tidak boleh berhujjah dengannya”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif, laisa bi-dzaaka, ia mempunyai pendapat/pemikiran yang jelek”.  Al-Juuzjaaniy berkata : “Muftariy”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia mempunyai hadits-hadits yang baik yang diriwayatkan oleh orang-orang Kuffah dan yang lainnya. Aku tidak mendapati ia mempunyai hadits munkar yang mengkonsekuensikan hukuman, tidak bersanad dan bermatan. Namun ia tergolong orang-orang Syi’ah daerah Kuffah. Aku memandangnya sebagai orang yang lurus haditsnya lagi jujur” [lihat Tahdziibul-Kamaal, 2/275-280 no. 282]. Ibnu Sa’d berkata : “Sangat lemah” [Ath-Thabaqaat, 6/244]. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia tidak tahu apa yang dikatakannya, menjadikan nama Abu Sufyaan menjadi Abuz-Zubair. Membolak-balikkan nama-nama seperti itu” [Al-Majruuhiin, 197 no. 109]. Ibnul-Jauziy memasukkannya dalam kitab Adl-Dlu’afaa’ (1/64 no. 148). Ya’quub bin Sufyaan berkata : “Tsiqah, namun haditsnya lemah” [Tahdziibut-Tahdziib, 1/190 no. 353]. Abu Dawud berkata : Dla’iif” [Suaalaat Al-Aajurriy, hal. 179 no. 180]. Al-Jurqaaniy mendla’ifkannya dengan menyepakati pendla’ifan Abu Haatim dan Ibnul-Qaththaan [Al-Abaathil wal-Manaakir 2/156 no. 516]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam buku Man Takallama fiih Wahuwa Muwatstsaq Aw Shaalihul-Hadiits (hal. 73 no. 13). Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, termasuk orang Syi’ah” [At-Taqriib hal. 120 no. 287]. Basyar ‘Awwad : “Dla’iif, namun dapat digunakan sebagai i’tibar” [Tahriirut-Taqriib, 1/106 no. 285]. Al-Albaaniy mempunyai beberapa perkataan tentangnya. Satu waktu beliau mengatakan shaduuq, di lain waktu beliau mengatakan dla’iif [selengkapnya lihat Mu’jamu Asaamiyir-Ruwaat 1/90-92].&lt;br /&gt;Kesimpulan : Ajlah adalah dla’iif, tidak boleh berhujjah dengannya, apalagi terhadap riwayat (yang ia bawakan) yang menguatkan bid’ahnya (Syi’ah). Namun ia tetap dapat dijadikan i’tibar.&lt;br /&gt;e.    Habiib bin Abi Tsaabit (119 H) : Ia adalah perawi yang dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim. Akan tetapi  ia adalah seorang yang banyak melakukan tadliis dan irsal. Ibnu Hajar memasukkannya mudallis tingkat tiga [Thabaqaatul-Mudallisiin, no. 69]. &lt;br /&gt;Riwayatnya tidak diterima kecuali jika ia membawakan dengan tashiriih penyimakannya [lihat Riwaayaatul-Mudallisiin fii Shahiih Al-Bukhaariy oleh Dr. ‘Awwad Al-Khalaf, hal. 283]. Dan dalam sanad riwayat ini, ia membawakan dengan ‘an’anah.&lt;br /&gt;f.      Tsa’labah bin Yaziid Al-Himmaaniy (-).&lt;br /&gt;Al-Bukhaariy berkata : “Mendengar dari ‘Aliy. Meriwayatkan darinya Habiib bin Abi Tsaabit. Termasuk orang-orang Kuffah. Padanya ada kritikan (fiihi nadhar). Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aliy : “Sesungguhnya umat ini akan mengkhianatimu”. Tidak ada mutaba’ah-nya” [Taariikh Kabiir, 2/174 no. 2103]. Makna perkataan Al-Bukhaariy ini adalah bahwa Tsa’labah adalah perawi yang lemah. Jika ia seorang yang tsiqah, maka kebersendiriannya (akibat ketiadaan mutaba’ah) tidak mempengaruhi riwayatnya [Bayaanul-Wahm wal-Iihaam oleh Ibnul-Qaththaan, 5/363 dan Al-Khulaashah fii ‘Ilmil-Jarh wat-Ta’diil, hal. 327-328]. &lt;br /&gt;Dinyatakan tsiqah oleh An-Nasaa’iy sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam At-Tahdziib (2/26 no. 42), namun saya (Abul-Jauzaa’) tidak mendapati sumbernya dalam kitab Al-Mustakhraj min Mushannafaat An-Nasaa’iy fil-Jarh wat-Ta’diil oleh Abu Muhammad Faalih Asy-Syibliy, yang mana kitab ini menghimpun semua perkataan An-Nasaa’iy di semua kitabnya yang ada. Ibnu ‘Adiy memasukkannya dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ (2/322-323 no. 325) dan mengatakan bahwa ia tidak memiliki hadits-hadits munkar.  Ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibbaan (Ats-Tsiqaat, 4/98), namun bersamaan dengan itu ia juga membawakannya dalam Al-Majruuhiin (1/240 no. 173) dan berkata : “Ia berlebih-lebihan dalam tasyayyu’, tidak boleh berhujjah dengannya pada apa-apa yang ia bersendirian dalam meriwayatkan dari ‘Aliy”. Al-‘Uqailiy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’ (1/195 no. 224) dan membawakan perkataan Al-Bukhaariy. Ibnul-Jauziy memasukkannya dalam kitab Adl-Dlu’afaa’ wal-Matrukuun (1/161 no. 619). Al-Haitsamiy berkata : “Ditsiqahkan oleh An-Nasaa’iy, namun padanya ada kelemahan” [Majma’z-Zawaaid, 5/101]. Adz-Dzahabiy memasukkannya dalam kitab Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ (1/192 no. 1057) dan berkata : “Orang Syi’ah yang binasa (syi’iy ghaal)”. Juga dalam Diiwaan Adl-Dlu’afaa’ (hal. 58 no. 699). Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, syii’iy” [At-Taqriib, hal. 189 no. 855]. Al-Albaaniy menyepakati penghukuman Ibnu Hajar ini [Ash-Shahiihah, 3/143]. Basyar ‘Awwaad berkata : “Dla’iif” [Tahriirut-Taqriib, 1/200 no. 847]. &lt;br /&gt;Kesimpulan : Tsa’labah bin Yaziid adalah perawi dla’if yang berlebih-lebihan dalam tasyayyu’. Tautsiq An-Nasaa’iy sejauh penelaahan saya tidak tsabt dari beliau. Begitu pula tautsiq dari Ibnu Hibbaan, karena ia sendiri memasukkanya dalam Al-Majruuhiin. Sehingga yang tersisa adalah jarh padanya.&lt;br /&gt;Kesimpulan sanad riwayat Al-Bazzaar ini adalah lemah, gugur pada hampir seluruh thabaqah-nya. Bahkan beberapa perawinya tercemar bid’ah tasyayyu’.&lt;br /&gt;Ajlah dalam periwayatan dari Habiib bin Abi Tsaabit diikuti oleh :&lt;br /&gt;1.    Fithr bin Khaliifah dan ‘Abdul-‘Aziiz bin Siyaah.&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah (6/440) dan darinya Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (42/447) dari jalan Abu Bakr Ahmad bin Al-Hasan Al-Qaadliy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ja’far Duhaim : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Haazim bin Abi Ghirzah : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidullah, Abu Nu’aim, dan Tsaabit bin Muhammad, dari Fithr bin Khaliifah, ia berkata : - . Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Haazim : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Siyaah; mereka berdua (Fithr bin Khaliifah dan ‘Abdul-‘Aziiz bin Siyaah) berkata dari Habiib bin Abi Tsaabit, selanjutnya seperti riwayat di atas.&lt;br /&gt;Sanad riwayat ini lemah karena berporos pada Habiib bin Abi Tsaabit dan Tsa’labah bin Yaziid Al-Himmaaniy sebagaimana sanad Al-Bazzaar sebelumnya.&lt;br /&gt;2.    Sa’iir bin Al-Khams&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (42/477) dari jalan : Abu ‘Abdillah Al-Husain bin ‘Abdil-Malik : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Ahmad bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Zakariyyaa Al-Jauzaqiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Al-Hasan Al-Qaadliy : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Hasan Al-Khazzaaz : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Hushain bin Makhaariq, dari Sa’iir bin Al-Khams, dari Habiib bin Abi Tsaabit, selanjutnya seperti riwayat di atas.&lt;br /&gt;Riwayat ini sangat lemah karena keberadaan Hushain bin Makhaariq. Ad-Daaruquthniy berkata : “Memalsukan hadits”. Ibnul-Jauziy menukil bahwa Ibnu Hibbaan berkata : “Tidak boleh berhujjah dengannya” [Miizaanul-I’tidaal, 1/554 no. 2097 – Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun li-Ibnil-Jauziy 1/220 no. 926]. Ibnu Syaahiin berkata : “Ia di sisiku adalah pendusta” [Taariikh Asmaa’ Adl-Dlu’afaa’ wal-Kadzdzaabiin, hal. 80 no. 156].&lt;br /&gt;Habiib bin Abi Tsaabit dalam periwayatan dari Tsa’labah mempunyai mutaba’ah dari Salamah bin Kuhail.&lt;br /&gt;Diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Aadiy dalam Al-Kaamil (7/443 no. 1686) dari jalan ‘Aliy bin ‘Abbaas : Telah menceritakan kepada kami ‘Abbaad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Haasyim, dari Muhammad bin Salamah bin Kuhail, dari ayahnya, dari Tsa’labah Al-Himmaaniy : Bahwasannya ia mendengar ‘Aliy berkata : “…..(al-hadiits)….”.&lt;br /&gt;Riwayat Ibnu ‘Adiy ini lemah. Di antaranya karena terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Salamah bin Kuhail. Al-Juuzjaniy berkata : “Dzaahibul-hadiits” [Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’, 2/310 no. 5577]. Ibnu Ma’iin berkata : “Laisa bi-syai’ (tidak ada apa-apanya)” [Lisaanul-Miizaan, 7/168]. Ia juga dinisbatkan pada tasyayyu’ dan mempunyai hadits-hadits munkar [Al-Kaamil, 7/444]. As-Sa’diy berkata : “Waahiyul-hadiits (lemah haditsnya)” [Adl-Dlu’afaa wal-Matruukuun li-Ibnil-Jauziy 3/67 no. 3017]. Ibnu Syaahiin berkata : “Dla’iif” [Taariikh Asmaa’ Adl-Dlu’afaa’ wal-Kadzdzaabiin, hal. 166 no. 566]. Namun Ibnu Hibbaan menyendiri dalam pen-tsiqah-an dengan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Mayoritas perawi Ibnu ‘Adiy ini adalah para perawi yang berpaham tasyayyu’, bahkan diantaranya berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;Tsa’labah bin Yaziid Al-Himmaaniy dalam periwayatan dari ‘Aliy mempunyai mutaba’ah dari :&lt;br /&gt;1.    Ibraahiim bin Hadiid atau bin Abi Hadiid.&lt;br /&gt;Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah (6/440) dan darinya Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (42/447) dari jalan Abu ‘Aliy Ar-Raudzabaariy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Syaudzab Al-Waasithiy dengannya : Telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Ayyuub : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aun, dari Husyaim, dari Ismaa’iil bin Saalim, dari Abu Idris Al-Azdiy, dari ‘Aliy, ia berkata : “Termasuk diantara yang diamanatkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepadaku : “……(al-hadiits)….”.&lt;br /&gt;Sanad : &lt;br /&gt;a.     Abu ‘Aliy Ar-Raudzabaariy, ia adalah Al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Aliy bin Haatim Ar-Raudzabaariy Ath-Thuusiy. Adz-Dzahabiy berkata : “Al-Imaamul-musnad” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 17/219-220 no. 128]. Lihat juga biografinya di Al-‘Ibar (2/206), Syadzdzaratudz-Dzahab (5/19), dan Al-Ansaab lis-Sam’aaniy (6/180).&lt;br /&gt;b.    Abu Muhammad ‘Umar bin Syaudzab Al-Waasithiy, ia adalah ‘Abdullah bin ‘Umar bin Syaudzab Al-Waasithiy Al-Muqri’. Muhaddits daerah Waasith. Abu Bakr bin Muhammad bin Bairiy berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih bagus dalam membaca Al-Qur’an darinya” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 15/466]. Lihat juga biografinya dalam Al-‘Ibar 2/64 dan Syadzdzaratudz-Dzahab 4/226-227.&lt;br /&gt;c.     Syu’aib bin Ayyuub, ia adalah Ibnu Ruzaiq bin Ma’bad bin Syiithaa Ash-Shariifiiniy.&lt;br /&gt;Ibnu Abi Haatim berkata : “Ia menuliskan (riwayat) kepada ayahku dan aku” [Al-Jarh wat-Ta’diil 4/342 no. 1501]. Abu Dawud berkata : “Sungguh aku takut kepada Allah dari riwayat yang berasal dari Syu’aib bin Ayyuub Ash-Shariifiiniy”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Syu’aib bin Ayyuub tsiqah” [Taariikh Baghdaad 10/338-339 no. 4771]. Al-Haakim berkata : “Tsiqah ma’muun” [Tahdziibut-Tahdziib, 4/349 no. 594].  Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat, namun kemudian ia berkata : “Kadang keliru (yukhthi’) dan melakukan tadlis. Setiap pengingkaran dalam haditsnya termasuk dampak dari tadlis-nya” [Ats-Tsiqaat, 8/309]. Pentadlisan ini disepakati oleh para ulama setelahnya seperti Al-‘Iraaqiy [Kitaabul-Mudallisiin, hal. 58-59 no. 29], Ibnu Hajar [Ta’riifu Ahlit-Taqdiis hal. 87 no. 72 – dan ia memasukkanya dalam thabaqah ketiga], Al-‘Alaa’iy [Jaami’ut-Tahshiil, hal 107], Sabth bin Al-‘Ajamiy Asy-Syaafi’iy [At-Tabyiin li-Asmaail-Mudallisiin hal. 33 no. 34], dan As-Suyuuthiy [Asmaa’ul-Mudallisiin hal. 61 no. 25]. &lt;br /&gt;Adz-Dzahabiy berkata : “Semua yang diriwayatkan darinya dari Sunan-nya bukan merupakan hadits. Ia mempunyai hadits yang munkar” [Miizaanul-I’tidaal, 2/275 no. 3708]. Ia pun memasukkanya dalam kitab kumpulan perawi dla’if [Al-Mughniy 1/469 no. 2772 dan Diiwaan Adl-Dlu’afaa ], namun dalam Al-Kaasyif (1/486 no. 2282) men-tsiqah-kannya. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, yudallis” [Taqriibut-Tahdziib hal. 436 no. 2809]. Adapun Basyaar ‘Awwaad meragukan nisbah tadlis pada Syu’aib dalam At-Tahriir (2/115 no. 2794). Al-Albaaniy menghasankan haditsnya [Ash-Shahiihah, 3/251]. &lt;br /&gt;Kesimpulan : Shaduuq, namun mudallis. Penetapan beberapa riwayat munkar yang berasal darinya menurunkan tingkat tautsiq yang diberikan kepadanya. Adapun peraguan Basyaar ‘Awwaad akan sifat mudallis dari Syu’aib kurang kuat, sebab pensifatan Ibnu Hibbaan – walaupun ia bersendirian dalam hal ini - telah disepakati para ulama setelahnya. Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;Dalam riwayatnya ini, ia telah menjelaskan tashriih penyimakannya dari ‘Amr bin ‘Aun sehingga dihukumi bersambung (muttashil).&lt;br /&gt;d.    ‘Amr bin ‘Aun; ia seorang perawi yang tsiqah tsabat, disepakati oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Tahdziibul-Kamaal, 22/177-180 no. 4423].&lt;br /&gt;e.    Husyaim, ia adalah Ibnu Basyiir bin Al-Qaasim bin Diinaar As-Sulamiy Abu Mu’aawiyyah bin Abi Haazim.&lt;br /&gt;Termasuk perawi Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [selengkapnya lihat dalam Tahdziibul-Kamaal, 30/272- no. 6595]. &lt;br /&gt;Namun para ulama telah mensifati dirinya banyak melakukan tadlis. Al-‘Ijliy berkata : “Ia biasa melakukan tadlis” [Ats-Tsiqaat, 2/334 no. 1912]. Ibnu Sa’d berkata : “Banyak melakukan tadlis. Apa yang ia katakan dalam haditsnya : ‘akhbaranaa’ (telah mengkhabarkan kepada kami), maka riwayatnya adalah hujjah. Dan apa yang tidak ia katakan padanya : ‘akhbaranaa’, maka tidak ada nilainya sama sekali” [Ath-Thabaqaat, 7/313]. Dan yang lainnya. Ia juga banyak meng-irsal-kan hadits. Riwayat-riwayat tentang tadlis dan irsal dari Husyaim banyak ditemukan dalam kitab Al-‘Ilal wa Ma’rifatur-Rijaal li-Ahmad bin Hanbal.&lt;br /&gt;Di sini ia membawakan dengan ‘an’anah tanpa menjelaskan tashrih penyimakannya.&lt;br /&gt;f.      Ismaa’il bin Saalim, ia adalah Abu Yahyaa Al-Kuufiy. &lt;br /&gt;Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya. Ibnu Sa’d berkata : “Ia seorang yang tsiqah tsabt”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Ia lebih tsiqah daripada Firaas bin Yahyaa”. Pada kesempatan lain ia (Ahmad) berkata : “Tsiqatun tsiqah”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Abu Zur’ah, Abu Haatim, An-Nasaa’iy, Ibnu Khiraasy, dan Ad-Daaruquthniy berkata : “Tsiqah”.  Ya’quub bn Sufyaan Al-Fasawiy berkata : “Tidak mengapa dengannya. Orang Kuffah yang tsiqah”. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat [selengkapnya silakan lihat Tahdziibut-Tahdziib, 1/301-302 no. 554].&lt;br /&gt;g.    Abu Idriis Al-Azdiy.&lt;br /&gt;Namanya adalah Ibraahiim bin Hadiid atau bin Abi Hadiid. &lt;br /&gt;Ahmad berkata : “Abu Idriis Al-Azdiy, namanya Ibraahiim bin Hadiid [Al-‘Ilal wa Ma’rifatur-Rijaal, hal. 5161]. Al-Bukhaariy juga menetapkan nama ini dalam Al-Kabiir 1/282 no. 908. Muslim berkata : “Abu Idriis Ibraahiim bin Abi Hadiid Al-Azdiy, dari ‘Aliy bin Abi Thaalib; meriwayatkan darinya Ismaa’iil bin Sumai’ [Al-Kunaa wal-Asmaa’, 1/86 no. 190]. Ibnu Hibbaan berkata : Ibraahiim bin Abi Hadiid Al-Audiy. Dan dikatakan pula : Ibnu Hadiid. Kun-yahnya Abu Idriis, meriwayatkan dari ‘Aliy dan sejumlah orang-orang Kuffah. Meriwayatkan darinya Ismaa’iil bin Saalim” [Ats-Tsiqaat, 4/11].&lt;br /&gt;Akan tetapi penisbatan Al-Azdiy adalah keliru. Yang benar adalah Al-Audiy sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hibbaan di atas. Dan itulah yang ditetapkan Ibnu Abi Haatim : Ibraahiim bin Abi Hadiid, kakek dari Idriis Al-Audiy. Meriwayatkan darinya kedua cucunya : Idriis dan Daawud,…..” [Al-Jarh at-Ta’diil, 1/96 no. 262]. Idris dan Daawud ini adalah anak dari Yaziid bin ‘Abdirrahmaan Al-Audiy [lihat Tahdziibul-Kamaal 32/186 no. 7020].&lt;br /&gt;Abu Haatim berkata tentangnya : “Majhuul, meriwayatkan secara mursal dari ‘Aliy” [Al-Jarh at-Ta’diil, 1/96 no. 262].&lt;br /&gt;Yaitu mastuur, akan tetapi sejumlah perawi tsiqah telah meriwayatkan darinya, diantaranya : Ismaa’iil bin Saalim, Idriis bin Yaziid bin ‘Abdirrahmaan, dan Al-Hasan bin ‘Ubaidullah. Begitu pula dengan tautsiq Ibnu Hibbaan (walau secara asal tautsiq-nya tidak kuat menurut jumhur ulama) sehingga menyebabkan riwayatnya di sini hasan, wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;Kemursalan riwayatnya di sini tetap ada sebagaimana dikatakan Abu Haatim. Adapun pernyataan Al-Bukhaariy : “Telah berkata kepadaku Ibnu Zurarah : Telah mengkhabarkan kepada kami Husyaim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Saalim, dari Abu Idriis : “Aku pernah melihat ‘Aliy” [Al-Kabiir 1/282 no. 908]; maka ini tidak mengangkat status mursal yang disebutkan Abu Haatim. Sebab, perkataan : ‘aku pernah melihat’ belum tentu menunjukkan kebersambungan sanad sebagaimana telah diketahui dalam ilmu hadits. Jika telah tetap penghukuman irsal dari seorang ulama yang diakui, maka hal yang mengangkatnya adalah sesuatu yang sepadan, yaitu riwayat/pernyataan yang menyatakan bahwa perawi tersebut mendengar atau bercakap-cakap.  Bukan sekedar pernah melihat. Betapa banyak seorang perawi pernah melihat perawi lain namun ia tidak pernah mendengar satu pun riwayat darinya ?&lt;br /&gt;Diriwayatkan pula oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (no. 4676) dari jalan Abu Hafsh ‘Umar bin Ahmad Al-Jumahiy di Makkah : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdil-‘Aziiz : Telah menceritakan kepada kami Husyaim, dan seterusnya seperti sanad Al-Baihaqiy.&lt;br /&gt;Husyaim dalam periwayatan dari Ismaa’iil bin Saalim mempunyai mutaba’ah dari Abu ‘Awaanah sebagaimana diriwayatkan pula oleh Ad-Daulabiy dalam Al-Kunaa (1/198 no. 381) dari jalan Yahyaa bin Ghailaan, dari Abu ‘Awaanah, dari Ismaa’iil bin Saalim. &lt;br /&gt;Sanad riwayat ini lemah karena ‘an’anah Husyaim dan inqitha’ antara Abu Idriis dengan ‘Aliy bin Abi Thaalib.&lt;br /&gt;2.    ‘Alqamah.&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq (42/446-447) dari jalan Abul-Qaasim bin As-Samarqandiy dan Abul-Barakaat ‘Abdul-Baaqiy bin Ahmad bin Ibraahiim, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Hasan bin Muhammad bin Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al-Hasan bin Al-Husain bin ‘Aliy An-Naubakhtiy : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdillah bin Mubasysyir : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb : Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Yaziid, dari Fithr bin Khaliifah, dari Hakiim bin Jubair, dari Ibraahiim, dari ‘Alqamah, ia berkata : Telah berkata ‘Aliy : “……(al-hadiits)….”. &lt;br /&gt;Sanad riwayat ini sangat lemah karena Hakiim bin Jubair. Ahmad berkata : “Dla’iif, munkarul-hadiits”. Al-Bukhaariy berkata : “Syu’bah memperbincangkannya (karena kelemahannya)”. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak kuat”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Matruuk”. Syu’bah berkata : “Aku khawatir terperosok ke dalam neraka jika aku meriwayatkan darinya”. Al-Juuzjaaniy berkata : “Pendusta (kadzdzaab)” [selengkapnya lihat Miizaanul-I’tidaal, 1/583-584 no. 2215]. Al-Bukhaariy berkata : “Fiihi nadhar”. Al-Fasawiy berkata : “Tercela, dan dikatakan ia seorang Raafidliy yang sangat berlebih-lebihan dalam bid’ah Rafidlahnya”. Al-Bazzaar berkata : “Tidak kuat”. Di lain tempat ia berkata : “Berlebih-lebihan dalam tasyayyu’ sehingga sebagian ulama berhenti tidak mengambil riwayat darinya”. Abu Haatim berkata : Ditinggalkan haditsnya karena kelemahannya” [selengkapnya lihat Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil, 1/190 no. 987]. &lt;br /&gt;Nampak bahwa hadits ‘Aliy bin Abi Thalib ini mempunyai dua sanad lemah yang bisa dipandang, yaitu dari jalan Tsa’labah bin Yaziid (yang rata-rata banyak dibawakan para perawi yang cenderung pada bid’ah tasyayyu’ – bahkan diantara mereka ada yang ekstrim) dan Ibraahiim bin Abi Hadiid. Jalan sanad Ibraahiim bin Abi Hadiid ini dapat dijadikan sebagai penguat karena ada jalan sanad yang dibawakan Al-Baihaqiy dan Ad-Daulabiy yang relatif ‘bersih’ dari perawi-perawi yang ber-tasyayyu’. Oleh karena itu, hadits ini berkualitas hasan lighairihi.&lt;br /&gt;Peringatan !!&lt;br /&gt;Sebagian kalangan Syi’ah – dulu dan sekarang - membawakan riwayat ini untuk menuduh para shahabat telah berkhianat kepada ‘Aliy tentang masalah imamah. Oleh karena itu, untuk mengecek riwayat tersebut kita membutuhkan kesaksian dari orang-orang yang tidak berpemahaman tasyayyu’ sebagaimana telah dilakukan pada pemaparan di atas.&lt;br /&gt;Setelah tetap haditsnya, maka kita akan mencermati apakah benar riwayat tersebut sesuai dengan apa yang mereka klaim ? Jika kita perhatikan benar, maka sama sekali tidak ada petunjuk atas dakwaan mereka terebut. &lt;br /&gt;Pertama, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu tidak menyebutkan dalam perkara apa umat akan mengkhianati ‘Aliy.&lt;br /&gt;Kedua, mereka berdua pun tidak menjelaskan siapa ‘umat’ yang akan mengkhianati ‘Aliy tersebut. Syi’ah memaksudkannya adalah seluruh shahabat kecuali beberapa gelintir saja sebagaimana disebutkan sebelumnya.&lt;br /&gt;Seandainya ‘umat’ yang dimaksudkan tersebut adalah para shahabat secara umum (seperti keinginan Syi’ah), maka sangat tidak tepat. Ini bertentangan dengan banyak ayat Al-Qur’an dan hadits sebagaimana telah disebutkan. Apalagi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan sifat ‘amanah’ kepada shahabat sebagaimana sabdanya :&lt;br /&gt;وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ&lt;br /&gt;“Para sahabatku adalah amanah/penjaga umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka”.&lt;br /&gt;Kata ‘amanat’ adalah lawan dari ‘khianat’. Tidak akan mungkin selamanya sifat amanah bersanding dengan khianat. Jika salah satunya berdiri, maka akan runtuh yang lainnya.&lt;br /&gt;Apalagi sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang telah mutawatir bahwa sebaik-baik manusia adalah generasi beliau; yaitu para shahabat. Jika jama’ah manusia yang beliau pandang sebagai manusia terbaik telah khianat, maka apa gerangan yang terjadi pada umat selanjutnya ? Padahal sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan ‘sebaik-baik manusia/kurun/generasi’ mengkonsekuensikan penetapan qudwah (contoh) yang laik untuk ditiru. Dan sifat khianat yang ditetapkan kepada umat secara umum (baca : shahabat secara umum) jelas menafikkan itu semua.&lt;br /&gt;Lantas siapakah ‘umat’ yang dimaksud ?&lt;br /&gt;Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah yang kemudian dikutip oleh Ibnu ‘Asaakir telah menyatakan bahwa jika riwayat tersebut shahih, maka kemungkinan maksudnya adalah keluarnya orang-orang dari ketaatan ‘Aliy pada saat ia berkuasa (menjadi khalifah) dan kemudian pada saat peristiwa pembunuhan dirinya (oleh orang-orang Khawarij). &lt;br /&gt;Inilah yang lebih mendekati kebenaran.  [8]      Shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-5108627500523338388?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/5108627500523338388/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=5108627500523338388' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/5108627500523338388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/5108627500523338388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/04/riwayat-riwayat-tentang-keutamaan-para.html' title='Riwayat-Riwayat tentang Keutamaan Para Shahabat radliyallaahu ‘anhum'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-7459352843714178132</id><published>2010-04-28T01:26:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T01:27:07.932-07:00</updated><title type='text'>Belajar Menghormati Tetangga</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG &lt;br /&gt;Penulis : Al-Ustadzah Ummu 'Abdirrahman Bintu 'Imran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesuatu yang tak dapat dihindari dalam hidup bermasyarakat adalah kehidupan bertetangga. Karena yang kita harapkan adalah hidup bermasyarakat dengan tenteram dan damai, tentunya kita juga harus hidup dengan tenteram dan damai bersama tetangga kita. Alangkah nyaman hidup bersama tetangga yang baik. Sebaliknya, alangkah sempitnya hidup bersama tetangga yang jelek, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dinukil oleh Isma’il bin Muhammad bin Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya, dari kakeknya:&lt;br /&gt;أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ؛ وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ السُّوْءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ السُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ &lt;br /&gt;“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1232 dan Al-Khathib dalam At-Tarikh 12/99. Al-Imam Al-Albani mengatakan dalam Ash-Shahihah no. 282: “Ini adalah sanad yang shahih menurut syarat Syaikhain/Al-Bukhari dan Muslim.”)&lt;br /&gt;Di dalam Kitab-Nya yang mulia, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat baik kepada tetangga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sembahlah Allah, dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (An-Nisa’: 36)&lt;br /&gt;Betapa pentingnya berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai Jibril u menekankan dalam wasiatnya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ &lt;br /&gt;“Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan dijadikan sebagai ahli waris.” (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan Muslim no. 2624)&lt;br /&gt;Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam keras orang yang mengganggu tetangganya dalam sabda beliau yang dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ: مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ &lt;br /&gt;“Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!” Beliau pun ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6016)&lt;br /&gt;Dalam riwayat Al-Imam Muslim:&lt;br /&gt;لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ &lt;br /&gt;“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Muslim no. 46)&lt;br /&gt;Kita adalah sosok yang telah dewasa. Akal kita telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk menurut pandangan syariat, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Namun tidak demikian dengan anak-anak kita. Sehingga justru kadang gangguan terhadap tetangga datang dari ulah anak-anak kita. Mungkin dengan teriakan-teriakannya, mungkin dengan tingkah lakunya yang mengganggu, kurang adabnya mereka, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Untuk itu, semestinya kita mengajari mereka tentang adab-adab bertetangga, agar anak-anak kita pun mengerti bahwa tetangga adalah orang-orang yang harus dihormati dan dihargai, serta terlarang untuk disakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelaskan terlarangnya mengganggu tetangga&lt;br /&gt;Memberi penjelasan kepada anak-anak tentang sesuatu yang harus dilakukan atau dihindari dalam agama merupakan suatu hal yang penting. Ini akan memberikan motivasi kepada si anak untuk menjalankannya. Karena itu, penting pula kita jelaskan kepada anak-anak bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk berbuat baik kepada tetangga kita. Beliau pun melarang kita mengganggu mereka, sebagaimana dalam sabda beliau di atas.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullahu menjelaskan bahwa sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menunjukkan haramnya memusuhi tetangga, baik dengan ucapan ataupun perbuatan. Dengan ucapan, artinya tetangga mendengar segala sesuatu yang mengganggu dan merisaukannya, seperti memutar radio, televisi, atau yang lainnya sehingga mengganggu tetangga. Ini tak boleh dilakukan. Memutar bacaan Kitabullah sekalipun, kalau suaranya mengganggu tetangga, maka ini termasuk sikap memusuhi tetangga, sehingga tak boleh dilakukan.&lt;br /&gt;Adapun dengan perbuatan, seperti membuang sampah di sekitar pintu rumah tetangga, menyempitkan jalan masuk ke rumahnya, mengetuk-ngetuk pintunya, dan perbuatan lainnya yang memadharatkan tetangga. Termasuk pula jika dia memiliki tanaman di sekitar tembok tetangganya yang pengairannya mengganggu tetangga. Ini pun termasuk gangguan terhadap tetangga, sehingga tak boleh dilakukan.&lt;br /&gt;Dengan demikian, diharamkan mengganggu tetangga dengan gangguan apapun. Kalau dia lakukan hal ini, maka dia bukanlah seorang mukmin. Maknanya, dia tidak bersifat dengan sifat-sifat kaum mukminin dalam permasalahan yang menyelisih kebenaran ini. (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/203)&lt;br /&gt;Perlu pula kita jelaskan pada anak-anak bahwa mengganggu tetangga bisa menjerumuskan seseorang ke neraka. Sebaliknya, berbuat baik kepada tetangga bisa mengantarkan seseorang ke surga. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan:&lt;br /&gt;قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَفْعَلُ وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ. قَالُوا: وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ وَتَصَدَّقُ بِأُثُوْرٍ (مِنَ الْأَقِطِ)، وَلاَ تُؤْذِي أَحَدًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ &lt;br /&gt;Nabi pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, si Fulanah itu biasa shalat malam, puasa di siang hari, melakukan kebaikan demikian, dan bersedekah, tapi dia suka mengganggu tetangga dengan lisannya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Dia tidak punya kebaikan. Dia termasuk penduduk neraka.” Para sahabat bertanya lagi, “Sementara si Fulanah (wanita yang lain) hanya menjalankan shalat wajib, bersedekah hanya dengan sepotong keju, tapi tak pernah mengganggu siapa pun.” Rasulullah menyatakan, “Dia termasuk penduduk surga.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 119, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 180 bahwa isnadnya shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan makanan kepada tetangga&lt;br /&gt;Kadang terjadi, anak-anak memakan makanan yang dibawa dari rumah di hadapan anak-anak tetangga tanpa membaginya. Mereka biarkan teman-temannya menatap penuh selera tanpa bisa merasakannya. Terkadang yang seperti ini jadi biang keributan, karena si teman merengek pada orangtuanya yang mungkin saja tak mampu membelikan makanan serupa dengan segera. Atau bahkan terjadi pertengkaran gara-gara si teman tak bisa menahan dirinya sehingga meminta dengan paksa. &lt;br /&gt;Amatlah terpuji jika anak terbiasa membagi makanan dengan anak-anak tetangga. Begitu pula kita bisa melatih mereka untuk memberikan makanan yang kita miliki kepada tetangga.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan hal ini kepada Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ &lt;br /&gt;“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak makanan berkuah, perbanyak airnya, lalu bagi-bagikan ke tetanggamu!” (HR. Muslim no. 2625)&lt;br /&gt;Demikian pula jika kita memiliki makanan lain selain makanan berkuah, minuman –seperti kelebihan susu perahan misalnya– dan sebagainya, maka selayaknya kita membaginya kepada para tetangga, karena ini adalah hak mereka. (Syarh Riyadhish Shalihin 2/203)&lt;br /&gt;Terlebih lagi jika tetangga kita dalam keadaan kekurangan dan kelaparan, mestinya kita lebih memerhatikannya. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah memberitahu Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ &lt;br /&gt;“Bukanlah seseorang yang sempurna imannya orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 112, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melarang anak-anak mengambil barang milik tetangga&lt;br /&gt;Terkadang ada anak yang membawa mainan yang bukan miliknya sepulang dari bermain dengan anak tetangga. Setelah ditelusuri, dia mengambil mainan milik teman yang dia inginkan. Ada pula yang mengambil buah dari pohon tetangga tanpa seizin pemiliknya. Ini semua adalah contoh perilaku tak terpuji yang bisa terjadi pada anak-anak.&lt;br /&gt;Karena itu, anak perlu disadarkan bahwa mengambil barang orang lain tanpa izin atau mencuri adalah suatu hal yang terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras akan hal ini. Lebih-lebih lagi mencuri milik tetangga, ini lebih besar lagi keharamannya.&lt;br /&gt;Al-Miqdad ibnul Aswad radhiyallahu ‘anhu mengisahkan:&lt;br /&gt;سَأَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَصْحَابَهُ عَنِ الزِّنَا، قَالُوا: حَرَامٌ حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ. فَقَالَ: لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ. وَسَأَلَهُمْ عَنِ السَّرِقَةِ، قَالُوا: حَرَامٌ، حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ. فَقَالَ: لَأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشْرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat beliau tentang zina. Para sahabat menjawab, “Haram, diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau bersabda, “Seseorang berzina dengan sepuluh orang wanita lebih ringan daripada berzina dengan istri tetangganya.” Kemudian beliau bertanya kepada para sahabat tentang mencuri. Para sahabat menjawab, “Haram, diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.” Lalu beliau menyatakan, “Seseorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan daripada mencuri dari rumah tetangganya.” (HR. Al- Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 103, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 76) &lt;br /&gt;Dengan mengajarkan adab-adab ini kepada anak-anak, diharapkan mereka tidak membuat berbagai ulah yang akan mengganggu atau bahkan merugikan tetangga. Begitu pula kita akan terjaga dari ancaman mengganggu tetangga, sekalipun gangguan itu bukan langsung berasal dari perbuatan kita melainkan dari tingkah polah anak-anak kita. Mudah-mudahan dengan itu kita dapat mewujudkan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Abu Syuraih Al-Khuza’i radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ &lt;br /&gt;“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim no. 47)&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenanjazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-7459352843714178132?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/7459352843714178132/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=7459352843714178132' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/7459352843714178132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/7459352843714178132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/04/belajar-menghormati-tetangga.html' title='Belajar Menghormati Tetangga'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-5842082363561672529</id><published>2010-04-28T01:23:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T01:24:51.449-07:00</updated><title type='text'>Keluarnya Dajjal Sebagai Tanda Hari Kiamat</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLANSELAMAT DATANG&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah Imam Mahdi, satu penanda besar hari kiamat yang akan muncul adalah Dajjal. Dia berasal dari manusia dan merupakan sosok nyata. Kemunculannya akan didahului dengan sejumlah peristiwa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kewajiban seorang muslim adalah beriman kepada hari akhir dan apa yang akan terjadi sebelum dan setelahnya. Hari kiamat tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;فَأَخْبِرْنِي عَنْ السَّاعَةِ. قَالَ: مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ&lt;br /&gt;“Kabarkanlah kepadaku kapan terjadi hari kiamat?” Rasulullah menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari bertanya.” (HR. Muslim no. 1)&lt;br /&gt;Meskipun tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menerangkan tanda-tanda yang akan muncul sebelum terjadinya. Tanda-tanda hari kiamat ada dua, shugra dan kubra.&lt;br /&gt;Tanda kiamat shugra banyak jumlahnya, Di antaranya yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril:&lt;br /&gt;قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ: أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ &lt;br /&gt;“(Jibril) berkata: Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya. Rasulullah menjawab: Budak perempuan melahirkan tuannya, dan kamu lihat orang yang telanjang kaki dan telanjang badan penggembala kambing berlomba-lomba meninggikan bangunan.” (HR. Muslim no. 1)&lt;br /&gt;Adapun tanda kiamat kubra, di antaranya disebutkan dalam hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu:&lt;br /&gt;اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ. فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُوْنَ؟ قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ: إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُوْلَ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَيَأَجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوْفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ&lt;br /&gt;Rasulullah melihat kami ketika kami tengah berbincang-bincang. Beliau berkata: “Apa yang kalian perbincangkan?” Kami menjawab: “Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.” Beliau berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian lihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan: “Dukhan (asap), Dajjal, Daabbah, terbitnya matahari dari barat, turunnya ‘Isa ‘alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, dan tiga khusuf (dibenamkan ke dalam bumi) di timur, di barat, dan di jazirah Arab, yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman mengusir (menggiring) mereka ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. 2901)&lt;br /&gt;Di antara tanda kiamat kubra yang termaktub dalam hadits di atas adalah keluarnya Dajjal. Pembahasan masalah keluarnya Dajjal merupakan pembahasan penting disebabkan beberapa faktor yang disebutkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu:&lt;br /&gt;1. Banyaknya orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan dakwah meragukan akan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam dan terbunuhnya Dajjal.&lt;br /&gt;2. Kebanyakan manusia tidak terbiasa membicarakan masalah keluarnya Dajjal dan turunnya ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam.&lt;br /&gt;(Lihat Qishshah Al-Masihid Dajjal wa Nuzul ‘Isa, karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dajjal&lt;br /&gt;Secara bahasa:&lt;br /&gt;Disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu dalam kitab beliau At-Tadzkirah bahwa lafadz Dajjal dipakai untuk sepuluh makna. Di antaranya: Kadzdzab (tukang dusta), Mumawwih (yang menipu manusia). Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Dikatakan demikian karena dia adalah manusia yang paling besar penipuannya.”&lt;br /&gt;Dalam istilah syar’i:&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Seorang laki-laki pendusta (penipu) yang keluar di akhir zaman mengaku sebagai Rabb.” (Syarah Lum’atul I’tiqad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan akan Keluarnya Dajjal&lt;br /&gt;Para nabi telah memperingatkan akan keluarnya Dajjal. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma, dia berkata:&lt;br /&gt;قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنْ سَأَقُوْلُ لَكُمْ فِيْهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ، تَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia, menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya, kemudian menyebut Dajjal dan berkata: “Aku memperingatkan kalian darinya. Tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya: Ketahuilah dia itu buta sebelah matanya, adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, 2930/169)&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا عَنِ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ؟ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّهُ يَجِيْءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَالَّتِي يَقُوْلُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ وَإِنِّي أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوْحٌ قَوْمَهُ&lt;br /&gt;“Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal yang telah disampaikan oleh para nabi kepada kaumnya? Dia buta sebelah matanya, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka. Aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam memperingatkan kaumnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2936)&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ الْكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَمَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر&lt;br /&gt;“Tidak ada seorang nabi pun kecuali memperingatkan umatnya dari Dajjal. Buta satu matanya, pendusta. Ketahuilah dia buta. Adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal: ك ف ر -yakni kafir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2933)&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ&lt;br /&gt;“Bisa dibaca oleh semua mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak.” (HR. Muslim 2934/105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian-Kejadian Sebelum Keluarnya Dajjal&lt;br /&gt;Banyak kejadian telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang keluarnya Dajjal. Di antara kejadian-kejadian tersebut:&lt;br /&gt;1. Banyaknya yang tewas ketika kaum muslimin melawan Romawi&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Yusai bin Jabir: Bertiup angin di Kufah, datanglah seorang pria yang ucapannya hanyalah: “Ya Abdullah bin Mas’ud, kiamat telah datang.” Maka beliau duduk dan bersandar kemudian berkata: “Sesungguhnya kiamat tak akan terjadi hingga tidak dibagikan lagi warisan dan tidak bergembira dengan ghanimah.” Beliau berisyarat dengan tangannya ke arah Syam seraya berujar: “Akan ada musuh yang berkumpul untuk menyerang kaum muslimin maka kaum muslimin pun berkumpul untuk melawan mereka.” Aku katakan: “Romawi yang anda maksud?” Beliau menjawab: “Ya. Ketika itu akan terjadi peperangan yang dahsyat. Majulah kaum muslimin siap untuk mati (membela agama), tak akan kembali kecuali dalam keadaan menang. Bertempurlah kedua pasukan tersebut hingga terhalangi waktu malam. Maka kembalilah dua kelompok tersebut tanpa ada pemenang dan pasukan yang siap mati telah tiada. Kemudian maju sekelompok kaum muslimin yang siap untuk mati, tidak pulang kecuali dalam keadaan menang. Mereka bertempur hingga sore kemudian kembalilah dua kelompok tersebut tanpa ada pemenang dan pasukan yang siap mati pun habis. Di hari keempat majulah sisa pasukan kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kemenangan kepada mereka. Mereka membunuh musuh dalam jumlah yang tak pernah terlihat sebelumnya. Hingga ada seekor burung yang terbang ke arah mereka mati sebelum bisa melintasi semuanya. Ketika itu ada orang-orang yang mencari keluarga bapaknya hanya mendapatkan seorang saja padahal sebelumnya mereka berjumlah seratus orang. (Kalau begini keadaannya) dengan ghanimah seperti apa dia akan gembira? Atau warisan seperti apa dibagikan? Ketika dalam keadaan demikian, mereka mendengar sesuatu yang lebih besar dari itu. Datang seseorang yang berteriak (bahwa) Dajjal telah mendatangi keluarga mereka. Maka mereka pun membuang ghanimah dari tangan-tangan mereka, dan mengirim sepuluh pasukan berkuda sebagai mata-mata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Sungguh aku tahu nama-nama mereka dan nama-nama ayah mereka serta warna kuda-kuda mereka. Mereka adalah pasukan berkuda yang terbaik di muka bumi ketika itu atau di antara pasukan berkuda yang terbaik di muka bumi ketika itu’.” (HR. Muslim no. 2899)&lt;br /&gt;2. Banyaknya kemenangan diraih kaum muslimin&lt;br /&gt;Dari Nafi’ bin ‘Utbah radhiyallahu 'anhu: Kami bersama Rasulullah dalam satu peperangan. Datang kepada Nabi satu kaum dari Maghrib memakai pakaian dari wol (bulu domba). Mereka bertemu Rasulullah di sebuah bukit dalam keadaan berdiri sedangkan Rasulullah duduk. Batinku berkata: ‘Datangilah mereka dan berdirilah antara mereka dengan Rasulullah agar jangan sampai mereka menculik Rasulullah’. Kemudian aku berkata (dalam hati, -pen.): ‘Mungkin beliau ingin berbicara khusus bersama mereka.’ Aku pun mendatangi mereka dan duduk di antara Rasulullah dan mereka. Aku hafal dari beliau empat kalimat, aku hitung dengan jariku. Beliau berkata: ‘Kalian akan berperang melawan jazirah Arab dan Allah berikan kemenangan kepada kalian. Kemudian memerangi Persia dan kalian pun menang. Kalian memerangi Romawi kalian pun diberikan kemenangan oleh Allah. Dan kemudian kalian berperang melawan Dajjal, Allah juga memberikan kemenangan untuk kalian.” (HR. Muslim no. 2900)&lt;br /&gt;3. Kaum Muslimin menguasai Konstantinopel (Istanbul, red.)&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga orang Romawi datang di A’maq atau Dabiq (dua tempat di Syam). Keluarlah pasukan dari Madinah untuk menghadapi mereka. Mereka adalah di antara penduduk bumi yang terbaik ketika itu. Ketika mereka telah berhadapan, orang Romawi berkata: ‘Biarkanlah kami memerangi orang-orang yang telah ditawan dari kaum kami.’ Kaum muslimin berkata: ‘Tidak, kami tak akan membiarkan kalian memerangi saudara kami.’ Akhirnya mereka pun bertempur. Larilah sepertiga pasukan yang Allah tak akan memberi taubat kepada mereka, sepertiga pasukan muslimin terbunuh dan mereka adalah syuhada yang paling afdhal di sisi Allah, sepertiga pasukan lagi yang tersisa mendapat kemenangan dan mereka tak akan terkena fitnah (ujian) selamanya. Mereka menguasai Konsthantiniyah (Konstantinopel, dahulu merupakan ibukota Romawi Timur, red.). Ketika mereka tengah membagi rampasan perang dan telah menggantungkan pedang mereka di pohon zaitun, berteriaklah setan: ‘Masihid (Dajjal) telah mendatangi keluarga kalian.’ Mereka pun keluar, padahal itu adalah berita batil. Ketika mereka sampai di Syam, keluarlah Dajjal….” (HR. Muslim no. 2897)&lt;br /&gt;4. Dajjal keluar ketika telah sedikitnya orang Arab&lt;br /&gt;Dari Ummu Syarik radhiyallahu 'anha, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;لَيَفِرَّنَّ النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ فِي الْجِبَالِ. قَالَتْ أُمُّ شَرِيْكٍ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَأَيْنَ الْعَرَبُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: هُمْ قَلِيْلٌ&lt;br /&gt;“Sungguh manusia akan melarikan diri dari Dajjal ke gunung-gunung.” Ummu Syarik berkata: “Ya Rasulullah, di mana orang-orang Arab ketika itu?” Beliau menjawab: “Mereka sedikit.” (HR. Muslim no. 2945)&lt;br /&gt;5. Sebelum keluarnya Dajjal, manusia tertimpa tiga paceklik yang dahsyat sehingga mereka mengalami kelaparan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan langit di tahun pertama untuk menahan sepertiga hujan, memerintahkan bumi untuk menahan sepertiga tumbuhannya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan langit di tahun kedua untuk menahan dua pertiga hujannya dan memerintahkan tanah untuk menahan dua pertiga tanamannya. Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan langit di tahun ketiga menahan semua hujannya, tak ada yang turun satu tetespun dan memerintahkan tanah untuk menahan semua tumbuh-tumbuhan. (Sebagaimana dalam hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu dan Asma` bintu Yazid Al-Anshariyah radhiyallahu 'anha. Lihat kitab Qishshatu Masihid Dajjal wa Nuzul ‘Isa wa Qatlihi Iyyahu karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Keluarnya Dajjal&lt;br /&gt;Sebabnya adalah karena satu amarah. Ummul Mukminin Hafshah bintu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma berkata kepada Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma: “Tidakkah kau tahu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَخْرُجُ مِنْ غَضْبَةٍ يَغْضَبُهَا&lt;br /&gt;“Dia keluar hanyalah karena satu amarah yang ia rasakan.” (HR. Muslim no. 2932)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat keluarnya Dajjal&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu 'anhu: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan perkara Dajjal pada satu hari. Beliau merendahkan dan kadang mengeraskan suaranya hingga kami menyangka dia ada di pojok kebun korma. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيْكُمْ فَأَنَا حَجِيْجُهُ دُوْنَكُمْ وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيْكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيْجُ نَفْسِهِ وَاللهُ خَلِيْفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ، فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُوْرَةِ الْكَهْفِ، إِنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّامِ وَالْعِرَاقِ فَعَاثَ يَمِيْنًا وَعَاثَ شِمَالاً، يَا عِبَادَ اللهِ فَاثْبُتُوا&lt;br /&gt;“Selain Dajjal lebih aku takutkan (menimpa) kalian. Karena jika Dajjal keluar dan aku masih ada di antara kalian niscaya aku akan menjadi pelindung kalian. Jika dia keluar ketika aku telah tiada maka setiap muslim akan menjadi pembela dirinya sendiri. Allah yang akan menjaminku membela setiap muslim. Dia adalah seorang pemuda yang sangat keriting, matanya tidak ada cahayanya, aku mengira dia mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Barangsiapa di antara kalian mendapatinya bacalah awal surat Al-Kahfi. Dia akan keluar dari jalan antara Syam dan Irak, berjalan ke kiri dan ke kanan. Wahai hamba-hamba Allah, istiqamahlah.” (HR. Muslim no. 2937)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dajjal adalah Cobaan yang Terbesar&lt;br /&gt;Dajjal merupakan cobaan paling besar yang menimpa manusia di dunia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;“Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada makhluk di muka bumi ini sejak Allah menciptakan Adam sampai hari kiamat yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim no. 2946)&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنْ الدَّجَّالِ&lt;br /&gt;“Tidak ada antara penciptaan Adam dan hari kiamat makhluk yang lebih besar dari Dajjal (dalam satu riwayat: fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal).” (HR. Muslim no. 2946)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri yang Tidak Dimasuki Dajjal&lt;br /&gt;Tidak ada satu negeri pun di bumi ini kecuali akan didatangi dan dikuasai Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلاَّ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ وَلَيْسَ نَقْبٌ مِنْ أَنْقَابِهَا إِلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّيْنَ تَحْرُسُهَا فَيَنْزِلُ بِالسِّبْخَةِ فَتَرْجُفُ الْمَدِيْنَةُ ثَلاَثَ رَجَفَاتٍ يَخْرُجُ إِلَيْهِ مِنْهَا كُلُّ كَافِرٍ وَمُنَافِقٍ&lt;br /&gt;“Tidak ada satu negeri pun kecuali akan didatangi (dikuasai) Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun di negeri tersebut kecuali ada malaikat yang menjaganya. Kemudian Dajjal datang ke suatu daerah -di luar Madinah- yang tanahnya bergaram. Bergoyanglah Madinah tiga kali, Allah keluarkan dengan sebabnya semua orang kafir dan munafiq dari Madinah.” (HR. Muslim no. 2943)&lt;br /&gt;Di antara negeri yang tidak didatangi (tidak dikuasai) Dajjal adalah Baitul Maqdis dan bukit Tursina. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Dia akan tinggal selama 40 hari mendatangi semua tempat kecuali empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Bukit Tursina (Palestina), dan Masjidil Aqsha (Palestina).” (HR. Ahmad dan lainnya. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata sanadnya shahih. Lihat Qishshatu Al-Masihid Dajjal wa Nuzul ‘Isa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Tinggalnya Dajjal di Bumi&lt;br /&gt;Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu disebutkan:&lt;br /&gt;قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا لَبْثُهُ فِي اْلأَرْضِ؟ قَالَ: أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا، يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ&lt;br /&gt;“…Kami berkata: ‘Ya Rasulullah, berapa lama Dajjal tinggal di bumi?’ Rasulullah berkata: ‘40 hari. Satu harinya seperti satu tahun, kemudian seperti sebulan, kemudian seperti sepekan, kemudian hari-hari lainnya seperti hari kalian sekarang…’.” (HR. Muslim no. 2937)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membunuh Dajjal&lt;br /&gt;Setelah Dajjal tinggal di bumi 40 hari, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:&lt;br /&gt;يَخْرُجُ الدَّجَّالُ فِي أُمَّتِي فَيَمْكُثُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فَيَبْعَثُ اللهُ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ كَأَنَّهُ عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُوْدٍ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ&lt;br /&gt;“Dajjal keluar di antara umatku selama 40 hari, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Isa bin Maryam ‘alaihissalam yang mirip dengan ‘Urwah bin Mas’ud. ‘Isa ‘alaihissalam mencarinya dan membunuhnya….” (HR. Muslim no. 2940)&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain:&lt;br /&gt;فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ&lt;br /&gt;“Dajjal dikejar oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam hingga mendapatkannya di Bab Ludd (satu negeri dekat Baitul Maqdis –Palestina, red.). Beliau pun membunuhnya.” (HR. Muslim no. 2937)&lt;br /&gt;Dalam hadits lain:&lt;br /&gt;فَإِذَا رَآهُ عَدُوُّ اللهِ ذَابَ كَمَا يَذُوْبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ فَلَوْ تَرَكَهُ لَانْذَابَ حَتَّى يَهْلِكَ وَلَكِنْ يَقْتُلُهُ اللهُ بِيَدِهِ فَيُرِيْهِمْ دَمَهُ فِي حَرْبَتِهِ&lt;br /&gt;“Ketika musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala (yakni Dajjal, -pen.) melihat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, melelehlah (tubuhnya) sebagaimana garam meleleh di air. Seandainya dibiarkan niscaya akan meleleh hingga binasa, akan tetapi Allah membunuhnya melalui tangan ‘Isa ‘alaihissalam, memperlihatkan darahnya kepada mereka di tombak Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.” (HR. Muslim 2897)&lt;br /&gt;Inilah sekelumit permasalahan Dajjal yang perlu kita ketahui dan imani. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita dari fitnah Dajjal dan menambah keimanan kita.&lt;br /&gt;Wa akhiru da’wana anilhamdulillahi Rabbbil ‘alamin&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mohon ma'af apabila tidak berkenan  jazakumullah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;alhamdulillah&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3212485932386570352-5842082363561672529?l=maktabah-islamiyah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/feeds/5842082363561672529/comments/default' title='Reacties plaatsen'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3212485932386570352&amp;postID=5842082363561672529' title='0 reacties'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/5842082363561672529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3212485932386570352/posts/default/5842082363561672529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://maktabah-islamiyah.blogspot.com/2010/04/keluarnya-dajjal-sebagai-tanda-hari.html' title='Keluarnya Dajjal Sebagai Tanda Hari Kiamat'/><author><name>ABU FARID WINARNA El-AMSTERDAMMY</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180278979882502282</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_S7A66yWlcts/SD0i_l7XkwI/AAAAAAAAAE0/6-gIbcTfG4E/S220/filzah-5+082.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3212485932386570352.post-482149880368223542</id><published>2010-04-14T16:14:00.000-07:00</published><updated>2010-04-14T16:16:12.529-07:00</updated><title type='text'>At-Tanaththu’, Persimpangan Menuju Kebinasaan</title><content type='html'>AHLAN WA SAHLAN&lt;br /&gt;SELAMAT DATANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tanaththu’, Persimpangan Menuju Kebinasaan&lt;br /&gt;Penulis: Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِيْ سُلَيْمَانُ بْنُ عَتِيقٍ عَنْ طَلْقِ بْنِ حَبِيبٍ عَنِ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:&lt;span style="color:#3333ff;"&gt; أَلاَ هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ -ثَلاَثَ مَرَّاتٍ&lt;/span&gt;. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yahya berkata kepada kami: Ibnu Juraij berkata kepada kami: Sulaiman bin ‘Atiq berkata kepadaku, dari Thalq bin Habib, dari Al-Ahnaf bin Qais, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!” tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takhrij Hadits&lt;br /&gt;Al-Imam Ahmad meriwayatkan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Al-Musnad (1/386).&lt;br /&gt;Hadits ini shahih. Semua rawinya tsiqah (terpercaya), termasuk perawi-perawi Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain, kecuali Sulaiman bin ‘Atiq dan Thalq bin Habib, keduanya hanya dikeluarkan oleh Muslim.&lt;br /&gt;Yahya, yang disebut dengan muhmal1 adalah Yahya bin Sa’id bin Farrukh Al-Qaththan Al-Bashri Abu Sa’id, meninggal 198 H. Ibnu Hajar dalam At-Taqrib mengatakan: “Tsiqatun mutqinun hafizhun.”&lt;br /&gt;Ibnu Juraij, sebutan masyhur bagi Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij Al-Umawi, meninggal 150 H. Beliau tsiqah tetapi terkenal sebagai rawi mudallis.2 Ibnu Hajar Al-Asqalani menggolongkannya dalam Thabaqatul Mudallisin pada golongan ketiga, yaitu rawi-rawi mudallis yang tidak bisa diterima riwayatnya kecuali jika terang-terangan mendengar hadits dari gurunya. Dan pada hadits di atas, Ibnu Juraij mendengar langsung dari gurunya dengan ucapannya: “Haddatsani (berkata kepadaku)” sehingga keberadaannya sebagai mudallis tidak membahayakan keabsahan hadits.&lt;br /&gt;Sulaiman bin ‘Atiq Al-Madani, seorang tabi’in, murid dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu.3 Ada pembicaraan tentangnya, tetapi tidak membahayakan dan tidak menurunkannya dari derajat hasan, insya Allah. An-Nasa’i mengatakan: “Tsiqah (terpercaya).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil, 4/135)&lt;br /&gt;Al-Imam Muslim mengeluarkan haditsnya dalam Ash-Shahih. Ibnu Hajar berkata tentangnya dalam At-Taqrib: “Shaduq (jujur).” (haditsnya hasan)&lt;br /&gt;Thalq bin Habib Al-‘Anazi Al-Bashri, seorang tabi’in, meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, dan Abdullah bin Zubair g. Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Shaduqun fil hadits (jujur dalam hadits).” (Al-Jarh Wat-Ta’dil 4/490)&lt;br /&gt;Ibnu Sa’d berkata: “Kana murjiyan tsiqatan (Dia seorang Murji’ah yang terpercaya).” (Ath-Thabaqat 7/227)&lt;br /&gt;Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats-Tsiqat (4/396), dan Al-‘Ijli berkata: “Makkiyun tabi’iyyun tsiqatun (Seorang tabi’in dari Makkah yang terpercaya).” (Tarikh Ats-Tsiqat)&lt;br /&gt;Al-Ahnaf bin Qais, Al-Ahnaf adalah laqab (julukan), adapun nama beliau adalah Adh-Dhahhak bin Qais bin Mu’awiyah bin Hushain, meninggal tahun 67 H. Termasuk pembesar tabi’in yang tsiqah, murid dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.4&lt;br /&gt;Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dikeluarkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya Kitab Al-’Ilmi (no. 2670), Abu Dawud As-Sijistani dalam As-Sunan, Kitab As-Sunnah Bab Luzumis Sunnah (no. 4608), Abu Ya’la Al-Mushili dalam Al-Musnad (no. 5004 dan 5242), dan At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir, demikian pula Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Ash-Shamt (hal. 109).&lt;br /&gt;Seluruhnya meriwayatkan hadits dari jalan Yahya bin Sa’id dari Ibnu Juraij.5&lt;br /&gt;Al-Haitsami mengatakan dalam Majma’ Az-Zawa’id (10/251): “Hadits ini dikeluarkan oleh Ath-Thabarani6 dan rawi-rawinya adalah perawi yang shahih.”&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Hadits&lt;br /&gt;Al-Khaththabi rahimahullahu menerangkan bahwa Al-Mutanath-thi’ (الْمُتَنَطِّعُ), adalah sebutan bagi orang yang berdalam-dalam dan memaksakan diri dalam membahas sesuatu. Serupa dengan metode ahli kalam (filsafat), mereka selalu membicarakan dan menyelami perkara yang tidak bermanfaat, serta menekuni apa yang akal-akal mereka tidak mampu mencapainya.7&lt;br /&gt;Al-Mutanath-thi’un (لْمُتَنَطِّعُونَ) merupakan bentuk jamak dari kata (مُتَنَطِّعٌ). Secara bahasa mengandung makna berdalam-dalam ketika berbicara dan menampak-nampakkan kefasihan. Adapun maksud (tanaththu’ dalam hadits ini) adalah tindakan melampaui batas dalam berbicara, melampaui batas dalam ber-istidlal (mengambil dalil), dan melampaui batas dalam beribadah.8&lt;br /&gt;Ibnul Atsir rahimahullahu dalam An-Nihayah mendefinisikan bahwa asal (لْمُتَنَطِّعُونَ) diambil dari kata (النَّطْعُ) yaitu rongga atas dari mulut. Kata ini kemudian digunakan untuk segala bentuk berdalam-dalam, baik pada ucapan maupun perbuatan.9&lt;br /&gt;Pembaca rahimakumullah, larangan dan celaan dari sikap berlebih-lebihan terpapar gamblang dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbagai lafadz. Di antaranya ath-tanaththu’ sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Disebut pula dengan lafadz al-ithra’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطَرَتْ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ&lt;br /&gt;“Janganlah kalian berlebih (melampaui batas) dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih dalam memuji ‘Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”10&lt;br /&gt;Disebut pula dengan lafadz al-ghuluw, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّيْنِ&lt;br /&gt;“Jauhilah ghuluw, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian tidaklah mereka binasa kecuali karena ghuluw (melampaui batas) dalam agama.”11&lt;br /&gt;Ketiga kata ini, Al-Ghuluw, Al-Ithra’, dan At-Tanaththu’ memiliki makna yang berdekatan, berserikat dalam sebuah makna yaitu melampaui batasan yang disyariatkan.12 Hanya saja Al-Ghuluw lebih umum, adapun Ath-Tanaththu’ merupakan bagian atau salah satu dari bentuk Al-Ghuluw.13&lt;br /&gt;Pembaca rahimakumullah, kembali kepada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perkataan beliau: “Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!”, sabda ini berisi kabar sekaligus doa kebinasaan bagi kaum yang melampaui batas.&lt;br /&gt;Dipahami pula dari hadits adanya kewajiban bagi kita untuk berjalan di atas jalan lurus yang jauh dari tanaththu’. Jalan yang dimaksud adalah jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tersebut dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَومًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيطَانٌ يَدْعُو إِلَيهِ. ثُمَّ تَلاَ: ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ&lt;br /&gt;Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggoreskan sebuah garis untuk kami, lalu bersabda: “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya kemudian bersabda: “Adapun garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada masing-masing jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ&lt;br /&gt;“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)14&lt;br /&gt;Jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya jalan yang adil. Satu-satunya jalan pertengahan yang terbebas dari segala bentuk penyimpangan dan sikap melampaui batas.&lt;br /&gt;Meskipun jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tampak benderang sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun banyaknya persimpangan kesesatan yang diserukan iblis dan pengikutnya benar-benar menakutkan, kecuali bagi mereka yang mendapat taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pergulatan hebat antara manusia dan iblis dalam menempuh jalan yang lurus itu pun harus terjadi sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbul ‘alamin.&lt;br /&gt;At-Tanaththu’ adalah bagian dari persimpangan-persimpangan. Sejarah anak manusia mencatat bahwa melalui pintu ini iblis berhasil menyesatkan ribuan kaum dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kaki-kaki pun bergeser dari Shirath Al-Mustaqim lalu tumbang binasa sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;أَلاَ هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ&lt;br /&gt;“Sungguh, celaka orang-orang yang melampaui batas!”&lt;br /&gt;Lihatlah apa yang menimpa kaum Nuh dahulu. Renungkan pula sebab kesesatan Qadariyyah, Jabriyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, falasifah (filosof, ahli kalam), Khawarij, Haddadiyyah, dan firqah-firqah lainnya. Sebuah kesimpulan terucap dari lisan sejarah bahwa: “Tidaklah mereka menyimpang dari syariat kecuali karena mereka menapakkan kakinya di atas jalan tanaththu’, persimpangan kebinasaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tanaththu’ Terjadi Pada Pembicaraan, Istidlal, dan Ibadah&lt;br /&gt;Penyakit At-Tanaththu’ menjangkit pada pembicaraan sebagaimana penyimpangan ini masuk dalam pengambilan dalil (istidlal) dan ibadah.15 Dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, marilah sejenak kita melihat beberapa contoh jenis-jenis tanaththu’ tersebut.&lt;br /&gt;Pertama: tanaththu’ dalam pembicaraan. Gejala orang yang terjatuh pada tanaththu’ jenis ini tampak pada pembicaraannya yang sering menggunakan istilah-istilah asing atau bahasa-bahasa tinggi yang tidak bisa dipahami khalayak. Dia juga terbiasa membahas tema-tema yang masyarakat tidak mampu mencernanya. Tujuan mereka tidak lain sekadar menampakkan keterpelajarannya, membanggakan tingkat pemahaman, atau menampakkan dirinya sebagai sosok orator ulung dan ahli bahasa.&lt;br /&gt;An-Nawawi rahimahullahu menarik satu faedah dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang dibencinya bicara dengan dibuat-buat atau memaksakan diri (takalluf) memoles kefasihan lisannya, atau menggunakan kalimat-kalimat asing dan i’rab (tata bahasa) yang mendetail saat berbicara dengan orang awam. Semua itu termasuk jenis tanaththu’ dalam pembicaraan. Demikian keterangan beliau dalam Syarah Shahih Muslim.&lt;br /&gt;Mereka tidak menyadari, sesungguhnya masyarakat sangat memerlukan keterangan yang jelas tentang aqidah, ibadah, dan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan malah dijejali tema yang jauh dari kebutuhan atau di luar jangkauan akal dan pemahaman.&lt;br /&gt;Sangat mengherankan ketika seorang da’i sibuk membicarakan urusan politik di tengah masyarakat awam, mengoceh urusan negara, perkembangan dunia internasional, perkembangan media masa, atau perkara-perkara lainnya yang masyarakat tidak memahami atau tidak mengambil faedah darinya, bahkan mungkin tidak membutuhkannya sama sekali. Sementara masalah pokok agama terkait dengan aqidah, ibadah, dan mu’amalah tidak disentuh.&lt;br /&gt;Subhanallah! Apa akibatnya? Tidak diragukan lagi, kaum muslimin tetap buta dalam agamanya, tidak mengerti tauhid, tidak bisa tata cara wudhu, tayammum, dan mandi wajib yang benar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seterusnya dari perkara agama yang wajib diketahui.&lt;br /&gt;Keberadaan mereka –ahli tanaththu’– hanyalah pembakar api fitnah di tengah umat ini. Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah nasihatnya yang sangat indah berkata:&lt;br /&gt;حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُرِيدُونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُولُهُ؟&lt;br /&gt;“Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka pahami. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan (karena kalian berbicara dengan apa yang tidak dipahami)?”16&lt;br /&gt;Termasuk tanaththu’ dalam berbicara adalah berkata tanpa ilmu, memaksakan diri (takalluf) membahas, atau menjawab perkara yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya. Juga bertanya-tanya dengan pertanyaan yang melampaui batas syariat, dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dan tidak pernah salaf umat ini menanyakannya.17&lt;br /&gt;Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullahu (373-449 H), menerangkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang berdalam-dalam serta melampaui batas dari batas yang diizinkan tidaklah muncul kecuali dari mereka, orang-orang yang suka bertanaththu’. Mereka membuat kebid’ahan-kebid’ahan dan membahas perkara yang tidak boleh dibahas. Mereka juga mendiskusikan apa yang ulama Islam dan salaf (pendahulu) umat ini tidak pernah membicarakannya.18&lt;br /&gt;Kedua: Tanaththu’ dalam mengambil dalil (istidlal). Gejala tanaththu’ jenis ini adalah mengabaikan atau meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai dalil.&lt;br /&gt;Ahlu kalam (filsafat/manthiq) dan yang sejenisnya menempuh jalan ini. Akal dan perasaan lebih mereka kedepankan. Yang dijadikan dalil justru kaidah-kaidah filsafat yang berasal dari filsafat Yunani. Bukan Al-Kitab dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;Sederet tokoh filsafat yang menjadi pijakan berpikir pun dipasang dalam kerangka otak-otak mereka yang berpenyakit, seperti Aristoteles, Plato, dan sejenisnya. Kata mereka: “Dalil-dalil sam’i (Al-Kitab dan As-Sunnah) tidak memberikan keyakinan, keyakinan itu hanya didapatkan pada dalil-dalil ‘aqli (akal/rasio).” Apa yang masuk akal itulah yang diyakini, adapun perkara yang menurut mereka tidak masuk akal meskipun dari Al-Kitab dan As-Sunnah secara otomatis tumbang di depan teori-teori filsafat yang mereka agungkan.&lt;br /&gt;Tidakkah mereka paham bahwa agama ini bukan dibangun di atas akal manusia? Ketahuilah bahwa agama ini dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, bukan akal dan perasaan! Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;لَو كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيتُ رَسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيهِ&lt;br /&gt;“Seandainya agama dibangun di atas akal tentulah bagian bawah dari khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas dua khufnya.”19&lt;br /&gt;Melalui ilmu kalam mereka binasa, hati membatu, pendengaran tersumbat, ayat-ayat Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai referensi sekunder. Itupun dalam pengawasan teori-teori manusia.&lt;br /&gt;Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh besar filsafat dan ilmu kalam? Semakin lama mereka menekuni filsafat justru makin jauh menuju kesesatan dan kebingungan. Bahkan mereka telah menyimpulkan bahwa ilmu kalam tidaklah menambah kecuali kebingungan dan jauhnya dari al-haq.&lt;br /&gt;Ketiga: Tanaththu’ dalam ibadah, yaitu seseorang melampaui batasan yang disyariatkan dalam ibadahnya baik dalam jenis, tata cara, ukuran, waktu atau tempat, atau batasan lain yang ditetapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari At-Tanaththu’&lt;br /&gt;Para sahabat bergegas mengamalkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga menjadi generasi terbaik. Mereka bergegas menempuh jalan pertengahan (wasath) dan meninggalkan segala bentuk tanaththu’. Manhaj tersebut tampak dalam sikap dan pengamalan, baik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sesudahnya. Sejarah pun mengukir kekokohan generasi ini dalam berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma murka dan berlepas diri ketika mendengar munculnya kaum yang mengingkari takdir. Beliau berkata:&lt;br /&gt;فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيئٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبدُ اللهِ ابْنُ عُمَرَ لَو أَنَّ لَأَحَدِهِمْ مثِْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ&lt;br /&gt;“Jika engkau berjumpa dengan mereka kabarkanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan–Nya, seandainya mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, mereka infakkan, Allah tidak akan menerimanya hingga mereka beriman dengan takdir.”20&lt;br /&gt;Adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau jumpai sekelompok manusia berkumpul di masjid dalam halaqah (lingkaran). Masing-masing mereka memegang kerikil-kerikil, sementara di tengah mereka duduk seorang mengatakan: “Bertasbihlah kalian seratus (kali)!”, “Bertahlillah seratus (kali)!”, “Bertakbirlah seratus (kali)!”. Dengan kerikil-kerikil itu mulailah mereka menghitung zikir (bersama-sama/berjamaah). Maka berdirilah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengingkari seraya berkata: “Apa yang kalian lakukan ini?” Mereka menjawab: “Wahai Abu ‘Abdurrahman (kunyah Ibnu Mas’ud, red.), kami menghitung takbir, tasbih, dan tahlil dengan kerikil-kerikil ini.”&lt;br /&gt;Berkatalah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin kebaikan kalian tidak disia-siakan sedikitpun. Wahai umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam betapa celakanya kalian. Betapa cepatnya kehancuran kalian. (Bukankah) sahabat Nabi kalian masih banyak dan pakaian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam belum lagi hancur. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah sesungguhnya yang kalian lakukan ini berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah kalian (memang) telah membuka pintu-pintu kesesatan!?” Mereka menjawab: “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman. Tidaklah yang kami inginkan melainkan kebaikan!” Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Betapa banyak orang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya.”21&lt;br /&gt;Allahu Akbar! Lihatlah pembaca rahimakumullah, kecemburuan sahabat saat melihat syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala disimpangkan dan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilampaui batasan-batasannya. Bahkan bila dipandang perlu atau memberikan maslahat, sahabat memberikan hukuman pada orang-orang yang bertanaththu’ dalam ucapan dan perbuatan, melampaui batas dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan. Sebagaimana dilakukan Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, kepada Shabigh At-Tamimi, karena ulahnya yang selalu bertanya-tanya dan berdalam-dalam pada perkara-perkara yang tidak boleh dibicarakan dan salaf tidak pernah membahasnya.&lt;br /&gt;Al-Imam Ad-Darimi dalam Sunan-nya meriwayatkan atsar dari gurunya Abu An-Nu’man –Muhammad bin Al-Fadhl–, dari Hammad bin Zaid, dari Yazid bin Hazim, dari Sulaiman bin Yasar, dia berkata: “Seorang bernama Shabigh datang ke Madinah. Dia (dikenal suka) banyak bertanya-tanya ayat-ayat mutasyabih (samar) dalam Al-Qur’an (menghendaki fitnah dengan pertanyaannya, -pen.). Dibawalah dia ke hadapan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang telah menyiapkan beberapa manggar dari pohon kurma. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa kamu?” Dia menjawab: “Saya hamba Allah, Shabigh.” Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu ambil manggar kemudian dipukullah Shabigh seraya berkata: “Aku hamba Allah, ‘Umar.” Beliau memukulnya hingga kepala Shabigh berdarah. Lalu dia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, cukup. Sungguh telah pergi apa yang dulu aku dapatkan di kepalaku.”22&lt;br /&gt;Demikian beberapa riwayat yang menunjukkan sikap sahabat dan kekokohan jalan mereka dalam menempuh kehidupan sesuai dengan jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memerangi segala bentuk tanaththu’ dan penyimpangan agama.&lt;br /&gt;Para sahabat, dengan segala kesungguhan berusaha menutup semua celah sikap tanaththu’, baik dengan lisan atau perbuatan. Mereka pun berpesan kepada umat ini agar selalu kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, mengajak umat memberikan perhatian pada ilmu syariat sebagai benteng dari sikap tanaththu’ serta segala bentuk ghuluw dan perkara yang diada-adakan.&lt;br /&gt;Dalam sebuah wasiatnya, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ وَقَبْضُهُ أَنْ يَذْهَبَ بِأَصْحَابِهِ، عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِي مَتَى نَفْتَقِرُ إِلَيْهِ أَوْ نَفْتَقِرُ مَا عِنْدَهُ، إِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ أَقْوَاماً يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ يَدْعُونَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ، وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيقِ&lt;br /&gt;“Tuntutlah ilmu (Al-Kitab dan As-Sunnah), sebelum dicabut. Dan tercabutnya ilmu adalah dengan diwafatkannya ulama. Tuntutlah selalu ilmu, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu kapan kita membutuhkannya atau kita butuhkan apa yang ada padanya. Sungguh kalian akan jumpai kaum yang banyak, mereka mengaku menyeru kalian kepada Al-Kitab, padahal ternyata mereka telah melempar (Al-Kitab) di belakang punggung-punggung mereka. Maka wajib atas kalian menuntut ilmu dan berpegang kepadanya, dan tinggalkanlah perkara yang diada-adakan (bid’ah) tinggalkan pula At-Tanaththu’, At-Ta’ammuq, dan berpegang teguhlah dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”23&lt;br /&gt;Nasihat yang indah. Duhai seandainya seluruh kaum muslimin memegang nasihat ini dan mengamalkannya, niscaya kejayaaan umat –yang telah dijanjikan– dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala segera terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Ahlu Hadits dari At-Tanaththu’&lt;br /&gt;Jejak sahabat dalam menempuh jalan pertengahan dan tekad bulat meninggalkan tanaththu’ diikuti generasi terbaik berikutnya dari kalangan tabi’in, atba’ut tabi’in, dan ahlu hadits Ahlus Sunnah wal Jama’ah.&lt;br /&gt;Al-Imam Malik rahimahullahu, adalah contoh dari salaful ummah yang demikian teguh menanamkan ittiba’ kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat, sekaligus sosok ulama yang tegas dalam memerangi tanaththu’. Suatu saat beliau membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى&lt;br /&gt;“Ar-Rahman di atas ‘Arsy beristiwa’.” (Thaha: 5)&lt;br /&gt;Seseorang bertanya: “Wahai Malik, bagaimana cara Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa’?”&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan seperti ini –yang tidak boleh untuk ditanyakan– menunduklah Al-Imam Malik. Merah padamlah mukanya, gemetarlah badannya, bercucuranlah keringatnya. Lalu beliau angkat kepala seraya mengucapkan kalimat yang sangat masyhur:&lt;br /&gt;الْاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْلُومٍ، وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ&lt;br /&gt;“Al-Istiwa tidaklah asing (maknanya)24, adapun bagaimana istiwa’-Nya tidak diketahui. Dan mengimani sifat ini wajib, adapun menanyakan tentang (bagaimananya) adalah bid’ah, dan aku tidak dapati engkau kecuali seorang yang sesat.”&lt;br /&gt;Kemudian Al-Imam Malik rahimahullahu memerintahkan agar mengeluarkan orang ini dari majelisnya.25&lt;br /&gt;Disebutkan dalam sebuah atsar, suatu saat Yazid bin Harun rahimahullahu –salah seorang ulama ahlul hadits–26 di majelisnya meriwayatkan hadits Isma’il bin Abi Khalid, dari Qais bin Abi Hazim, dari sahabat Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, tentang ru’yah (melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;إِنَّكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَى رَبِّكُمْ كَمَا تَنْظُرُونَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ&lt;br /&gt;“Sungguh kalian akan melihat Rabb kalia
